Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
89. Ikutlah Denganku


__ADS_3

Duh, jantung....liar sangat dirimu. Jedug-jedug sesukamu. Susah payah kukondisikan...lekas kembali manis-manislah di tempatmu. Seseorang yang kurindu siang malam sedang memanggil namaku di belakang. Aku ingin berbalik melihatnya.


"El..!" Duh.. Namaku diseru lagi..


Perlahan kubalik langsung saja badanku. Kesempatan melihatnya tak akan ada jika menunggu reda degub di dada..


Ah, dia.., benarlah itu dia. Oh, Garju.. Akhirnya kulihat kamu nyata berdiri di depanku. Sangat gagah tengah tegak memandangku. Garju, aku rinduu..


"Boss Garrick.. Apa kabar..?" Hanya tanya inilah yang mampu kuucap sebagai ungkap rinduku.Meski aku telah dibuangnya, tetap merasa dia tuanku.


"Baik, El. Kau juga apa kabar?" Pertanyaan yang diucapnya sama denganku. Apa dia juga sama rindunya padaku?


"Baik...." Ah, aku tak bisa berkata lebih..suaraku tercekat dan hanya melekat kuat di lidah.


Hening, aku diam, dia juga. Kami saling memandang dalam diam. Jantungku terus saja bertingkah begitu, membuat jadi mati gayaku.


"El.." Dia menyebutku...Mata coklat itu semakin jelas berkilat dalam sinar temaram teras kafe.


"Iya..." Kurenung matanya menunggu. Dig dug itu terus ada.


"Siapa lelaki berkacamata tadi?" Tanya inilah yang tak kusuka saat ini.


"Kenalan baru." Ah, kusimpan sementara aib camernya. Begitu juga aib calon istrinya. Masih kupendam fakta jika Anggun terus dengan Juan dibelakangnya.Tuhan akan membukanya di saat yang tepat. Bukan aku.

__ADS_1


"Kenalan baru, apa mangsa barumu, El..?" Ah, si garang lagi-lagi begitu. Apa dia tak rindu aku..?


"Aku tak pernah mencari mangsa. Apa tuan Garrick merasa pernah jadi mangsaku?" Kuharap si garang kembali mengucap perasaannya sekali lagi padaku dengan pertanyaan pancingan dariku.


"Iya, El. Aku sampai merasa sudah mati jadi mangsamu." Suara itu sangat pelan dan lirih. Tapi dig dug di dadaku kian keras terasa.


Jawabku 'Aku bisa menghidupkannya lagi' terpental saat Anang tiba-tiba datang dan berdiri di antara kami.


"Boss, ponselnya bunyi." Anang mengulur tas hitam dengan dering ponsel di dalam.


Garrick mengambil dan berjalan menjauh ke arah mobil.


"Mbak, pak boss ngomong apa, kok lama? Mbak diundang ya? Dua hari lagi dia nikahnya, cepet ya mbak..!" Anang sama sekali tak tahu tentang kami. Sesaknya dadaku!


"Iyalah, Nang." Sangat-sangat berat kutinggalkan. Garrick kulirik tak nampak. Ah, dia sudah di mobil. Kecewa sangat berat ku rasa..


Gontai..,lemas..,kunaiki tangga satu-satu. Aku tak ingin masuk kamar. Akan kulihat mobil si garang dari balkon kafeku.


"Mbak...Ada titipan dari mas Anang?" Tanpa suara, kuberikan titipan Anang. Ike baru keluar dari toilet. Akhir-akhir ini, bumil itu memang jadi miss toilet, dikit-dikit pipis.


"Mbak, kok kayak loyo gitu? Lapar ya, baru ngedate kok lapar?" Ike tahunya aku memang pergi dinner dengan kenalan baru. Saat aspri Rizal menemuiku di kafe sore tadi, tak ada yang mendengar satu pun.


"Ngantuk aku, Ke.." Rencana ke balkon kutukar masuk dalam kamar. Langsung kututup dan ku duduk lemah di kasur.

__ADS_1


Air mata ini tak bisa lagi kutahan. Kecewa dan putus harapan. Pernikahan si garang yang dua hari lagi dan sikap si garang yang abai begitu..Duh, sakitnya hatiku,,, Kecewa..tak sebanding degub di dada saat tadi kudengar suara panggilannya pada namaku.Kurebah menikmati tangisanku..


Tok..! Tok..! Tok..!


"Mbak..!!" Itu suara si Anang. Ngapain dia memanggilku. Gegas kubuka pintuku.


"Mbak, dicari pak boss! Di bawah. Belum selesai ngomong katanya!" Anang menyembur begitu kubuka pintu kamarku.


"Ngomong apa lagi, Nang?" Gayaku malas-malas, padahal ingin gass saja turun bawah.


"Yah..mana kutahu, mbaaak. Turun dulu jumpa boss, mbak!" Anang seperti tak mau peduli lagi. Ike tiba-tiba sudah datang menggelayuti lengan Anang. Duh...ngenesnya aku di depan pasutri ini. Memang seharusnya aku tak boleh ada di antara mereka.. Akan kucari nanti rumah kontrak..Atau kamar kos pun tak masalah..


Anang tak menutup pintu kafe. Punggung yang serasa berwindu tak kupandang, sedang berdiri menghadang dan berbalik arah di sana. Sebesar apa pun cinta yang mungkin sedang kupendam, aku berusaha untuk terus jadi gadis yang lurus dan waras. Hasrat ingin memeluk punggung itu kuat-kuat kuhempaskan.


"Boss..." Duh, susahnya berkata.


Garrick segera berbalik badan menghadapku. Kami kembali saling bisu.


"El... Kau nyaman di sini?" Tiba-tiba Garrick bertanya hal yang memang susah kujawab.


"Kerjaku di sini. Jadi paling tepat, ya aku menginapnya di sini." Sepertinya hari ini, aku sudah terlalu banyak berkata yang tak begitu sesuai dengan isi hatiku.


"Tepat tidak berarti nyaman. Ikutlah denganku, El. Kembali ke rumahku di hotel." Deg..! Apa ini jawaban dari inginku pergi dari kafe dan menepi dari pasutri panas itu? Lalu untuk apa aku kembali ke rumah rooftop Garju? Apa statusku..,aku kan sudah resign..

__ADS_1


__ADS_2