
Si garang ingin aku kembali ke rumahnya di rooftop. Untuk apa.. Aku sudah resign dan bahkan sudah diusirnya.
"Saya sudah resign hari itu, tuan Garrick.." Ragu kukatakan, dalam hati memang rindu kembali ke rooftop. Bersamanya.
Garrick tajam memandangku, badan tegap itu maju ke depan dan berdiri begitu dekat denganku. Kepalany menunduk seperti akan menelanku. Duh, jantung ini mulai tak sopan lagi ku rasa.
"Kapan kululuskan itu, El ? Mana bukti surat resignmu, El ?" Eh, apa maksudnya. Bicara Garrick terkesan mengejekku, bahkan nyaris tertawa kecil di depanku.
"Waktu itu sudah ku kirim pesan resignku dan anda menyuruhku pergi.." Meski bunyi kalimatku begini, tapi kuharap, dia membawa paksaku saja ke rooftop!
__ADS_1
"Kau memang kusuruh pergi dari rumahku itu, El. Tapi kau masih asisten rumahku. Aku tak minta surat resignmu, kan? Anggap saja kau sedang bercuti sangat panjang." Si garang berbicara cukup pelan dan landai. Sangat nyaman ku dengar.
"Jadi aku harus jadi pembantumu lagi?" Sebenarnya, apapun fungsiku, aku rela. Asal dia tak jahat saja padaku. Dan juga..jangan sampai aku dirugikan..!
Garrick sesaat meraup wajah garang cutenya. Berdiri diam memandangku, kami kembali menatap saling diam. Kupandanginya, seperti belum percaya jika kini orang yang sedang kupandang adalah Garju. Duh, dig dug terus hatiku.
"El.. Ikutlah aku pulang ke rooftop. Temanilah aku, El. Dua hari lagi aku menikah. Tinggallah di sana. Kau di sana selama inginmu pun tak masalah. Tinggallaah di sana, El.." Suara si garang yang biasanya berat empuk itu terdengar sangat parau. Seperti sangat susah disuarakan. Meski ada kalimatnya yang menyakitkan, tapi hatiku yang seperti jera oleh beratnya rindu, merasa iba padanya.
"Aku tak peduli dengan pernikahanku, El. Kuminta padamu, tinggallah denganku di rooftop." Garrick tidak membatalkannya..tidak juga merayuku, tapi dia hanya ingin tinggal bersamaku. Semudah itukah hatinya berubah? Tak lagi berminat padaku? Lalu apa statusku.. Menjadikanku sebagai simpanannya juga?
__ADS_1
" Ayo, El. Banyak milikmu di sana. Baju-bajumu..., juga kotak hadiah dari Lung untukmu ada padaku. Dan ijazahmu, El. Tidak kau ambil? Kau tidak ingat, bagaiman orang tuamu memeras keringat demimu agar mendapat ijazahmu itu? Kau tidak merasa sayang?" Oh, ijazahku...,benda yang telah kurelakan itu memang sayang diabaikan.., itu juga hasil keringat ayah semasa hidup. Mengurusnya lagi..itu pekerjaan yang repot.
"Bagaimana, El..? Ayolah.." Tetiba tangan besar Garrick telah mengambil pergelangan tanganku dan menariknya, agak memaksaku untuk bergerak membuntuti. Telapak besarnya tidak terlalu kuat memegangku. Tapi aku enggan melawannya. Pasrah kuikuti maunya. Hah.. jalanku kini seperti melayang.
"Tunggulah, El. Aku bicara sebentar dengan Anang." Garrick yang berhasil mengarahku untuk duduk manis di mobil, menutup pintunya dengan pelan. Dia berjalan cepat menuju pintu kafe sembari menelepon. Mungkin dengan Anang.
Aku pasrah menunggu dengan hati kian dig dug sambil kupegangi tas bahuku yang terus tergantung menyelempang di pundak. Tas ini belum sempat kulepas saat aku menangis nelangsa di kamarku barusan.
Tak ku sangka malam ini aku bertemu si Garju. Tak ku sangka juga sebentar lagi kami akan kembali bersatu.. Ah, 'bersatu'.. sangat indah konon terdengar.... Jadi ingat nasihat Uda Fahri, bimbang datang sesaat kemudian berlalu. Ah Tuhanku, ampunilah.. biarlah aku sesat sementara, aku tak kuat tersiksa rindu. Rindu pada cinta pertamaku.
__ADS_1
Bersama dan melihatnya beberapa hari itu lebih baik daripada tidak sempat sedetik pun. Meski tanpa status apapun yang jelas. Meski seluruh dunia menyayangkan. Aku rela!