
Alarm ponselku terus bunyi tiap hari di pukul dua siang. Begitu juga sekarang, ku rasa aplikasi kuno itu akan tetap diguna sepanjang ada zaman. Menolong manusia untuk memberantas kelupaan dan kealpaan kerja selamanya. Levi Hutchins, penggagas weker pertama dari Amrik itu sungguh tak merugi pernah hidup di dunia, meskipun itu hanyalah sekali.
Ingat pada sepakat yang telah ku buat, laju ku cuci muka kusutku di wastafel kamar mandi. Gosok gigi dan mandi telah ku angsur sebelum tidur siang. Jadi hanya tinggal tukar baju saja yang ku lakukan.
Meski sableng, Zayn bukan orang yang doyan berbohong. Mungkin ada hal berarti yang sedang dia sembunyikan dari kepelikan bicaranya. Ku pastikan, Zayn bukan bocah yang akan membawa perempuan ke tempat sembarangan. Berusaha ku siapkan diri serupa apa yang di pesankan. Berhias sepantas dan secantik mungkin sedaya upaya, tak ingin memalukan orang yang akan membawaku.
Duk..!Duk..! Duk..!
Zayn datang tepat saat ku masukkan sepotong lip balm stroberi ke dalam tas cantikku. Saat ku buka pintu kamar, bocah itu bengong diam memandangku. Baru sengih senyum saat ku beri senyum manisku untuknya.
Senyumku bukan tanpa alasan, tapi guna menutup rasa terpesonaku yang coba ku sembunyikan. Zayn nampak gagah dengan setelan jas navy yang melapisi kemeja putih panjangnya. Zayn bukan seperti bocah yang ada di bayanganku biasanya. Tapi bermutasi sebagaimana lelaki, lelaki tanggung maksudku... Hu...hu...hu...
__ADS_1
"Rapi gila kau , Elsi... Memang kita perginya ke mana?!" Ngeek..! Barusan juga ku puji di hati. Memang sableng, apa pun..tetap saja jatuhnya bocah!
"Tidak sopan kau Zayn! Bagus ku sambung saja tidurku!" Tangan kiri Zayn, cepat menahan pintu yang hanya sedikit ku buka dan akan ku tutup rapat kembali.
Tangan kiri Zayn masih menahan pintuku agar terus terbuka. Tapi tubuhku merasa ditarik keluar hampir melewati pintu. Ternyata tangan kanan Zayn telah menyambar dress bawahku dan menariknya keluar. Ish..ish..ish.. bocah tengil ini...Ku tepis kasar tangan kekarnya.
"Ayo berangkat.. Jangan cepat marah, El! Aku tak rela jika kau menua lebih cepat!" Bocah sableng itu mengedip mata sebelah saat ku tatap sebal wajahnya. Padahal aku hanya kura-kura, jauh di hati...gelak-gelak pada ucapannya barusan.
"Ikut saja, jangan khawatir jika bersamaku, aman El..!" Zayn memperlambat ayun langkah kakinya. Dan terpaksa ku sejajari.
"Aku tau itu, Zayn...Tapi aku tetiba merasa aneh..Siapa yang akan kau temui dengan jas rapimu itu?!" Tak bisa ku tutupi penasaranku. Dengan Zayn.., aku nyaman bersikap terbuka apa adanya.
__ADS_1
"Teman-temanku, El!" Zayn menolehku sedikit lalu lurus lagi dengan jalan kakinya.Tak ada niat bertanya lagi, dua kata jawaban dari Zayn sudah cukup bagiku.
Ada mobil di halaman dan Zayn membukanya. Tapi Anang tak terlihat di belakang kursi kemudi. Rupanya bocah itu membawa sendiri mobilnya.
"Zayn, kenapa bukan Anang saja yang menyetir?" Sebenarnya aku ingin tahu, sedang di mana si Anang.
"Kenapa, El.. Anang cuti hari ini. Apa aku menyetir sangat kasar?" Zayn menolehku, tak ada senyum sedikit pun. Dudukku di sampingnya, bocah itu tak membolehkanku untuk duduk di belakang.
"Tidak, Zayn. Hanya biasanya Ananglah yang membawa mobil ini." Ku toleh Zayn, kepalanya tetap memandang jalan raya dengan lurus. Bocah itu tak berminat menanggapi soalanku.
Zayn terus asyik dengan diamnya, aku ikut bungkam juga sepertinya. Jalanan kota mulai berakhir dengan sambutan hutan lebat di Nongsa menuju Garju Resort milik Garrick. Sebuah kawasan hutan bertulis 'Wisata AVJ (Anugerah Ventura Jaya) mangrove' nampak menarik kami lewati. Jiwa rimbaku bergejolak merindu, ingin rasanya menjelajah di dalamnya. Tapi apa daya, Zayn semakin melajukan kemudi mobilnya.
__ADS_1