
Dering nyaring di ponsel Anthony Lung mematahkan kekakuanku. Ku tegak kembali memandang ke depan. Wajah Lung nampak sedikit memerah menahan tegang.
"Elsi bersiap...Kamu hanya bertugas mengimbangiku. Kalian juga..oke..!" Selesai berkata, Lung mengangkat panggilan video di ponselnya.
Kembali bahasa persatuan milik Anthony yang ku dengar. Aku tak mengerti sama sekali. Jadi hanya ku pandangi saja Anthony Lung. Mengingat aku dibayar cukup mahal, aku harus siaga dengan hati agak berdegup.
Anthony Lung berbicara nampak tegang, sepertinya mereka sedang berdiskusi, bernegosiasi atau bahkan adu mulut. Tak ada senyum sedikitpun di wajah Anthony.
Tiba-tiba ponsel itu diarahkan menghadapku oleh Lung. Seorang wanita separuh baya nampak besar di layarnya, mungkin inilah ibunya. Ku anggukkan kepala, sambil ku beri senyum paling manis dan kusertai lambaian tanganku. Wanita itu hanya terus memandangku, sambil sesekali berbicara pada Lung.
Di belakang sana ada lelaki separuh baya juga, mungkin ayah Lung. Ayah Lung sedikit tersenyum, aku pun terus memasang senyum tanpa henti. Selain orang tua Anthony, nampak juga satu wanita dan satu lelaki dewasa, mungkin saudara Anthony Lung.
Anthony menyorotku sangat dekat beberapa saat, lalu menggeser sorotan pada Irgi dan Mika Riana, nama pacar Irgi. Mereka hanya mengangguk sopan, melambai tangan yang akhirnya tersenyum cengar-cengir, ku rasa sama juga sepertiku, tak tahu bahasanya Lung.
Sorotan bergeser kembali padaku, hanya sebentar, tapi cukup untuk memberikan sebuah senyuman. Kali ini, Garricklah yang jadi tokohnya. Tuan garangku begitu lancar dan familiar berbicara dengan orang tua Anthony Lung. Garrick sesekali tersenyum dan nampak mengangguk kecil. Mungkin demi mendukung drama buatan Anthony Lung.
Lung berganti menyorot pada Dora, wanita di sebelahku itu bisa juga bahasanya Lung. Berbasa basi sebentar, mengangguk dan tersenyum samar. Karena respon yang tak terlalu hangat, Lung kembali menyorotkan ponselnya padaku. Ku pasang wajah wayangku, dengan Anthony Lunglah dalangku. Sepertinya misi Lung akan berhasil, Ibunya Lung sesekali tersenyum padaku.
Tiba-tiba Anthony Lung berdiri, berjalan memutari meja, dan berhenti di belakang kursiku. Mengarahkan ponsel ke wajahku kembali. Ku rasa Anthony Lung mendekatkan kepalanya padaku sangat dekat. Terasa aroma Anthony sesekali berhembus ke hidungku. Coba ku makhlumi, mungkin ini untuk lebih meyakinkan.
Anthony Lung terus menyorot wajah kami. Dan ku rasa wajahnya terlalu mendekat di kepalaku, sampai aroma mulutnya yang tengah bicara pun tercium oleh hidungku. Rasanya sudah berubah sangat risih, berharap segera diakhiri panggilan ini dan sandiwaraku selesai. Tapi Anthony Lung masih juga berbicara sesekali.
Aku sudah tak sepenuh hati mengikuti sandiwara ini. Mungkin aku kembali kaku seperti halnya boneka tanpa hati. Ku rasa ini sudah bukan hanya sekedar dinner seperti yang di jamin Garrick saat tadi. Bukankah Garrick telah menjamin?
Cup!
__ADS_1
Jantungku berhenti berdetak. Anthony telah berani mencium pipiku. Serta merta mataku mengarah pada Garrick. Tuan garangku menatap kami nampak gusar. Pandanganya tajam pada Lung. Tapi aku tak bisa lagi menunggu.
Ku beri senyum manis sekali lagi pada ibunya Lung serta ayahnya.
"Bang Lung, izinkan aku pergi ke toilet sebentar, habis makan kangkung, perutku rasa mulas." Meski sangat kecewa dan merasa dikhianati, masih ku himpun sikap professionalku di hadapan Lung dan orang tuanya. Meski setelah ini aku tak ingin melihat Lung kembali.
"Pergilah Elsi, mau abang antar?" Suara Lung terdengar mesra dan memanjakanku. Semakin risih ku rasakan. Tapi demi sebuah peran yang ku janjikan.
"Tidak, bang. Aku sendiri saja!" Jelas ku tolak tawarannya. Tersenyum terakhir kali dan mengangguk pada ibunya Lung.
Tidak ku lirik lagi ponselnya. Aku berjalan melewati Anthony Lung yang menepi dari kursiku. Mencepatkan langkah menuju toilet yang ku pilih di luar resto Garju.
Toilet yang sepi membuat leluasa mencuci mukaku di salah satu wastafel sepuasnya. Ingin ku hilangkan jejak ciuman Anthony di pipiku hingga bersih tanpa sisa dan rasanya. Telah pegal punggung dan leherku membungkuk, tak juga ku dapat kelegaan di hati. Rasa bibir dan hidung Anthony Lung yang menempel di pipi, tetap saja mengganjal dan membekasi sanubari. Kalo boleh dibilang, rasanya jijik sekali.
"Gadis tak punya harga diri..!" Dora kembali berkata di telingaku. Benar-benar menguji kesabaranku.
"Kau merasa begitu suci?! Ku lihat sampai di mana kebersihanmu! Aku tak yakin, wanita sepertimu tidak menyimpan bangkai di punggungmu!" Ku balas hinaannya dengan berkata kasar pada Dora. Aku tak bisa tahan lagi pada kata-kata Dora yang menghinaku itu.
"Gadis kecil naif..!!" Dora menunjuk mukaku, aku sungguh tak tahu, sebenarnya apa salahku, kenapa Dora begitu benci padaku?
"Biarlah aku gadis kecil naif bagimu! Yang jelas, jika aku seumuranmu, aku tak akan melajang! Aku lebih baik menikah!" Ku lempar skak mat untuknya. Wajah Dora mengeras, matanya berkilat seperti belati menatapku.
Ku tinggalkan Dora dalam pancingan marahnya. Aku tak ingin ribut lebih lama serta lebih menyakitkan lagi. Tak ku pahami, kenapa perempuan yang nampak berpendidikan itu bisa bersikap buruk seperti itu.
Kakiku tidak berjalan memasuki Garju resto. Tapi keluar menuju ruang lift, dan membawaku menuju ke dek empat. Aku ingin menukar Cheongsam di tubuhku denga dress pilihan Sari yang tertinggal di salon tadi.
__ADS_1
"Kenapa ingin di tukar? Ini bajumu yang tadi, tapi tak perlu di tukar. Kau sangat cantik dengan Cheongsam ini." Salah satu gadis salon yang tadi menyambutku sangat ramah.
"Terimakasih kak, tapi tidak nyaman di badan. Lihatlah, setengah pahaku kelihatan!" Ku tunjuk pahaku yang nampak, karena itu hanyalah kain transparant sekedar pelapis.
"Baiklah..tapi kenapa mukamu nampak berantakan, kau mencucinya? Kau sedih? Kau harusnya bergembira, tuan Lung tidak pernah nampak membawa seorang gadis pun sebelumnya. Kamulah yang pertama!" Ah..gadis! Aku tak ingin tahu apapun tentang Anthony Lung!
"Begitu juga dengan tuan Garrick, dia selalu nampak sendiri. Hanya belakangan saja nampak lengket dengan si Anggun. Ah..kau saudarinya..pasti kau lebih paham.." Gadis salon ini begitu bersemangat. Tentu saja aku buta tentang Garrick.. Aku hanyalah kacung baru!
"Akupun juga tak paham tentang Garrick lah kak. Memangnya, bagaimana Anggun itu kak?" Aku tertarik ingin tahu tentang Anggun.
"Jangan panggil kak...serasa tua..namaku Cintia." Aku pun mengangguk setuju.Gadis salon itu sangat humble padaku.
"Anggun itu putrinya pak walikota di Batam. Tapi juga bekerja sama dengan mendiang ayah tuan Garrick dalam bisnisnya. Baru dua bulan ini, Anggun kembali. Sebelumnya dia tinggal di Swiss. Tapi denger-denger sih..biasa..gosip panas. Aku dan teman-temanku, lagi patah hati massal saat ini." Cintia, nama gadis salon itu, memasang mimik gaya sedih, tapi mulutnya cengengesan.
"Ngapain tinggal di Swiss, Cin? Dia kerja?" Aku kepo sekali tentang Dora.
"Er ha es ya..rahasia. Ada pacarnya di sana." Cintia berkata lirih padaku.
"Hah...yang bener Cin.. Terus, mereka bubar?" Kepoku semakin berlipat- lipat.
"Masih dalam pantauan..Ntar ku kabari.. " Cintia mengedipkan matanya, dia benar-benar royal info, aku suka sekali.
Aku telah selesai bertukar baju Cheongsam dengan baju dress milikku. Rasanya begitu nyaman. Sedang Cheongsam yang baru ku lepas dan Cintia bilang sudah dibayar oleh Anthony, ku beri pada gadis salon itu sebagai kenangan. Cintia nampak begitu bergembira. Aku bertambah gembira melihat reaksi Cintia.
Meski hanya sebuah baju bekas dan tak ingin ku simpan, ku niatkan saja sedekah. Sedekah adalah jalan menuju kesuksesan, dengan hanya izin Allah tentunya!
__ADS_1