
Aku dan uni Wel tengah bersulap tangan bermacam sayuran di dapur. Sedang lauk dan ikan, telah disiapkan oleh tim dapur yang di bagian belakang. Kami menjalin kerja sama cukup baik di bawah pengawasan serta arahan ketua kacung kami, Ratih. Perempuan itu cukup tangguh dan menanggung seluruh anggota kacung di dalam rumah ini. Tidak ingin ada kesalahan satu pun yang kami lakukan, untuk sampai ke hadapan majikan.
Cukup berdebar mengingat ini telah sore, sebentar lagi ada apel, dan waktu maghrib akan datang. Apa Zayn benar-benar akan mengajaknya berjalan? Tapi, bagaimana harus bilang.. Izin pada Ratih, yang bagaimanapun dia adalah kacung pimpinan. Sangat sesat jika aku pergi begitu saja tanpa mengucap apapun sebelumnya ke dia.
Waktu apel petang pun akhirnya datang. Tetap paling belakanglah posisi barisan yang sangat ku suka. Andai aku telah mengenal teman sebarisku beberapa saja, mungkin akan ku ajak berbisik-bisik lirih untuk sedikit bergosip apa saja. Seperti jaman bersejarah tempo dulu saat diriku masih makan bangku di sekolah!Hah..hah..hah...Betapa rindunya!
Terlalu sibuk bicara di sini, Garrick's family telah duduk lengkap di sana. Zayn...tentu saja dia pun ada. Eits.., adik tiri tuan garangku sedang lekat memandangku. Ketika mataku sudah benar-benar di matanya, Zayn kembali berkedip sebelah mata padaku. Hu..hu.hu.... Bocah nakal itu lebih mengutamakan buaya di mata daripada cacing imut di perut.
Seperti tahu pendapatku, Zayn cepat menyambar piring di meja dan mengisinya dengan sayur segar buatanku dan uni Wel. Heeii...sejak kapan bocah itu menggemari sayur mayur...? Mungkin saja sedang sadar, bahwa dirinya adalah calon dokter di masa yang akan datang. Gaya hidup sehat perlu juga diterapkan, agar memilki umur yang panjang dan selamat saat tua. Mungkin hanya satu yang sayang, sifat puber sesatnya tidak juga berkurang!
"Ratih...!" Zayn belum menghabisi sayur di piring, tapi Ratih dipanggilnya, ada apa?
Ratih keluar barisan paling depan untuk berdiri maju lebih ke muka lagi. Berdiri siaga penuh tanya menghadap pada adik tiri tuan garang.
"Ya, tuan Zayn, ada apa?" Ratih bertanya dengan suara yang lirih.
"Habis maghrib, pinjam Elsi sebentar. Suruh dia ke kamarnya sekarang. Suruh dia bersiap!" Zayn kembali menyendok sayur di piringnya. Si kecil, adik tuan garangku, nampak heran memandangnya. Namun, ekspresi ibu tiri tidak nampak heran seperti si kecil.
"Jangan pulang terlalu malam Zayn. Abangmu bisa jadi tak suka!" Sang ibu berpesan pada Zayn. Bocah usil itu hanya mengangguk kecil atas pesan ibunya. Apakah mereka telah berbincang? Anak mama juga rupanya si Zayn..
"Elsi, bersiaplah.. " Ratih telah berdiri di samping dan menepuk bahuku. Aku mengangguk dan keluar barisan.
"Jaga dirilah baik-baik." Ratih sempat berbisik di telinga, sebelum kakiku benar-benar berjalan.
"Iya, kak. Jangan khawatir..." Ku tatap mata itu sebentar, dan kakiku telah mulai berayun.
****
Tepat saat tunai maghribku, pintu kamar diketuk dari luar. Bergegas ku lipat mukenaku. Bayangan bunyi ujung sepatu tuan garang di pintu segera ku tepis. Ini adalah ketukan tangan, bukan kaki.
Ceklek !
__ADS_1
Zayn... Berandal nakal itu nampak berbadan sasa dengan kemeja kelabu pekat panjang di badan. Tak ada lagi kesan kurus di posturnya. Cukup pintar juga bocah itu bergaya!
"Sudahkah..? Ayolah, El.. Aku tak ingin kemalaman!" Zayn seperti akan menarik tanganku. Aku berkelit, ku sempitkan celah pintu dan aku di dalamnya.
"Aku belum siap, Zayn!" Tentu saja aku tak siap.Merasa diri tak layak keluar. Bajuku masih berseragam, dengan muka basah tanpa bedak habis shalat.
"Jangan lama, Elsi ! Tukar seragam saja." Zayn berseru di luar saat pintu akan ku tutup, kaki bersepatunya mengganjal pintuku.
"Tepikan kakimu, Zayn! Aku berhias sebentar!" Ku bentur-bentur pelan pintu di sepatunya. Tapi pintu terus saja sedikit menganga tak bisa ditutup.
"Sudah, tukar saja cepat seragam kumalmu itu. Kita hanya jalan, bukan kencan, keburu malam, El..!"
Maak...! Duh..duh..bocah ituuu.. Mulut embernya ituuu...
Segera ku tinggal pintu sedikit terbukaku. Ku tukar baju seragam di kamar mandi dengan baju serba panjang terbaikku. Baju baru yang sempat ku beli saat di Nagoya Hill bersama Anang waktu itu. Celana jin dan sweater modis model baru pilihanku.
Dengan tas cantik di bahu, tas ini bukan baru, tapi ku bawa dari kampung halamanku, ku ikuti langkah lebar Zayn yang agak terburu di depanku. Wajahku polos tanpa bedak apapun. Zayn telah berdiri di pintu kamarku yang dibukanya sangat lebar, saat aku selesai tukar baju. Bocah nakal itu begitu tidak sabar.
"Hai mbak... Malam mbak..." Anang menyapaku dengan cengiran. Ku rasa Anang dan Zayn telah akrab sebelumnya.
"Anang...Ini ke Muka Kuning kan?" Aku senang bertemu Anang. Sedikit santai ku rasakan, stidaknya Zayn tak kan mungkin berniat yang bukan-bukan.
"Kata boss ganteng, iya tuh mbak...Kenapa mbak?" Anang melirik ke arah Zayn di sampingnya, aku duduk leluasa di belakang.
"Kau kan bisa mengunjungi pacarmu yang satu itu, Nang. Kasih support yang banyak buatnya!"Tak ku sebut kata 'telat atau hamil' di kalimatku. Tak ingin Zayn tahu dan Anang akan malu.
"Siapa yang kau maksud, El? Pacar Anang yang telat dua bulan?" Oh..!Zayn tahu?! Begitu dekat hubungan mereka rupanya!
"Kalian sangat dekat ya...? Eh, Zayn... Jangan meniru Anang, ya.. Kau masih anak-anak, masih sekolah!" Ada selip rasa tak rela jika Zayn, adik tiri tuan garangku akan berperilaku sesongong Anang!
"Ha..ha..ha.. Boss ganteng kita ini jinak mbak.. Cewek tanpa baju pun, melirik saja dia tak minat!" Hah..! Benarkah..? Bocah tengil ini..?! Hi..hi..hi.. Ku pandang wajah Zayn di cermin mobil. Wajah tanpa respon, tak peduli dengan apa yang dikata Anang tentangnya.
__ADS_1
Anang menghentikan mobil di sebuah kawasan ruko..,rumah toko di Muka Kuning. Ku ikuti jalan kaki kedua lelaki di depanku tanpa saling ada yang bicara. Zayn berhenti di sebuah gerai salon, bertulis full 24 jam open. Ck..ck..ck..Salonpun buka dua puluh empat jam! Ku mulai paham, betapa sibuknya kota Batam!
"Servis dia nyah... Gadis dua puluhan!" Zayn berbicara pada salah satu wanita salon sambil menunjukku dengan dagunya. Matanya kembali berkedip sebelah saat bertatapan mata denganku.
"Aku mau diapakan, Zayn ?! Aku tak mau didandani model apapun!" Dongkol aku dengan Zayn, bukannya tak bisa merias diri sendiri, tapi bocah tengil itu tak memberiku kesempatan sebentar pun.
"Ikuti saja, El...Apa aku terpaksa ingkar janji?" Zayn mengancam lagi, terpaksa akhirnya ku turuti.
Gadis salon sangat seksi dan cantik itu menyuruhku duduk dan sempat senyum genit pada Zayn.Dengan cekatan dan terampil, tangan halus lentiknya mulai menjamah seluruh bagian di wajahku. Aku hanya bisu mematung dengan segala sentuhan peralatan koametiknya di mukaku.
Dan akhirnya, setelah rambutku juga dijarah sedemikian rupa, ritual ini berakhir. Zayn tersenyum sangat manis di bibir, lalu melenggang ke kasir dan melunasi bon tagihan dari gadis salon di sana.
"Apakah bajunya match dengan riasan?" Zayn bertanya pada gadis salon itu, setelah menyelesaikan pembayaran.
"Oh...Itu sudah serasi, sudah ku sesuaikan. Ku rasa baju dan riasan sudah tepat!" Gadis salon menjawab sungguh-sungguh meyakinkan. Zayn pun mengangguk dan senyum padaku.
"Sip, El.. Yuk!" Zayn megajakku keluar dari salon. Ada Anang di luar, tapi dengan seorang perempuan. Mungkin salah satu pacarnya.
"Hai..Ke..!" Zayn menyapanya, mereka nampak biasa, seperti sudah saling kenal lama.
"Nang..! Bener lah tuh, bini kau udah isi. Dua bulan jalan tiga!" Alamak..! Bocah usil ini meramal asal-asalan apa betulan? Emang bener, dia calon dokter.. Dokter apa si Zayn? Gayanya itu loh...
"Ah, aku pening sangatlah ini boss! Sudah ku beli alat test pack, kau pakailah tolong, Ke.." Anang menyerahkan bungkusan kecil berisi test pack untuk Ike, nama bininya. Eh..Bini..?
"Emang kalian berdua dah nikah?" Ku tatap sejoli yang bermuka mendung itu.
"Yah sama sajalah itu, El. Kumpul Kebo!" Yaelah..itu mulut nggak ada rem-remnya sedikit pun. Ku lihat Ike menunduk nampak sedih. Zayn pun menyadari.
"Dah..dah..dah..Yuk ikut aku dulu. Kalian temani saja aku. Udah, Ke.. sorry.. Yuukk!" Zayn merangkul bahu Anang dan sedikit mendorongnya jalan maju.
Zayn membawa kami bertiga memasuki sebuah mall bertulis Panbil Mall. Hingar bingar dan gempita langsung terasa begitu kami memasuki pintu terbelahnya. Ah..Pintu terbelah, mengingatkanku pada Kapal Garju Ocean Seas. Serasa ingin plesiran gratis sekali lagi, mungkinkah..?
__ADS_1
Mataku mendapati sebuah panggung mungil dengan tulisan 'Welcome to Zayn's Resto opening'. Jadi, Zayn sedang mendirikan usaha restaurant...Dan mengadakan pembukaan restorannya malam ini? Pemuda yang nampak tengil itu nyatanya sudah ada masa depan. Belum lagi jika kelak, gelar dokter itu benar-benar di dapatnya. Hah..Pemuda berandal itu diam-diam menghanyutkan!