Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
52 Honor Plus


__ADS_3

"Pemikat berondong! Yang masih sekolah pun digaet!" Ucapan Anggun menyakitkan. Aku sudah bosan meladeni.


Karena tawa kami yang keras menghebohkan. Garrick mendekat tanpa suara menghardik, tentu sepaket dengan Anggun. Memang ini mengejutkan, tapi Garrick telah menyambar cepat buket bunga yang dikirim Zayn dari genggaman tanganku.


Garrick masih diam menyimak kartu ucapan di buket, tapi Anggun telah menyerapahiku begitu. Kenapa Anggun menyibuk mengurusiku...


"Ini tak ada artinya, El.. Zayn masih menempuh pendidikan." Garrick berkomentar lebih sopan dari Anggun. Meski sama-sama menekanku.


"Tak masalah tanpa arti, tuan. Bahkan tanpa kartu ucapan sekalipun. Bunga ini menghiburku." Ku ambil buket bunga dari tangan si garang, agak susah, terlalu kuat digenggamnya.. Namun dilepas juga karena terus kutarik.


"Sari, kau sudah makan belum?" Sari menggeleng segan dengan tanyaku sambil melirik pada si garang.


"Ku beri break timemu sekarang Sari!" Garrick berkata cepat dan memandangku sekilas, lalu kembali menuju sofa lobi, dengan pacar yang setia membuntuti.


"Sari, berapa waktu rehatmu?" Kami berjalan keluar melewati pintu lobi.


"Tiga puluh menit,El. Yuk kita ke Kantin!" Sari bergegas jalan menuju kantin, di luar sisi hotel. Sebenarnya bukan kantin, tapi resto mini.


Aku dan Sari berusaha cepat saat makan. Aku dengan nasi sate Padang, Sari dengan nasi sate Madura, kami saling bertukar tusuk mencicipi. Dengan dua gelas teh obeng minumannya.


"Sari, aku tak bawa baju ganti, temani ke Kanaya bisa? Waktumu masih sisa.." Teh obeng di gelas kami tinggal setengah, tak muat lagi dah.


"Siap, El.. Lambat pun, aku tak dimarah..Ada kamu. Boss terlalu baik samamu. Mana ada di sejarah, aku dikasih break out time..baru kali ini, El . Demi apa... demi nemenin kamu!" Sari berdiri dan menarikku, tetap takut juga kan dia terlambat...Ku ikuti Sari yang terus menarikku dangan suasana hatiku yang termangu. Garrick...benarkah ini karena kebaikanmu padaku?


*****


Garrick memberiku off day hari Rabu. Dengan alasan, pada hari itu dia sibuk dan mungkin juga tak kembali, jadi..Garrick tak terlalu membutuhkanku.


Dengan dress baru yang telah ku cuci dan sedikit riasan di muka, aku akan pergi pagi ini. Rumah baru Anang dan Ikelah tujuanku.


"El..!" Seruan Garrick mengagetkan. Ku lepas pintu di tangan, ku urung membukanya.


"Ada apa, boss? Saya libur, akan pergi keluar hari ini." Aku tak ingin Garrick mrnyuruhku melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Hanya teh hangat, El. Buatkan teh!" Inilah derita kacung rumahan, antara libur dan kerja macam susah dipisahkan.


"Saya libur, boss." Tas cantik dan sepatu cantik pun sudah ku sematkan.


"Buat saja, El..! Jangan membangkang!" Garrick duduk di sofa telah siap dengan baju kerjanya.


Saat meletak teh di meja, ku lirik kaki Garrick. Belum bersepatu, bahkan juga kaus kaki. Deg..alamat aku diperintah.


"Silahkan dinikmati, boss. Saya berangkat!" Gegas cepat melangkah kaki menuju pintu. Cemas jika namaku kembali diseru.


"El..! Ambilkan kaus kakiku, sepatuku!" Ya Tuhankuuuuuu...Sabaaarrrr...


Almari ini masih rapi, tidak berantakan, belum saatnya kurapikan. Segera ku ambil kaus kaki di tempat biasanya. Lalu kembali melesat sambil ku sambar sepatu menghadap Garrick. Ku serahkan dua benda itu di dekatnya.


"Pakaikan, El.. Jangan lamban, aku dah lambat!" Yah..yah..yah..Sabar..sabar lagi!


"Tapi kaus kakinya belum dipakai, boss!" Garrick selalu sudah bersarung kaki saat keluar dari kamar. Hanya sepatulah yang biasa ku sematkan.


"Ya pakaikan sekalianlah, El , apa susahnya?!" Jika tak susah kenapa juga tak pakai sendiri. Manja!


Tanpa jongkok sebab dongkol, kupakaikan saja dengan berdiri agak membungkuk. Tanganku tersentuh kulitnya banyak kali, ini adalah pekerjaan aneh pertama kaliku padanya. Jempol dan jari kaki yang panjang itu sesekali berjingkat, mungkin dia geli juga sepertiku. Hu..hu..hu..


Karena ingin cepat, jadi aku tak peduli. Terus saja ku pasangkan. Saat hampir selesai dengan sepatu, tak sengaja kulihat arah dadaku. Maak...! Reflek ku dongak si Garang. Mata itu memang sedang melihat juga ke dadaku. Garrick kelabakan saat ku tangkap basah di kedua mata liar tajamnya. Cepat ku tegak berdiri menjauh. Dimasukkan sendiri sepatu di kakinya. Ku betulkan potongan kerah baju di dadaku.


"Kau jadi libur tidak? Cepat, El..turunlah denganku!" Garrick tetap santai bicara padaku sambil berjalan keluar menuju pintu. Memang itu bukan total salahnya.


Tanpa hati kuhampiri wastafel, ku cuci tangan dengan merasa beku di tempat, menahan jutaan malu karena kelalaianku!


"El...Jangan lamban, El !" Seruan andalan Garrick mencairkanku. Ku putus air wastafel, segera ku buru pintu yang setengah ditutup. Garrick menungguku. Ekspresi wajahnya begitu santai dan biasa. Seolah tak ada sesuatu pun dari kelakuannya barusan yang membuatku menanggung rasa malu.


***


"Siapa yang akan kau temui,El ?" Garrick memecah keheningan di dalam lift. Ku berdiri menyandar dinding lift di sampingnya. Tak sanggup bertatapan mata dengan si garang jika berdiri berlawanan dengannya.

__ADS_1


"Ike, pacar Anang." Kujawab jujur pada tuanku.


"Bagaimana kalian akrab?" Garrick menolehku.


"Zayn yang membuat kami sering bertemu.." Ya..Zayn...Bocah sableng...Kau sedang apa di sana, Zayn?


"Oh..Zayn.." Garrick hanya bergumam lirih, tapi tetap saja ku dengar.


Ting!


Kami keluar lift beriringan. Aku akan keluar hotel melewati pintu di lobi.Ternyata Garrick pun sama juga denganku. Taksi yang ku pesan di online telah nampak menungguku. Ku hafal dari plat seri yang terkirim di foto.


"El..." Ku henti langkahku. Garrick berdiri dekat denganku.


"Ya..." Ku tunggu maksud Garrick.


"Cek akunmu. Ada kompensasi dariku. Relakan amal baikmu pagi ini. Ikhlaskan kerjamu padaku." Garrick berkata lembut dan hangat di dekatku. Tapi matanya kembali menyambar sekilas ke dadaku. Benar-benar aku terpaku kaku di tempatku.


"El..! Selain honor plus-plusmu pagi ini, itu juga dengan honor privatmu pada Daehan!" Garrick berkata lagi sebelum berbalik pergi menuju mobilnya. Kali ini bukan Anang yang menyupiri. Karena Anang sedang cuti. Sama sepertiku, mendapat libur hari Rabu. Dengan degupan dada tak tertahan, ku juga jalan menuju taksi yang ku pesan.


******


Aku tengah berbincang dengan Anang dan Ike di rumah barunya. Perumahan Taman Kurnia Djaya Alam,Batam Center. Rumah baru mungil yang cantik. Dan dibeli dengan angsuran dan kredit. Model beginilah yang ku suka, bersih dan rapi. Mungkin juga karena baru ditempati, atau juga Anang dan Ike belum beli banyak barang.


"Jadi, kau ingin bikin cafe, El..?" Anang juga antusias sepertiku, mungkin dia tertarik, itu yang ku mau.


"Iya, Nang. Carikan yang angsur kredit saja. Jika kau kerja, Ike bisa menjaga sendiri sementara. Akan ku ambil beberapa pekerja bersama kalian." Kuterangkan, berharap agar Anang dan Ike semakin mampu bersemamgat.


Aku ingin dicarikan Anang sebuah tempat strategis di Mega Mall, Batam Center. Akan ku jadikan cafe mini yang nyaman, betah dikunjungi. Ike lah yang ku harap mau menjaganya. Dan aku sendirilah pengelolanya. Ku percaya saja pada kedua pasangan calon pengantin itu. Mereka akan akad nikah minggu depan.


Perbincanganku dengan Anang dan Ike berakhir. Anang berjanji akan segera menghubungiku. Serta membawa kabar terbaik secepatnya.


Taksi ini menuju Nagoya, aku akan mendatangi tempat Irgi. Mulanya ingin bincang saja lewat ponsel, tapi Irgi histeris dan menyuruhku datang langsung. Ada hal penting dan urgent Irgi bilang.

__ADS_1


Taksi yang membawaku ke Nagoya, sama dengan yang mengantarku ke rumah Ike dan Anang.


Sang sopir bersedia menjemputku lagi di rumah Anang, dia bilang sedang zonk penumpang. Nama sopir itu Fahri, uda Fahri, dari kota Padang, Sumatera Barat. Orangnya baik, sopan dan tampan, berkulit sawo matang. Uda Fahri masih bujang, mapan dan matang, berumur tiga puluh enaman tahun. Uda Fahri model lelaki cukup supel namun juga sopan, jadi kami cepat akrab seperti teman lama!


__ADS_2