Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
30. Berlabuh


__ADS_3

Belayar sebagai pelayan tuanku di kapal pesiar Garju Ocean Seas, akhirnya berakhir pagi ini. Berawal dengan tendangan ujung sepatu Garrick di pintu kamarku, tepat saat sujud subuhku yang terakhir. Garrick nampak fresh dengan rambut basah dan setelan jas kusut keriting yang kini mulai mulai licin karena lama tergantung di jendela lautan. Garrick terus melarangku untuk mencucinya.


"Kemas bilikku baik-baik. Pelancong baru akan menempati kabin ini !" Garrick tegas berkata padaku. Tapi tidak lagi nampak marah ku dengar, cukup membuat lega di dada.


"Sebentar, boss." Aku ingin berbalik sebentar ke kamar, melepas mukenaku.


"Cepat, El ! Jangan ada yang tertinggal !" Garrick berseru dari luar pintu bilikku.


"Iya, boss!" Cepat ku jawab, dan bergegas keluar, aku khawatir dia melongok ke dalam.


Aku paham perintahnya. Kabin ini memang disewakan dengan tarif fantastis jika tanpa Garrick yang menggunakan. Jadi dengan tak langsung, akulah kacung beruntung yang ikut menggunakannya.


Pakaian terakhir Garrick masih berserakan di lantai bilik. Segera ku pungut dan ku lipat bersemangat. Ku masukkan dalam kantung, ku selip ke dalam koper silvernya. Koper andalan yang sebentar kemudian akan jadi beban langkahku.


Ranjang itu sempat ku rapikan ala kadarnya. Aku yakin, pegawai khusus kabin di kapal ini akan mengurus dengan menukar sprei dan perlengkapan kabin lainnya. Semua harus bagus dan rapi saat pelancong baru menggunakan kabin pilihannya.


"El, buatkan teh hangat!" Garrick berseru dari sofa saat ku lewati dari kamarnya.


"Kemas bilikku dulu, boleh tak, boss?" Aku memang izin, tapi nyelonong langsung ke bilikku. Ku tukar bajuku secepatnya dan berdandan ala kadarnya. Baru ku rapikan semua barang milikku. Ku susun kemas dalam ransel carrierku dan membawanya keluar. Risau dapat seruan Garrick sekali lagi pagi ini.


"Manis tidak, boss?" Ku pandang Garrick sambil berlalu darinya. Aku harus gerak cepat.


"Sedikit!" Garrick menjawab singkat padaku yang sudah di dapur.

__ADS_1


Dua cangkir teh hangat setengah manis ku letak tepat di depannya. Satu cangkir itu milikku, tiba-tiba akupun teringin juga minum teh sedikit gula, nampaknya nikmat.


"El..!" Garrick menyebutku di antara sesapan teh dari cangkirnya.


"Iya bossku!" Aku yang telah kembali ke dapur dengan membawa cangkir tehku, kembali datang ke sofa dengan cangkir teh di tangan.Ku pandang matanya, pertanda sedang ku tunggu maksudnya.


"Duduk, El !" Garrick menunjuk sofa dengan dagunya.


"Terimakasih, boss." Ku letak pelan pinggul pantatku di sofa sebelahnya


"El...Kau bisa memilih, ikut denganku atau kembali ke rumah itu.." Garrick kembali bicara dengan suara berat empuknya. Suara itu landai tanpa hentakan sedikitpun.


"Saya tak paham, tuanku." Aku pun harus berkata manis padanya.


"Atau kembali ke rumah, kau bekerja untuk melayani keluargaku. Tapi tetap aku yang membayarmu.." Garrick terus melihatku dengan mata coklat garangnya.


"Akan ku pikir sebentar, bossku!" Memang nyatanya aku sedang bingung.


Bekerja padanya ku rasa menyenangkan, aku sudah mulai paham pribadinya. Tapi aku kesepian, tak ada teman. Dan yang penting, aku khawatir Garrick akan menahan bayaranku lebih lama. Aku ingin segera menerima uang jerih payahku seminggu, sebagai kacung yang siaga melayaninya.


Sedang aku sudah tak ada uang di ATM. Semua habis ku kuras untuk membeli oleh-oleh buat teman-teman kacungku. Hanya selembar kertas biru yang sisa di genggaman. Sebagai gadis jomblo di rantau, hati ini tak tenang tanpa pegang cukup uang di tangan.


Ku lihat kaki Garrick masih hanya berkaus kaki. Alamat sebentar lagi akan ada perintah khusus darinya. Namun hingga teh manis kami habis dan siap berangkat, Garrick tak juga memintanya.

__ADS_1


Ku ambil sepatu hitam mengkilat itu di depan pintu bilik. Ku bawa dan ku dekati kaki panjang miliknya. Ku rasa, ini adalah pelayanan terakhirku pada kedua telapak kakinya.


"Boss..." Ku panggil hati-hati sang tuan yang duduk di kursi.


"Ya.." Jawaban Garrick tak kalah pelan dariku.


"Aku bekerja untuk anda, dari rumah itu saja." Tak berani ku pandang tuanku, aku menunduk sambil terus memasang sepatu di kedua kakinya.


"Kenapa? Apa bekerja langsung denganku, melelahkanmu?" Garrick tetap berkata pelan. Aku telah bergeser dan duduk di sofa sebelahnya.


"Tidak, bossku." Ku geleng kepala pelan kanan kiri.


"Lalu..?" Mata Garrick menukik menatapku. Mata itu sekarang berwarna coklat pekat.


"Saya ingin mendapat suasana baru, bossku." Ku mantabkan hatiku. Aku memang sedikit bosan dengan kerja monoton padanya. Ku harap tuan garangku bisa paham alasanku.


"Baiklah. Itu pilihanmu. Uangmu sudah ku transfer ke akunmu.Pagi tadi. Ini bonusmu!" Garrick meletak amplop coklat nampak tebal di tanganku. Rasanya tak percaya, mendadak menerima seluruh upah semingguku. Bahkan sang tuan memberi lebih bonus padaku. Lalu, berapa bayaranku? Serasa berkeringat ku raba ponsel di saku bajuku. Berdebar membuka pesan masuk, berisi laporan jumlah uang yang masuk di akunku dari akun tuan garangku.


Dua ratus tujuh puluh lima juta rupiah !!! Hah..hah..hah... Rasa bengek di dada..Tapi bengek yang sangat bahagia ku rasa!!


Dengan rasa raga melayang, bergegas mengikuti sang tuan garang yang telah laju berjalan di depan. Punggung sang tuan seperti bergambar jutaan dolar tercetak jelas di sana! Ha..ha...ha.. Aku sangat bergembira.


Ransel di punggung dengan koper silver di tangan, kini serasa tanpa beban. Ku berjalan ringan mengayun kaki menyusul tepat di belakang Garrick. Kapal pesiar telah bersandar, berhenti mendekat di dermaga sangat rapat. Bersiap menyambut kami untuk turun mendarat dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2