
Anggun yang telah redup tanpa sinar kecuali bibir merah darah menyalanya, perlahan menghampiri kursi dan duduk menghempas di sana. Kembali nekat memandang bersemangat padaku sambil duduk.
"Anggun, kamu tidak ingin membenahi baju calon suamimu?" Seorang wanita berumur tapi terlihat fit dan enerjik tetiba telah berdiri dekat di samping calon pengantin lelaki. Dan ada pak David juga di belakangnya. Wanita itu tersenyum hangat padaku. Dialah Kanaya Linha, pemilik butik ini.
Anggun mengangguk kecil dan nampak berat berdiri. Berjalan pelan dengan bibir yang digigit sedikit. Calon pengantin perempuan itu seperti tengah menahan derita rasa sakit raga yang sangat. Mendekati Garrick yang begitu gagah dengan baju pengantin yang lekat di badan tegapnya.
"Anggun..Kenapa, kau tak sehat lagi?" Pak David memang sungguh perhatian pada putrinya. Chow Yun Fat kawe itu menghampiri Anggun dengan sigap. Oh, Anggun.. bahagianya kamu...
"Tidak, pa..Aku tidak apa-apa." Anggun mengabaikan tanya ayahnya. Tetap berjalan menghampiri sang calon suami. Kini Anggun telah berdiri di depan Garrick sangat dekat.
"Kak, sini kurapikan. Kau sangat gagah dengan baju ini, kak..." Suara Anggun sangat manja, jemari runcingnya telah menyentuh baju badan Garrick dimana-mana. Garrick diam saja, tapi matanya memandang sayu padaku. Kami saling pandang dalam diam. Oh, sakitnyaaaaa.!!
"Sudah rapi, kaak..." Meski nadanya masih manja, tapi senyum Anggun hanya tipis dan kaku. Terkesan dipaksakan. Sesakit apa dirinya?
"Ya..ya..Kalian sudah rapi, ayo berdirilah di sini..!" Wanita modis setengah tua itu mengarahkan dua sejoli untuk mendekatinya.
Pak David sekilas memandangku saat berdiri di depanku. Ayah sayang anak itu menggandeng Anggun mendekati Kanaya Linha. Tangan sebelah Anggun menggelayut di lengan Garrick sangat manja. Mereka melangkah maju bersamaan. Ah, hanya parodi baju baru pun..Lebay !
"Maaf, pak David. Tolong anda menunggu di sana, saya akan menyorot mereka sebentar. " Pak David menjauh dan duduk di kursi sofa yang menepi di sampingku.
Ruang lapang di ruang baju pengantin ini telah temaram. Dua gadis pegawai butik tadi langsung memadam lampu dan memutar lampu sorot. Nampaklah di layar kaca super lebar itu sejoli berbaju baru yang sangat gagah dan cantik, nampak sangat serasi. Tapi itu mungkin bagi pak David dan Kanaya. Mereka senyum kompak, sangat puas dan bangga.
Tapi bagiku, tampilan layar kaca hasil lampu sorot itu sangat menyemak di mata. Ekspresi apa pun yang ditunjuk wajah Anggun, tidak nampak manis sedikitpun kupandang. Bahkan seperti dibuat-buat hanya untuk mencucuk mata dan perasaaanku.
"El.. Duduklah di sini..!" Tetiba kudengar seruan pak David, dia ingin aku duduk di sofa bersisian dengannya. Ahh...
"Terimakasih.." Kujawab sedikit ketus, hatiku telah sakit olehnya. Wajah pak David nampak mengeras menatapku.
Kupaling wajah, kuabaikan pak David, kutatap si garang. Dia tengah bercakap dengan pemilik butik Kanaya yang tengah menghampiri sejoli itu.
__ADS_1
"Baju ini sudah sangat pas kalian kenakan. Apa ingin mencoba yang lain?" Kanaya Linha nampak ramah menanyai Garrick dan Anggun.
"Tidak. Aku tak minat bertukar baju di pernikahanku. Ini saja cukup, Kanaya.." Suara berat Garrick menyahut cepat soalan dari pemilik butik.
"Apa kalian tidak ada acara tunangan?" Kanaya Linha memperhatikan seksama wajah Garrick
"Tidak ada, Ka..Aku akan langsung menikah saja."
"Oke, Rick.. Kau tetap tidak suka bertele-tele." Kanaya mengomentari jawaban Garrick dengan lirih.
"Kanaya, bantu aku melepas gaunku. Aku akan ke toilet..!" Suara Anggun menyela cukup cepat tiba-tiba. Wajahnya nampak pias, mungkin beratnya rasa menahan pergi ke toilet. Dua gadis Kanaya tadi dengan cekatan mengangkat gaun menjuntai itu mengikuti Anggun menuju ruang ganti.
"Rick, kau sudah boleh tukar baju. Jika susah, minta asistenmu membantu melepasnya." Kanaya Linha sebentar memandang Garrick lalu padaku.
"Hei gadis jelita, bantulah dia, aku ke bawah sebentar. Aku ada sesuatu untukmu!" Kanaya senyum ramah dan penuh makna padaku.
Bunyi sepatu high heels yang dipakai Kanaya Linha terdengar nyaring bersama hilangnya wanita itu di balik pintu. Meninggalkanku dengan Garrick yang redup sayu memandangku. Dig dug aku di tempatku. Jika saran Kanaya agar kubantu lepas baju, Garrick memintanya, lalu apa jawabku..
"El, mendekatlah." Duh, benar dugaku.. Mata coklat sayu itu menatap penuh harap padaku. Kulirik sekilas pak David, ah..apa peduliku, dia menyakitiku..
Tanpa langkah ragu, gegas kudekati Garrick di tempat. Berdiri menatap dengan maksud bertanyaku padanya.
"Bantulah aku.." Garrick memintaku dengan sedikit tersenyum.
Augh..!Deg..deg..deg.. Garrick telah mengambil dua tanganku dan meletak di dadanya. Aku terpaku sesaat, tanganku seperti kaku melekat di sana. Segera kuingat apa maunya.
Ah, biarlah...ini mungkin kesempatan terakhirku melakukan untuknya. Kubuka kancing-kancing baju nikahannya dengan rasa kaku di tanganku. Mungkin jika waktu lalu, hatiku akan merutukinya sebagai pria manja... tapi tidak untuk sekarang..Kulakukan dengan rela...serela-relanya...
Oh..Tuhan..Tuhan..Tuhaaaan...Sakitnyaaa.. Operator di Kanaya seperti sengaja menambah piluku. Lagu yang sedang diputar ini adalah lagu melloww syahdu kesukaanku. Lagu Tak Jodoh milik T2 yang pernah kubawakan, saat bernyanyi mengganti Dinda di pesta ultah Anthony Lung. Tak kusangka lagu itu berbalik menyerang menimpaku.
__ADS_1
Tapi kali ini bukan T2 yang bernyanyi, melainkan Tri Suakalah pengcovernya. Jadi seperti suara si garang sedang bernyanyi saja kudengar. Duh sedihnya lagu tak jodoh ini...
Tess.. Setetes air jatuh lekat di punggung tanganku. Ish, air apa ini.. Air cicak..Air mata.. Air mata Garrick...? Tak mungkin!
Perlahan kupandang matanya. Deg..oh..Garrick menatapku dengan mata yang berair dan berkaca-kaca.. Itu setetes air mata Garrick yang jatuh. Seperti bukan si garang saja.. Duh, kurasa sakitnya..
Ini menyakitkan.Kami sedang sama-sama merasa sakit. Terluka parah dan berdarah-darah di dalam. Tanpa terlihat satu pun tetesan darah yang mengalir keluar dan membasah. Tak ada seorang pun yang mengerti nyeri luka yang kurasa. Terlebih Anggun dan ayahnya..
Tak tahan kulanjutkan. Semua kancing baju yang telah kulepas itu, berlari kutinggalkan. Tak sanggup lagi kuberhadapan dengan Garrick Julian. Hanya toiletlah tujuanku. Di sana ingin kuluah semua tangisku. Nasib baik letak toilet begitu mudah kutemukan.
Huek...! Huek..! Huek..! Itulah bunyi suara yang kudengar begitu kakiku menginjak lantai di toilet. Anggun terkejut melihatku. Sempat kulihat cairan keruh menguning sedikit menggenang di wastafel, sebelum Anggun tergesa menyiramnya.
Anggun nanar melihatku " Kau sengaja menyusulku..?!" Terdengar jelas bahwa Anggun sangat tidak ramah padaku. Apa yang dikhawatirkannya dariku?
"Percaya diri sekali kau. Apa untungku menguntitmu?!" Huh..Dasar si Anggun *anak gunung* sok kecantikan.. Anak presiden saja aku ogah mengikuti, apalagi dia!
"Kurasa kau menyukai calon suamiku, Garrick!" Ucapan Anggun sangat tajam. Ah, perempuan ini, dia tak paham. Sudah kubagi hati, minta lagi jatah jantung.
"Dengar baik-baik ya, Anggun! Aku tidak cuma bisa menyukai calon suamimu saja. Tapi, jika saatnya tiba.. Mengambil calon suamimu, Garrick. Mengambil ayahmu, David. Mengambil kekasihmu, Juan. Akan kulakukan. Sangat mudah membuat mereka meninggalkanmu. Mereka pasti lebih memilihku, dan kau.. kau akan sendirian. Kau tidak lagi punya siapa-siapa. Ibumu..?! Pikirkan saja sendiri, dengan siapa dia sekarang? Kenapa saat ini tidak datang menemanimu? Kenapa hanya ayahmu?!" Ah, hatiku sakit, geramku sudah di ubun. Sekalian kusakiti saja hatinya.
"Kau..kau tahu?!" Anggun begitu pucat. Kuharap tak pingsan. Hatiku sedang tak ingin menolongnya jika jatuh.
"Kau tahu..Siapa yang berkata langsung tentang masalah keluargamu? Tentang masalah ibumu, padaku? Ayahmu!! Ayahmulah yang bilang segalanya padaku! Bayangkan, betapa dekat ayahmu denganku, Anggun!!" Anggun semakin pucat, mungkin ucapanku ini terlalu tajam. Mungkin dia tak menyangka. Memang inilah inginku, memberi tekanan padanya.
Huek..! Huek..! Huek..!Huek..!
Sudah kuduga, beginilah efek ucapanku.
"Hei, Anggun..! Siapa yang telah menyentuhmu, menidurimu? Siapa yang menghamilimu? Bukan calon suamimu, kan?!" Anggun tidak menjawab ataupun menolehku. Wajahnya seperti akan tenggelam bersama muntahannya di wastafel. Kesakitan raga yang ditanggung, penyebab dia tak peduli dengan ucapanku. Atau karena ucapanku, jiwa raganya begitu sakit saat ini...
__ADS_1