
"Zayn, sudah hampir tengah malam. Biarlah dia pergi ke kamarnya. Tidak baik perempuan bergadang. Kau juga tidurlah, Zayn. Apa kau tidak penat?" Ucapan Garrick terkesan memutus perbincangan Zayn padaku.
"El.., kau dengar perkataanku kan? Pikirkanlah, El.." Zayn tak merespon arahan si garang. Tetap duduk menyandar santai dengan hanya memandangku.
"Terimakasih atas perhatianmu padaku, Zayn. Akan kupikirkan saranmu." Kupandang Zayn dengan seksama, lelaki muda itu tersenyum dan mengangguk. Aku tak ingin menghampakan maksud baiknya padaku.
Gegas kukemas meja dan seluruh sisa makanan yang ada. Semua alat makan telah kubersih bereskan. Aku ingin ke kamarku dan istirahat. Tak ingin juga mengabaikan arahan si garang.
"Boss Garrick, Zayn.., aku akan istirahat ke kamarku. Terimakasih makan malamnya. Permisi.. " Bergegas kuarah langkah ke kamarku.
"El..!" Seruan Zayn kembali menyeruku. Kubalik badanku menyimaknya.
__ADS_1
"Kunci saja pintu kamarmu, El ! Sedang ada dua buaya di dekatmu! " Deg.. Bicara Zayn sungguh seperti sindiran. Apa Zayn memang sudah mengerti tentang aku dan Garrick..? Tapi bicaranya memang asal semprot suka-suka..! Laju kumasuk kamar tanpa kupandang lagi keduanya.
Kupikir ucapan Zayn ngeri juga. Jika kedua abang beradik itu tetiba jadi buaya berdua... Lalu aku bagaimana, kuatkah melawan dua buaya yang sedang kerasukan itu hanya dengan tangan kosong? Kutepis bayang konyol itu dan kukunci rapat pintu kamar. Kuyakinkan bahwa Garrick tak akan mengulang masuk paksa seperti yang dibuatnya malam itu.
Kamarku telah rapi dan harum saat awal tadi aku masuk. Mungkin petugas hotel Garjulah yang mengemasnya. Aduh.. senang sekali kerjaku! Sebenarnya apa sekarang fungsiku? Nasihat Zayn memang benar, jika aku terus di sini, aku tak ubahnya sebagai benalu dan ganggang. Sedang aku telah rela, lalu untuk apa kubertahan? Ah, lelah jiwa ragaku, sejenak tak ingin kupusingkan masalahku.. Aku ingin lelap saja ke lembah mimpi tidurku...
****
Sore habis ashar ini, aku telah siap dengan rapi menunggu kedatangan Garrick dari pulang kerjanya. Pagi tadi, bossku itu bilang jika ingin ditemani olehku untuk fittting baju pengantin di Kanaya lantai dua.
Kesetujuanku menemani si garang mencoba baju pengantin ini bukan tanpa alasan. Garrick dan Zayn sempat adu mulut sebelum masing-masing pergi pagi tadi. Kedua abang adik itu berebut ingin mengajak sertaku menemani mereka.
__ADS_1
Garrick ingin kutemani ke daerah pulau Penyengat untuk rapat, sedang Zayn ingin mengajakku ke pulau Buluh demi progam menyuluh. Kutolak keinginan keduanya, bukan hanya karena tak jelas statusku..,tapi juga tak ingin mereka semakin lanjut perang dingin. Sebab Garrick bossku sajalah kumenangkan dengan sepakatku sore ini. Kuabaikan hatiku yang mungkin akan sakit saat melihat sejoli nanti memadu baju.
Tak ingin terjebak kesempatan..,ya, berdua hanya dengan si garang itu sangatlah membahayakan. Aku tak ingin terseret nafsu karena kobaran rindu dan rasa suka memabukkan. Jadi, menunggunya di lobi sajalah pilihan tepatku.
Ting..!
Deg...Garrick kulihat berdiri tegak menunggu bersamaan pintu lift yang terbelah. Kami saling pandang. Mungkin si garang pun tak menyangka akan adanya aku di dalam lift. Kejut wajahnya sangat nampak terlihat saat dilihatnya aku di depannya.
"Boss, kutunggu di lobi ya. Fitting bajumu jadi tidak? " Kusapa di garang dengan suara yang ku coba biasa saja. Garrick masih tertegun memandangku.
"Temani aku ke atas dulu, El.. " Sudah ku duga, si garang keberatan kutinggalkan.
__ADS_1
"Aku sambil ingin berjumpa Sari, tolong sendirilah ke atas, kutunggu saja di sini.. " Gegas kukeluar saat Garrick juga tengah melangkah masuk ke dalam lift.
Hanya kedua tangan kamilah yang sempat bergesekan karena Garrick sangat memepetku. Desir darahku mengalir deras hanya karena seperti itu. Sah.. aku tak bisa terlalu berdekatan dengannya.. Aku harus terus berusaha menjaga jarak darinya..