
Subuh pagi buta, setelah mandi air hangat dengan rambut basah kuyub,aku dan Garrick bershalat subuh bersama. Garrick sedikit kecewa padaku. Pesan pintanya sebelum tidur, beberapa jam lalu untuk mandi bersama kuabaikan. Saat kubangun, suamiku terlalu pulas dalam tidur. Sedang aku, tentu saja keberatan dan malu. Sebenarnya ingin dan mau,tapi rasa tak siap menghasutku...
Saat kubangunkan, sempat juga jadi drama. Garrick menarikku ke kamar mandi, untuk mengulangi mandi lagi. Sesaat adegan tarik-menarik terjadi. Tapi setelah akhirnya aku rela dan akur, siap bersama mandi lagi. Garrick justru menolakku dan mengeluarkanku dari dalam kamar mandi.
πππΌππ
"Menepilah sebentar, akan kulepas spreinya..!" Garrick menarikku tidur lagi. Padahal noda merah milikku, akibat perbuatan jendralnya padaku semalam cukup lebar menoda di sprei putih itu.
"Biarkan. Abaikan saja, El.." Garrick dengan santai meniduri seprei yang bernoda .
"Hanya sebentar..Tidurlah di sofa..." Kubelai rahang kasarnya. Suamiku mungkin habis cukur sebelum nikahan denganku.
"Tidak mau, El..." Garrick memelukku.
"Garriiiick....Garjuuuuu.." Kuseru lembut suamiku tepat di lehernya. Tetiba Garju menangkap tanganku.
"Kau tidak sopan, El. Bukankah ibumu sudah memesanmu untuk bersopan denganku? Panggilanmu padaku itu... Jangan hanya nama saja.." Garrick semakin memepetku dan tanganku terus digenggamnya.
"Maafkan aku.. Sadar itu tak betul..Tapi susah, rasanya sudah sangat terbiasa...." Duh,maak! Keceplosaaann....
"Terbiasa...? Apa maksudmu, El..? Jangan-jangan, kau sering mengumpatku di hatimu..?" Aih..Alamak!
"Aku tidak pernah mengumpatmu. Kamu tidak pernah mendengar aku mengumpatmu kan?" Suaraku mungkin sedikit menggetar sekarang. Bagaimana pun ada rasa bersalah yang kurasa.
"Aku tahu kau sedang bohong. Jangan coba tak jujur padaku. Kalau tak jujur, ayo kita tidur panas lagi sekarang.." Auh..Garrick memegangi tengkukku. Geliii...
"Iyaaa... Aku minta maaf. Selalu menyebut namamu saja di hati. Aku sering geram.. Sebab, kamu garang... sering meremehkanku.. merendahkanku..sesukamu.. sering melecehkanku...dan me..." Auwwh.. Bibirku tetiba disambar habis oleh Garrick Julian suamiku!
"Apa lagi.. Ayo sebut lagi yang banyak.. Keluarkan semua kegeramanmu yang pernah ada padaku, sekarang..El.." Suara lembutnya seperti penyihir, tangannya sedang mengelus lembut kepalaku.
"Sebab.., kamu menyakitiku..., mengecewakanku...,sering membuatku rindu.. Maka hal yang paling baik adalah menyebutmu dan mungkin itu sama dengan mengumpatmu.. Maafkan aku....." Kali ini, akulah yang menyungsep memeluknya.
Udara pagi ini mungkin lebih dingin menggigit di luar sana. Tapi karena berpeluk dengan Garrick, aku sedang sangat kehangatan sekarang. Sebab kota Batu terletak di dataran tinggi dan perbukitan. Sedang Kacuk, terletak di tengah hiruk pikuk kota Malang. Tapi..Di Kacuk juga sangat dingin, dan...sekarang terasa jauh lebih dingin lagi di Batu!
"El..Aku paham perasaanmu waktu itu. Aku sangat semena-mena padamu. Aku tak sadar telah menyakitimu.. Elsi,jodohku.. Maafkan aku..." Ah, hangatnyaa.... Kami kian saling berpelukan.
"Sekarang kita sudah saling bermaafan. Ayolah, panggil suamimu ini dengan sebutan barumu.." Pelukan kami telah saling merenggang. Garrick memandangku. Kami berpandangan saling senyum.
"Lalu..Dirimu ingin kusebut apa suamiku..? Tuan Garrickkk... atau boss Garjuuu..?" Aku tersenyum..sebenarnya ingin tertawa. Saat ini, wajah Garrick yang tadi tersenyum, kini seperti bocah ganteng yang sedang marah dan merajuk. Wajah itu mengeras menatapku.
"Ayolah kita bercinta saja, El.." Maaak!Oh... mengejutkan... Aku masih tak ingiiin..Garrick meng-eratkan kembali dekapannya.
"Husbaaand..husbandkuuu..? Hubbyyy...hubbyku..? Maaasss...mass Garrick? Baaaang....bang Garrick..? Yang manaaaa....?" Aku berhenti menanya. Duh,tampan sekali saat suamiku tersenyum seperti itu.... Klepek-klepek aku tuuuuh...
"Terserahmu my wife.... Kau wifi El. Wifiku..." Oh..apa...jadi dia akan memanggilku wifi indehoy.. eh, wifi indihome maksudku... Hu..hu..hu...
__ADS_1
"Hubbyku...Hubbi Rick..." Auh..Bibirku tiba-tiba habis dicaploknya...
"Iya...aku suka apapun panggilanmu. Tapi, ayo kita tetap bercinta, wifi El....." Lhoh..maak!Apaan?!
Aughh... Meski tak siap.. Tapi aku relakan.. Kupasrah pada inginnya.. Garrick mengulang lagi aksi tidur panasnya bersamaku seperti semalam. Sang jenderalnya telah pulih sempurna dan terlihat begitu sombongnya. Rebah lunglai dan ambruk tersungkur-sungkur semalam tadi, seperti alibi dan hanyalah kura-kura. Sang jenderal kini sangat gagah tegak lagi, bahkan lebih handal dan jauh lebih beringas saat terjun bebas di medan pertempuran. Serta mengoyak sisa-sisa mahkotaku hingga habis *****, tanpa ampun...tanpa bekas..
ππππ»πππ
π’π’π’π’π’π’π’
"Apa, wifi El..?" Garrick dan aku sama-sam saling berpandangan tiba-tiba sambil tersenyum. Kami sedang breakfast di meja makan di rumah rooftop.
"Kamu sendiri apa.., hubbi Rick?" Kami terus saja senyum-senyum. Sambil tangan kami memegang ponsel masing-masing.
Garrick mengulur ponsel padaku. Kuterima dan sebuah pesan masuk kubaca.
*Garrick, Mama terpaksa menuruti keinginan Daehan dan Zayn untuk menginap di rumah besan. Zayn meninggalkan mama di rumah besan. Zayn dan Daehan baru pulang dini hari, mereka membantu mencari Heellen yang tidak pulang.* Mama Mutia
Garrick juga telah mengambil ponselku. Dia terlihat senyum simpul membaca pesan di ponselku yang ternyata telah dikirim oleh Heellen sejak subuh tadi...
*Mbak, aku sangat klepek-klepek dengan adik suamimu yang tidak jelek itu. Semalam, aku copy darat sama pacar baruku di facebook.. Tapi ternyata jahat mbak.. Aku ditarik-tarik mau dimasukin mobil. Mau dibawa ke hotel, mbaaak... Lah, mbaaaak.. Belum sempat kulawan, babang Zayn tiba-tiba datang menyelamatkankuu...Aku dibawa jalan-jalan, lalu diantar pulang.. Tambah seru lagi, babang Zayn tidur di rumah kita..Mbaaaaak...* Heellen Andina
Aku dan Garrick kembali saling pandang penuh senyum.
"Memang dia begitu.. Budhe Sri sampai stress terkadang. Tapi Heellen bisa jaga diri kurasa. Dia juara karate se-Blitar. Jika Heellen mau, mungkin bahkan bisa ke tingkat nasional.. Tapi bocil itu tidak minat.." Memang begitulah cerita pakdhe padaku sore tadi.
Aku dan Garrick melanjutkan makan kami dalam diam. Larut dalam pikiran masing-masing yang mungkin berlainan.
πππππΌ
Kepulangan mama mertua, Zayn dan Daehan tidak jadi pagi tadi. Tapi siang ini dan mereka kini sedang siap-siap berpamitan.
Setelah istirahat dan berkemas-kemas sejenak.. Mereka kemudian sedang benar-benar bersalam pisah pada kami di lobi.
"Sampai jumpa, kak.. Jaga abangku baik-baik. Cepatlah kalian mempunyai banyak bayi." Maak..! Daehaaan..Dia pikir itu main-main..
"Siap Daehaaan...Kumohon doamu. Rajinlah belajar. Patuh pada ibumu, yaaa.." Kupeluk cium Daehan. Kata Garrick, Daehan belum juga minta khitan..
"Elsi...Jaga kesehatan.. Sabar ya.. Kalian harus selalu bahagia. Cepat dapat momongan. Jangan pernah putus kabar dengan kami.."
"Iya mama...Terimakasih doanya.. Jaga kesehatan juga ya.. Kami pasti akan sering video call.." Aku dan ibu mertuaku berpelukan sangat haru. Rasanya sesak...
"El..." Zayn telah berdiri di depanku. Aku mengangguk.
"Jangan lupa, kau harus selalu bahagia. Jika sedang tidak gembira, kau juga harus menghubungiku.." Eits.. Saat aku menghindar, tangan Garrick dengan sigap juga menahan mundur bahu Zayn...Bocah itu seperti akan memelukku. Duh, sableng bocah ini tak pernah gentar dan luntur dimakan peristiwa apapun. Salut !
__ADS_1
"Zayn..." Garrick menegur lirih pada Zayn. Zayn pun hanya kura-kura merapikan rambut lebat lurusnya yang hitam.
"Zayyyynn... Jaga sikapmuuu...! Cepatt..ayoo!! Nanti kita terlambat ke Juanda! Aku tak mau mundur lagi gara-gara kamu terus, Zayn! Mama ada janji arisan malam ini !" Mama Mutia mengomel sambil menyeret koper kecil menuju mobil yang menunggu.
Zayn dengan gontai, nampak lesu membawa ransel hitamnya. Tanpa menoleh pada kami lagi, berjalan pelan menyusul sang ibu.
Daehan baru melepas peluk cium dari abangnya. Dan kini juga berjalan pelan sambil sesekali menoleh melambai tangan padaku dan Garrick.
Dengan terus saling melambai tangan, mobil perlahan lenyap dari pandangan. Kulirik Garrick di sampingku yang terlihat merenung.. Ah, kasihan kamu suamiku.. Kutepuk puk puk punggungnya.
"Hubbi Rick... Kamu pun jangan sedih. Ada aku kan..?!" Garrick menoleh.. Mengangguk..lalu tersenyum..,manis.. Tapi senyum yang lalu berubah jadi aneh ..
"El.. Ayo pulang ke atas...Kita laksanakan perintah Daehan barusan.." Garrick telah menarik tanganku dan berjalan cepat melewati lobi. Akur kuikuti sambil kuingat-ingat semua kata-kata Daehan. Duh, maak!
"Hubbi Rick... Aku keberatan...Ayolah kita keluar saja jalan-jalan..!" Aku mencoba menawarnya.. Jujur, rasanya jalan ini masih sedikit ngawang gemetaran.. Jika perang lagi, bisa-bisa aku akan pingsan!
"Oke..wiffi El.. Kita jalan-jalan sambil pesan tiket. Kita harus segera kunjungi ibuku di Semarang. Mungkin lusa..!" Garrick menyahutiku sambil terus berjalan menarikku. Pergi ke Semarang? Bermakna aku akan berjumpa dengan sang ibu mertua sekali lagi... Oh, harap-harap ibu mertuaku yang asli nanti..., sama jinaknya dengan ibu tiri Mutia...!
...π¦π¦π¦π¦π¦πππππ...
Garrick telah booking langsung sendiri ke salah satu agent tiket pesawat, di kota Batu. Asisten Ton sedang pulang kampung habis nikahan semalam berbarengan keluarga mas Armand ke Semarang juga. Mereka mudik sebentar sebelum benar-benar bekerja produktif kembali di ElGar's Hotel-Batu City.
Sehabis booking tiket, kami melanjutkan perjalanan menuju daerah Bumiaji, kota Batu. Pemandian air panas Cangar beserta goa Jepangnyalah yang menjadi tujuan utama kami. Cangar terletak di dataran tinggi dan perbukitan Bumiaji, kota Batu
Di perjalanan, Garrick mengajak singgah di wisata petik apel dan jeruk di Bumiaji. Ah,sangat menyenangkan bisa melakukan hal ini lagi... Dengan Garrick..Suamikuu...
"Kenapa ibuk tidak mau ikut kita ke Semarang, wifi El..?" Garrick begitu sibuk dengan kunyahan apel hijau di mulutnya, apel hijau besar mengkilat yang menggoda.
"Orderan ibuku sudah terlanjur melimpah ruah.. Sudah dijanjikan harinya masing-masing.. Sorry ya hubbi Rick...Lain kali mungkin bisa ikut... Salam saja untuk besan di Semarang katanya.." Garrick manggut-manggut dengan mata coklat yang menerawang jauh ke depan. Memperhatikan hamparan hijau subur daun wortel, tebal seperti lembah permadani yang menghijau..
Sedang ibuku memang sudah terlanjur menerima banyak orderan yang mengantri. Dan hari kepergian ke Semarang yang telah dipilih Garrick, cukup mendadak baginya. Jadi, terpaksa ditolaknya keinginan kami untuk mengajak sertanya ke Semarang.
πππππ
πΌπΌπΌπΌπΌ
πππππ
π’π’π’π’π’
πππππ
πππππ
π’ Dear readers, jika ada saran.. hal janggal... masalah cerita yang belum kelar..Tokoh yang ingin dibahaskan...harap bantu koreksinya.. Tuliskan saja di komentar ya.. Terimakasih dukungannya..π’
__ADS_1