
"Loh, mbak..Mau ke mana?Keren sangat!" Anang memergokiku tengah berjalan menuju trotoar di depan. Aspri pak David sedang menungguku.
"Ada perlu sebentar, Nang!" Anang sedang berdiri di samping mobilnya, mungkin akan ke bandara Hangnadim menjemput si garang.
"Hati-hati mbak" Anang berseru saat aspri pak David membawaku masuk ke mobil.
"Iya, Nang!" Anang terus memandang. Seperti mengamati mobil dinas yang kunaiki dengan aspri pak David. Pandangan Anang hilang bersama melajunya mobil kami.
****
Rizal, nama aspri pak David, tengah membuka pintu sebuah private room setelah mengetuk sopan pintu itu sebelumnya. Ini adalah salah satu ruang makan pribadi di Anchor Inn restaurant, Batam Centre. Hatiku dag dig dug menunggu..
"Silahkan, mbak. Pak David di dalam." Rizal sangat sopan, mengarahku untuk masuk ke private room dengan jempol jarinya.
Pak David telah tersenyum hangat dan jelas saat aku muncul dan saling berpandangan, bukan lagi samar-samar seperti biasanya. Sekilas kulihat, meja itu telah penuh hidangan, dua gelas minuman, dan beberapa botol mineral.
"Duduklah, Elsi..." Chow Yun Fat kawe itu menyuruhku duduk dengan membuka telapaknya.
"Terimakasih, pak." Ku lebih pilih duduk tepat di depan, bukan di sampingnya.
__ADS_1
"Ehhmm..." Pak David berdehem sebentar. Ku tekan rasa kepoku dengan diam mengawasi.
"Elsi, kamu penasaran, kenapa ku minta datang kemari?" Suara berwibawa pak David sangat lembut menyoalku.
"Tentu, pak. Saya fikir kesalahan apa yang telah saya lakukan, sampai bapak memanggilku?" Kubicara sesopan mungkin dengan pancingan agar pak David cepat menjelaskan.
"Aku ingin kamu datang bukan berarti kamu telah berbuat salah, Elsi .." Pak David tertawa kecil memandangku. Pria setengah baya tampan itu berpakaian sangat santai. Berkemeja biru panjang dilapisi sweater biru tua tanpa lengan. Rambutnya hitam tebal tanpa uban yang nampak satu pun. Dan bisa ku bedakan, itu asli..bukan cat-catan. Beda jauh dengan warna rambut ibuku yang dicatnya hitam legam, kaku dan kusam.
"Lalu keberuntungan apa yang membuat saya dijemput oleh asisten anda, pak David?" Kembali kukejar, agar pak David cepat berbincang.
"Sebenarnya bukan beruntung, tapi kamu memang gadis yang baik, Elsi." Wajah pak David mulai nampak serius.
"Begini, Elsi..Sebelumnya aku minta maaf denganmu.." Pak David mulai bicara menatapku.
"Aku tahu, anak perempuanku, Anggun.. Sangat tidak menyukaimu. Dari masalah Juan sampai calon menantuku, Garrick, aku pun paham. Tapi Anggun sangat keras kepala, anak perempuanku itu berat untuk melepas salah satunya."
"Usia Anggun jauh di atasmu, tapi kedewasaanmu jauh di atas anakku. Dia terbiasa dimanja ibunya. Mungkin karena Anggun satu-satunya anak perempuan kami."
"Mulanya Anggun berpisah baik-baik dengan Juan. Dan yakin untuk menikah dengan Garrick. Tapi begitu mendengar bahwa Juan melamarmu, Anggun tidak tenang. Sampai kamu tidak menerima Juan pun, Anggun tetap berat keduanya."
__ADS_1
"Namun, belakangan...Anggun memintaku untuk mendesak Garrick agar cepat menikahinya. Itulah, Aku datang menemui Garrick dan kau juga ada. Saat itulah aku bisa jelas melihatmu secara langsung. Aku jadi paham kenapa Juan bahkan Zayn pun menginginkanmu, Elsi.." Pak David terdiam dan memperhatikanku dengan tatap teduhnya.
"Tapi setelah itu Anggun tetap tidak puas. Dan aku kembali menemui Garrick di hotel dengan anakku.Garrick tiba-tiba ingin menghentikan perjodohan dan menolak menikahi Anggun. Kamu tahu alasannya...?" Pak David tiba-tiba berhenti bicara dan menatapku. Reflek aku menggeleng.
"Garrick akan melamarmu dan aku paham tekadnya. Anggun berkata akan mati pun, Garrick terus kukuh. Sampai aku berlutut di kakinya, Elsi..."
"Garrick akhirnya minta diberi kesempatan satu minggu untuk melamarmu. Dia ingin mendapat jawabanmu sekali saja. Dan tidak ingin memaksamu. Aku setuju, Elsi. Mengingat Anggun pun juga berkelakuan curang di belakangnya. Sebenarnya aku juga bersalah pada Garrick. "
Pak David berhenti bicara dan menatapku.
"Minumlah, Elsi.." Chow Yun Fat kawe itu mungkin kehausan. Air sebotol telah hampir dihabiskan. Pak David nampak mulai bicara lagi dan aku terus menyimaknya.
"Dan inilah, Elsi.. Kenapa aku menjemputmu datang. Aku sangat berterimakasih akan penolakanmu pada pinangan Garrick. Aku tidak menyangkanya. Kupikir..kamu tidak mungkin tidak suka pada Garrick." Pak David berhenti bicara.
Dan ucapan terakhirnya barusan, seperti busur yang melepas anak panahnya ke dadaku. Sakit. Tapi dia tak paham pedihku.
"Sebagai wujud terimakasih, serta minta maafku pada sikap Anggun padamu.., aku ingin memberimu hadiah, Elsi. Apa yang kamu ingi? Mintalah...sebutkan.. jika aku mampu, pasti kupenuhi. Atau..bagaimana jika bekerja denganku? Lambat laun aku bisa mengangkatmu jadi staffku, pegawai kota Batam.Bagaimana, Elsi...?" Pak David menatap teduh padaku.
Kupandangi wajah pak walkot. Mungkin di matanya aku sedang bingung akan tawarannya. Tapi yang ku rasa..., tawaran yang disuguhkannya ini seperti racun bagiku. Racun mematikan yang pernah diminum bergantian oleh pasangan legendaris. Romeo dan Juliet!!
__ADS_1