Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
33. Ok, Zayn.Deal!


__ADS_3

Seluruh coklat yang ku beli bersama Anang di Nagoya Hill, telah ku serahkan pada ketua kacungku, Ratih. Begitu juga dengan semua souvenir yang ku beli sambil lalu di kapal Garju waktu itu. Berharap bisa berbagi berlebih rizqi untuk merasa gembira bersama di hati. Hanya pada uni Wel sajalah ku beri langsung buah tangan khusus untuknya.


Menemani uni wel bersulap tangan pada bahan makanan, berjalan amat lancar pagi ini. Apel pagi hari pun berlalu tanpa aral hambatan apapun. Gejolak resah di jiwa datang menyapa saat Ratih tiba-tiba berkata.


"Elsi, ku tunjuk bilik tuan Zayn. Setelah ini, kau harus datang tiap pagi!" Ratih sudah di sampingku dengan membawa kabar itu buatku. Ratih yang telah membawa peralatan berkemas, segera beranjak, dan aku pun bergerak mengikutnya.


Kamar milik Zayn, berada di samping tepat kamar milik Garrick. Meski tahu kamar tuanku sedang tanpa penghuni. Kamar Zayn yang berdempetan dengan kamar Garrick, mencipta rasa aman dan semangat di hatiku. Percayalah, atasan yang bersikap dingin, akan jauh lebih aman dari atasan yang terbuka namun tersimpan buaya di matanya.


Duk..!Du..! Duk..! Duk..! Duk..! Duk..!


Ku ketuk pintu rapat itu sesuai yang diminta Ratih padaku. Sedang ketua kacungku berdiri di samping dengan hanya melihatku.


"Selesaikan tugasmu di sini, aku di sana!" Ratih berkata padaku sambil pergi meninggalkanku.


Wuuusss.... Angin dingin menusuk menerpa di kulit wajah, leher dan lenganku. Sedang kulit yang lain tertutup aman dengan seragam pink kacungku. Pintu telah terbuka, sepaket dengan pemilik kamar yang menghadang memandangku. Angin dingin berasal dari AC kamarnya yang berebut keluar saat pintu dibuka.


"Selamat Pagi, tuan Zayn.. Kamar anda perlu dikemas tidak?" Harapan agar Zayn menggeleng dan aku berlalu, hanya ada di khayalku. Zayn tidak menggeleng ataupun mengangguk, justru membuka lebar pintu kamarnya dengan bekas mata yang mengantuk.AC di kamarnya begitu kuat dinyalakan, seperti goa kutup saja ku rasakan.


"Selamat pagi juga Elsi, kemas saja kamarku bersih-bersih sesukamu. Ku beri waktu dua jam untuk kau habiskan di sini..!" Maaak... Dua jam hanya untuk sebuah kamar?! Sableng juga dia nih... Tak ku ambil hati kelakarnya, jika ku tanggapi bisa justru makin menjadi.. Ku mulai melakukan tugasku di kamarnya dalam bisu.


Kamar mandi yang nampak belum terpakai pagi ini, tetap saja ku sikat bersih hingga licin. Guyuran air dengan karbol wangi, adalah sentuhan akhir tanganku di lantai kamar mandi. Ku tinggalkan ruang ini dengan sedikit lega hati. Berganti mengemas kamar luasnya, dengan udara AC yang sedingin puncak Semeru saat kabut.


Hemmh...hemmh..hemmh..Zayn yang kembali tidur di kasur, merebah miring melihatku. Apapun yang ku lakukan, tak luput sedikitpun dari pandangannya. Meski zayn masih bocah dibandingku, namun diperhatikan saat buat kerja sebegitu, siapa juga yang tak kaku.


Usia Zayn dua satu, tiga tahun di bawahku. Tapi tatapannya itu, benar-benar tak menghormatiku. Tapi siapa juga diriku, hanya seorang kacung babu, abaikan saja sebisaku. Mengemas ruangan telah beres, hanya kasurnya saja yang belum ku sentuh.


"Tempat tidur, perlu dirapikan tidak?" Harapku, dia tetap saja merebah dan aku bisa keluar tanpa salah.

__ADS_1


"Kenapa tidak..? Waktumu masih sisa banyak, Elsi..!" Zayn berseru sambil meloncat bangkit dari ranjang. Sempat geli juga ku lihat. Sifatnya jauh beda dengan tuan garangku.


Zayn telah benar-benar turun dan berdiri tegak di samping tempat tidur. Aku mulai biasa pada matanya, ku abaikan saja pandangannya. Semua sisi dan tepi ranjang telah sangat licin ku buat, hanya satu bagian di pojok yang kusut. Ukuran ranjang Zayn sangat lebar, entah berapa meter ukurannya, yang jelas tubuh dan tanganku tak sampai menggapainya.


Ku naiki saja cepat-cepat, agar mata Zayn tak lama-lama melihat. Ku tepikan bantal dan ku rapikan cover di pojokan. Bagian sedikit sulit bagiku, tapi akhirnya selesai juga olehku. Ku raih bantal tadi dan ingin ku kembalikan ke posisi di pojok.


Sreeett... Tiba-tiba tangan Zayn menarik bantal yang ku pegang dengan sentakan cepat dan kuat. Kelakuan gilanya membuatku hilang imbang dan tersungkur terkapar di kasur. Meski sangat empuk, tentu saja derita jantungan tetap ada ku rasa. Dasar sableng, bocah usil !!


"Kau ngantuk ya, ingin tidur? Tidur saja, El... Aku tak keberatan!" Zayn berkata begitu santuy sambil menyambar handuk bajunya dan melesat ke dalam kamar mandi.


Aku telah berdiri dan ingin pergi dengan rasa sangat geram di dada. Lelaki puber kurang kerjaan, tidak sopan! Apakah Ratih pernah diperlakukan begini? Jika iya..Zayn keterlaluan. Bukankah usia Ratih telah jauh di atasnya... Perlakuan bagaimana yang dibuatnya pada ketua kacungku? Benar-benar penghinaan!


Kiiekk..! Kiieek..! Kiiekk.. Oh, Rabbiiiii.....


Ternyata Zayn mengunci pintu, aku terjebak di dalam kamarnya. Nakal sekali berandal itu! Figur macam begitu, masak iya sih dia dokter ??!! Yang ada si pasien makin kejer di tangannya. Makin collapse, malpraktik atau bahkan berpeluang mati mendadak?! Ah.. Ngeri sangat membayangkan bocah puber itu jadi dokter....


Ceklek..! Itu Zayn.. Telah tamat dari mandinya. Mata berapiku telah siap menyambarnya. Tapi... Nyesss..nyesss...nyesss... Muka bocah tengil itu berubah, terlihat sangat fresh dan cool! Dengan handuk kimono biru tua, bertabrakan dengan kulit putih muka dan dadanya yang nampak. Ah, mata berapiku mendadak redup kehilangan kobarnya. Tapi gengsi bagiku luluh pada pria yang usianya bertahun-tahun di bawahku.


"Jangan mengada-ngada kau ini, Elsi.. Ratih mana berani menunggu orang yang sedang di kamarku." Zayn senyum-senyum padaku. Tapi itu hanya senyum lucu di mataku. Senyum tanpa ada mesum atau ekspresi remeh di wajahnya. Zayn nampak jadi anak manis saat begitu.


"Elsi...., yuk kita ngelayap ?! Kau mau ?! " Isshh... Kesambet apa dia tuh?! Ngelayap kan bermakna ngeluyur..jalan...main..kongkow.... nongkrong.. eh apa lagi???? Bantuin dooong... ah entahlah yaa..yang jelas tanpa arah dan tujuan yang jelas kan??? Ogah lah !!!


"Aku sibuk Zayn.. Ratih akan marah padaku!" Jawaban yang jujur dariku.


"Ratih tak akan pernah berani lagi memarahimu!" Zayn telah mengambil baju ganti dan memegangnya. Zayn nampak santai memakai baju di balik handuk kimononya di depanku. Sesekali bocah itu memunggungiku, ada malu juga dia denganku! Ha..ha..ha.. Bukan salahku jika aku tak pura-pura menutup wajahku. Buat apa..,toh aku tidak melulu melihatnya, dan Zayn pun sudah malu dan tahu diri denganku. Dia hanya bocah di mataku!


"Gimana, El.. Sore nanti, habis maghrib. Ku ajak kau ke Panbil !" Zayn melempar handuk kimono ke sofa sesukanya. Hah..dasar pria!!

__ADS_1


"Panbil..?" Ku ulang tujuannya, tak paham tempat itu.


"Mall itu, El.. Di Muka Kuning. Kau pasti suka. Jangan risau, tidak lama... Gimana, El?" Zayn seakan membujukku. Tentu saja aku ragu..


"Sudah.., berapa nomormu? Nanti ku hubungi..., Aku absen kampus dulu!" Zayn mengulur ponselnya, bermaksud agar ku tulis nomor hand phoneku.


"Tidak, Zayn. Maaf, aku tak minat." Sebetulnya ingin juga.. Tapi aku tak yakin, bagaimana sikap Zayn sebenarnya. Lagian, tak enak hati dengan kacung lainnya.


"Bener, kau tak mau El?" Zayn tersenyum aneh di bibirnya. Tangannya bergerak-gerak di ponselnya.


"Lihat, El.. Besok ku pajang fotomu di akun medsosku. Ku tulis kau pacarku!" Zayn cengengesan menunjuk ponselnya padaku. Alamaaaakk!! Zayn...bocah usil ini! Zayn telah memotret badan serta wajahku saat tersungkur di kasurnya. Ekspresi terkejutku sangat konyol dan menggelikan. Sungguh memalukan! Hah..sangat keterlaluan!


"Heeehh! Zayn, jangan konyol kau ya! Hapus gambarku, cepat!" Aku tak ada ide, ancaman apa yang manjur ku gempur untuknya. Aku tak ingin seperti adegan di drama, berebutan barang di tangan...lalu keduanya jatuh berbarengan.. itu naskah kuno kan?! Jangan terus bilang berciuman bibir kemudian ya.. Itulah yang ku risaukan...Ha..ha..ha..


"Ayolah, El... Kita refreshing..,temani aku!" Zayn terang-terangan mengiba padaku.


"Jika pergi... Apa fotoku benar-benar kau hapus?!" Ku tatap lekat wajah Zayn. Tak ingin ditipu oleh janji palsunya.


"Iya El.. janji! Tapi...." Zayn menggantung kata mencurigakan!


"Apa.., jangan menipuku Zayn!" Ku tajamkan mataku, mungkin aku sedang nampak melotot cantik padanya.


"Tapi..Kau perlu menemaniku keluar dua kali. Kau tidak akan rugi, El.. Aku janji!" Zayn mengacung jari kelingking panjangnya padaku. Ku lekati mukanya. Tak ku temui sorot licik di matanya. Wajah Zayn nampak bocah yang apa adanya di mataku! Ku tepis sisa ragu di hatiku.


"Oke, Zayn. Deal..!" Aku tidak menyambut jari kelingking panjangnya. Ku rasa itu kekanakan dan sama sekali tak ada gunanya.


"Oke, Elsi..Kau ada hutang padaku!" Zayn berkata sambil memegang ransel kecilnya. Mungkin akan pergi ke kampus, entahlah... Adakah sekolah kedokteran di kota Batam? Akupun ingin tahu!

__ADS_1


"Zayn..kau pun jangan ingkar padaku !" Aku berseru di pintu. Zayn telah membuka kunci dan melepasku dari kamarnya. Rasa hangat yang nikmat terasa di badan saat Zayn telah menutup rapat pintu kamarnya. Dingin di kamar Zayn memang begitu menggigit di tulang.


Hidup ini sungguh penuh kejutan. Tiba-tiba punya rencana tanpa disangka-sangka. Begitu pun denganku, mendadak berjanji dengan si Zayn, bocah nakal, adik tiri sang tuan garangku. Janji sepakat untuk jalan keluar kelayapan bersama di SP, Sei Panbil, pusat berbelanjaan daerah Muka Kuning, Sei Beduk, Kota Batam. Berharap bahwa Zayn bukan anggota garangan, ku pikir juga keselamatan, sebab aku sendirian di rantauan!


__ADS_2