Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
79. Khilaf


__ADS_3

"Pikirkan, El. Jika iya, antar aku ke Jawa bertemu ibumu." Isshh...Manis sekali kudengar.


Ingat ucapan Zayn seperti itu padaku..Dan justru gelilah yang ku rasa di hati. Tapi mendengar Garrick bicara begitu, debaran jantungku melaju!


"Untuk apa bertemu ibuku?" Meski sudah ku tebak, ingin saja mendengar jawabnya. Suara berat empuk itu sangat menyenangkan ku rasa. Menggema di kamarku.


"Kita sama-sama tidak punya ayah, El. Kau anak gadis ibumu. Tentu saja aku akan izin pada ibumu untuk menikah denganmu. Setelah berjumpa dan dapat izin dari ibumu di Malang, kita bertemu ibuku di Semarang. Setelah itu, kembali ke Batam. Kudatangkan ibuku dan ibumu serta para kerabat ke Batam. Kita menikah di hotel Garju saja." Bos besarku telah berencana denganku sebegitu? Seperti teruja aku tuh... Garrick panjang lebar menjelaskan dengan suara cukup lembut. Seperti bukan si garang saja rasanya!


"Nampaknya buru-buru. Kenapa?" Terus saja kutanya.Aku ingin si garang terus berbicara. Mulut yang biasa dia guna untuk memerintah dan menghardik. Kini justru seperti merayuku!


"Om David yang mendesak. Dia ingin aku cepat menikah dengan putrinya. Itulah alasan jika aku jadi menikah dengan Anggun." Suara itu terhenti. Badan besarnya kembali bergerak, bergeser lagi sedikit maju mendekatku. Ku biarkan, jarak denganku masih ada.


"Jika denganmu. Aku memang buru-buru.. Jujur, aku seperti tak suka jika kau dilamar orang, El." Jadi, apa Garrick ingin menikahiku hanya karena penasaran..., seperti perasaan yang ingin menang dalam lomba?l

__ADS_1


"Hanya itu?" Sepertinya ingin ku akhiri saja obrolan dengannya. Tetiba aku tak semangat, tak tertarik lagi menanggapnya. Aku ingin bebas dari selimutku dan kembali tidur cantik.


"Banyak lagi, El. Tapi yang utama....." Ucapan itu menggantung. Si garang seperti berat mengucapnya.


" Terutama, aku tak ingin membuat dosa besar karenamu. Ku rasa, aku sudah sangat menyukaimu, El." Tetiba si garang mengangkat sebelah kaki lagi ke kasur. Tubuhnya menjulang tegak, bertumpu dua lutut.


Auuww..! Si garang menyelusupkan dua tangan sangat cepat ke bawah paha dan punggungku. Dia mengangkatku sangat mudah. Garrick melatakku di posisi awal di bantal. Jemariku yang semula ingin mencakar, hanya mencengkeram kuat di lengan bahunya. Aku tanpa daya.. terpatung kaku dalam rebah menatapnya.


Hanya ku rasa..kini Garrick tengah menarik tangannya sangat pelan. Telapak tangan besar itu sambil mengelus lembut kulit bawah pahaku juga punggungku yang halus dan mulus. Mungkin dress tidurku telah tersingkap, yang entah telah terbuka sebatas mana, aku tak tahu..Sadarku menolak, tapi raga ini berkhianat. Rasaku gemetar dan kian panas sebab elusan tangannya..Hingga telapak itu lolos dari himpitan tubuhku!


Auwhh....Bibir dan hidung Garrick yang hari itu mencium pipi kiriku, kini mencium pipiku lagi yang kanan.


Auww..!Tanpa sempat kutolak , Garrick telah menggeser bibirnya sangat cepat...lekat menempeli bibirku. Sesaat saling diam, serangan kejut listrik menyengatku..,serasa tak sadar sesaat..

__ADS_1


Nalarku kembali..Garrick merenggang bibir dan menjauhkan badan bersama tolak tanganku di dadanya.


Garangan itu berjingkat turun dan kini berdiri. Tegak mematung di sampingku. Kami hening dalam bisu. Hanya engah nafas dan detak jantungku yang melaju saja kudengar.


"Maaf, El. Aku tak berniat melakukannya." Garrick lirih berkata. Meski terdengar tenang, tapi suara itu sedikit parau.


"Pagi itu, katamu.., akulah yang salah. Apa kali ini juga salahku?" Inilah waktu yang tepat mencercanya. Sambil ku betulkan selimut menutup badan, kubersiap lagi menghardiknya. Dengan rasa was-was jika diulangi lagi menyentuhku.


"Kali ini ku akui, aku khilaf, El. Maafkan aku." Garrick menunduk ke arahku. Seperti sedang menyesali. Dari suara itu, ku rasa bukanlah kura-kura.


"Kau melecehkanku, mencabuliku. Aku bisa melaporkanmu sebagai pria brengsek!" Inilah kesempatanku menggertak sambalnya.


"Jangan begitu, El. Terpaksa ku bilang..tentang laporanmu, jika kau melaporkanku, aku bisa membereskannya. Jangan berfikir akan mengasusku. Tak ada guna itu, El." Duh, tak mempan! Aku juga paham.., tapi masak langsung kena skak mat begitu. Mati gaya aku!

__ADS_1


"Sudah, El. Lagipula kau tak menolak. Aku bisa saja berbuat lebih padamu,jika mau. Tapi itu memalukan."


"Mungkin aku pria brengsek bagimu.Tapi perlu kau tahu, El. Kaulah wanita yang pertama kusentuh. Kau wanita pertama yang kucium, selain ibuku." Duh, perkataan Garrick yang lembut itu, seperti tengah membuai telinga dan hatiku...Meski gaya bicara si garang tetap kaku..tapi tetap mampu membuat diriku terkaku-kaku.


__ADS_2