
π’π’π’π’π’π’π’π’ππππππππ Dearest readers... Pembaca tersayangku meski jumlahnya tak seberapa..mudah2n ceritaku ini mampu menghiburmu yaaa.... Sedikit membuatmu tersenyum,,,dan itu akan membawa berkah tersendiri untukku..
Tapi juga tolong bantu aku sediiikiiit saja... Agar otor kelas bilis ini bisa naik sedikiiit lagii, agar karya2ku bisa terbaca lebih banyak readers lagiii,,
Terimakasih banget datangmuuu... singgahmu...
Mohon kasih bintang 5 yaaaaa............... Mohon kasih vote yaaaaaaaaaa............ Mohon kasih apapun hadiah yaaaaaa.... Dan paling penting, paling kuharap, paling kutunggu, sangat menyemangatiku adalah komentarmuuuu... Tinggalkan banyak2 tulisan jejakmu di sini yaaaa...
Aku padamu !!!! π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’ππππππππππππππππππ
πππΊπΊπΊπΌπΌπ·π·ββ
Jas hitam kusut keriput telah ku letak di atas tempat tidur yang berantakan tak teratur. Lupa ku rapikan saat akan berangkat ke pesta ulang tahun Anthony Lung. Segera ku rapikan sebelum pemilik bilik masuk dan mengamuk.
Garrick datang tepat setelah tempat tidurnya kembali licin dan nyaman. Ku raih jas keriput itu untuk ku cuci bersama pakaian kotornya yang lain.
Sreet..! Jas kusut di pegangan tanganku di tarik tiba-tiba oleh Garrick sangat kasar. Badanku hampir jatuh menubruknya. Beruntung sebelah tanganku sigap bertumpu di dadanya. Garrick sama sekali tidak menolongku, hanya matanya sangat sibuk menatap garang padaku.
Ku tegakkan diriku dengan menumpa tangan di badannya. Dada Garrick terasa sangat keras meski nampak tebal dan lebar. Garrick hanya diam tidak menghardikku.
"Jas ini mau ku cuci." Jass yang ditarik belum juga ku lepas. Jas kusut itu tak mungkin dipakai lagi olehnya. Ku tarik pelan, tapi erat dicengkeramnya.
"Tak perlu, akan ku gunakan!" Garrick menghentak jasnya yang cepat kulepaskan. Adegan film tadi, tak ingin ku ulang dua kali.
"Cuci saja yang ini!" Garrick berseru sambil melepas dasi panjang dari lehernya dengan santai.
Tangan Garrick terus bergerak membuka kancing kemeja yang dipakainya lambat-lambat. Kancing-kancing itu mulai terpisah satu-persatu dari lubangnya. Sadar maksud Garrick, ku putur badanku berbalik memunggungi, melengkah maju untuk menunggu di luar.
"El...!! Ambilkan handukku!" Wuss..wuss..wuss..Bersamaan kudengar suara beratnya, kemeja putih, singlet putih serta dasi panjang abu-abu, telah melayang jatuh di depan kakiku, mengenai lengan tanganku.
"Di sofa!!" Handuk yang biasa ku gantung di jendela menghadap ke laut lepas, memang tak ada. Ku ambil handuk yang teronggok lembab di sofa, aku belum sempat mengemas kamar ini pagi tadi.
Dengan menyamarkan pandangan, ku ulurkan asal handuk itu tanpa menolehnya. Ku hampiri baju di lantai untuk ku pungut dan ku cuci.
"Sekalian!" Garrick telah berdiri menjulang di depanku, sekilas nampak kaki panjangnya yang berbulu. Ku ambil celana panjang beserta sepotong underwear yang dijatuhkannya di dekatku. Aku benar-benar tak ingin bercakap apapun dengan Garrick saat ini. Ku keluar kamar melewati samping Garrick tanpa melirikknya, aku harus ekstra jaga diri.
__ADS_1
"El.!" Degh..Langkahku sangat cepat, tapi masih terdengar juga panggilannya. Apa lagi?!
"Buatkan kopi! Dua gelas!" Ku bersyukur dengan perintahnya. Kerja di luar kamarnya jadi favoritku saat ini.
"El...!!!" Suara Garrick berseru lebih tinggi. Dia mungkin sedang geram karena aku terus diam.
"Iya..boss, siap!!!" Aku berteriak sangat nyaring, berharap Garrick lebih bertenang mendengar jawabku kali ini.
*****
Irgi datang ke kabin, tengah bercakap berdua dengan Garrick. Dua cangkir kopi yang ku buat, dipesan Garrick untuknya sendiri dan secangkir lagi untuk Irgi.
"Elsi..sini..duduklah." Irgi menegurku agar ikut duduk bersama di sofa sebelahnya.
"Nantilah, Gi.Aku ada kerja." Aku berkata pelan pada Irgi. Tak mungkin aku kepedean ikut duduk nimbrung. Garrick pasti akan menendangku. Hiiiiih..aku mengedikkan bahuku, ngeri.
"Kau, duduklah!" Aku tak jadi pergi, Garrick menunjukku dengan dagunya. Huh, lama-lama akan tumbuh jari di dagunya.Ha..ha..ha..
Tawa di hati kuputus cepat-cepat, Garrick memandang tajam padaku. Mungkin benar, Garrick punya ilmu tembus batin. Bahaya ! Hatiku yang mengembang tawa jadi berkerut, serupa kerutan jeruk purut!
"Ngomongin apa, Gi?" Aku berbisik lirih di dekat Irgi. Garrick nampak sibuk dan fokus menulis di notebook canggihnya.
"Pendapatan kita!" Irgi tersenyum memandangku.
"Berapa?" Aku jadi penasaran bersemangat.
"Kita hitung bersama, tapi punyamu paling banyak." Irgi tetap menjawab dengan senyum hangatnya.
"Benarkah? Mudah sekali mendapat uang, Gi." Ada bersit sesal, dulu sering ku tolak ajakan teman untuk coba magang biduan.
"Selain mudah, rasanya gembira. Aku punya kafe di Nagoya, jika luang, kau bisa bernyanyi di sana." Irgi memberiku tawaran dengan nada seriusnya.
"Hah..! Benarkah, Gi. Kapan aku bisa ke kafemu ya, Gi?" Aku jadi kepo dengan suasana kafe Irgi.
"Apa kalian sedang pacaran?" Garrick tiba-tiba mendongak, dan bertanya datar memandang Irgi dan aku bergantian.
__ADS_1
"Ingin sih, bang! Tapi aku dah duluan punya pacar. Elsi mana sudi diduakan, jadi daun muda! Ha..ha..ha.." Irgi berkata begitu santai diiringi tawa renyahnya. Aku pun jadi tertawa, kesempatan bergembira. Sebelum kembali di suasana tegang berdua bersama Garrick yang garang!
"Tapi kalo jodoh siapa juga yang nolak... Doakan aku lah, bang!" Irgi menyambung kelakarnya sambil menatapku. Aku kembali tertawa, tapi Irgi diam saja. Ah, Garing! Ku katup rapat bibirku, merasa agak malu dan kecewa di dada.
"Pikir benar-benar, Gi ! Gaya pacaranmu tak sesuai dengannya. Dia alergi lelaki, kau tak kan dapat untung apapun darinya!" Garrick tiba-tiba berpetuah untuk Irgi. Ngeek...inti petuah membuat bengek rasanya. Dia menggunjingku di depan mata dan telingaku!
"Daripada suamiku nanti yang rugi, mending orang lain tak dapat untung dariku!" Entah, kenapa Garrick suka memancing marahku.
"Bang Garrick, gaya pacaranku memang parah. Tapi yang di bilang Elsi itu betul. Bang Garrick jangan membicarakannya lagi di depan orang." Irgi menatapku dengan senyuman, Irgi membelaku. Ah, Irgi..meski kau ada pacar,aku tetaplah padamu. Beruntungnya pacarmu! Hu..hu..hu..
"Oke, Gi. Kita tutup obrolan tak guna ini." Garrick memindah notebook dari pahanya ke meja.
"Irgi, hitung yang jelas, berapa saja yang kalian dapat!" Garrick menatap Irgi serius.
"Untuk kami yang pegang musik tiga puluh juta. Lima lagu kami.....Kau kasih berapa, bang?" Garrick dan Irgi sedang bicara serius. Aku hanya mendoakan Irgi yang sedang berjuang untuk hakku dan teman-teman.
"Tiga puluh juga." Garrick menyahut sambil tangannya gesit mengetik angka.
"Wah... banyak juga. Terimakasih, sering-sering saja, bang!" Irgi tersenyum, memandangku dengan mengedip mata sebelahnya padaku. Ku balas dengan acungan jempol untuknya.
"Apa lagi?" Garrick melihat datar padaku.
"Lagu bonus rikuwes Anthony Lung, bang. Sepuluh juta!" Irgi bersemangat memambah bilangannya.
"Jadi total, tujuh puluh juta. Berapa yang harus ku transfer ke akunmu, Gi? Sendirikan saja miliknya. Aku yang akan mentransfernya." Garrick kembali menunjukku dengan dagunya. Aha..kali ini tak masalah, Garrick sedang membagikan uangnya! Dan sebentar lagi akan jadi uang halal milikku.
"Separuh bang!" Garrick sangat cepat menggerakkan jarinya pada papan notebooknya.
"Done, Gi !" Irgi segera membuka ponselnya.
"Dah masuk, bang. Tapi lebih, bang..?" Irgi nampak bingung.
"Bonus." Garrick menjawab singkat. Apa aku juga akan berbonus? Harusnya sama dapat!
Bukankah aku juga sempat bermain peran bersama Anthony Lung. Bukankah karena skenario itu, acara semakin lebih meriah? Jika nutrijel bahagia, bukankah kapal pesiarnya akan menoreh kenangan indah di hati para pelancongnya? Dan itu peluang bagi Garrick untuk mendapat pelanggan pelancong di kapal pesiarnya?
__ADS_1
Begitu bersemangat ku pikirkan berapa besar bonus yang akan ku dapat. Bukankah di dalam dompet yang tebal tersimpan jiwa yang tenang?! Tera tang tang...tera tang tang.. -maaf-