Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
81. Pergilah


__ADS_3

*Tuan Garrick. Saya tidak bisa menikah denganmu. Maaf*


*Dan saya ingin mengundurkan diri sebagai asisten di rumahmu.Saya ingin resign.Apa perlu saya buat surat resign?*


Dua pesan itu telah kukirim tiga hari yang lalu. Dua hari setelah kejadian malam itu. Tanpa ku tahu, orang yang mendapat pesanku telah membaca atau tidak. Setting on centang dua abu-abu itu, sangatlah menyebalkan.


Beda hal dengan Zayn, pesan yang kukirim untuknya, lumayan cepat mendapat balasan.


*Zayn. Lanjutkan sekolahmu. Lupakan dulu niatmu menikah. Jalanmu masih panjang. Aku belum ingin menikah.*


^Sudah kubilang, El. Menunggumu janda pun aku sanggup. Apalagi hanya menunggu kapan kau ingin menikah.^


^El, akan lama aku tak ke Batam. Jadwal magangku penuh, bahkan hari minggu. Sabarlah menungguku^


Meski tak mungkin, semua itu mungkin. Bisa jadi Zayn akan terus menunggu. Aku pun tak begitu saja menolaknya. Dia masih muda... siapa tahu jodohku pun jauh... Siapa tahu juga, kelak kami berjumpa dengan suasana yang tak sama. Tapi ini bukanlah doaku dan aku tidak ingin terikat dengannya.

__ADS_1


Aku bisa saja tak peduli dan pergi dari rumah ini begitu saja. Ku relakan ijazah SMAku yang diminta si garang. Masih ada ijazah serepanku, yang kudapat dari sekolahku yang sebatas diploma. Dengan ijazah terahir yang ada, aku bisa melamar kerja coba-coba.


Hengkang kaki pasti sudah kulakukan jika aku tak rasa segan dengan ketua kacungku, Ratih. Dia pasti tak melepasku begitu saja, secara dia sangat setia pada sang juragan, seluruh penghuni rumah ini.


Satu lagi yang bimbang..Kotak kecil seupil dari Garrick yang berisi sebiji cincin mungil, ternyata disertakan juga nota belinya. Dengan logo Cartier di dalam lingkaran, dan bertulis Cartier Diamond di nota. Angka di nota itulah pembengekku. Bacaan tiga puluh lima ribu dolar Singapura dengan ukuran tiga karat di nota, membuat ling lung berlarutan. Juga ada memo kecil dengan tulisan tangan si garang.


^Bukan pamer, El. Ku sertakan nota harga. Ikhlas kuberikan. Tapi harapku, kau tak mengabaikan.^


Garrick telah memutus-mutus jantungku kali ini. Bukan orangnya, tapi berlian di tanganlah penyebabnya. Sesal sempat datang pada pesan tolakku yang terlanjur ku kirim. Tapi sikap tak peduli pada pesanku, rasa sesal itu terganti jadi kesal. Kusambar saja kompensasi darinya.


******


Tak ada ingin darinya untuk jadi perantau sepertiku. Justru ibuku yang berbalik gencar menyuruhku cepat pulang. Beliau bilang, usaha katering yang sempat tanpa orderan, kini kembali pesat berkembang. Katanya lagi, ibu mengharapku cepat kembali agar aku menemani jadi rewang.


Bahkan diungkitnya lagi lajangku. Ibarat bunga, aku sedang seperti mawar yang seluruh kelopaknya telah terbuka sempurna. Banyak kumbang hinggap mendekati. Inilah saat tepatku untuk menjerat satu dari sekian kumbang yang datang.

__ADS_1


Katanya juga..Jangan menyiakan waktu mekar itu yang hanya datang satu kali. Seterusnya, mawar itu akan layu dan mengering. Dan kelopak hitam itu akan rontok jatuh berguguran. Hanya kumbang nyasar saja yang kemungkinan kecil menghinggapi. Begitu juga diriku...


Itulah yang diucap ibuku. Ibu risau jika aku akan jadi perawan tua yang tak laku. Dan akhirnya dapat bujang lapuk juga yang tak laku... Itupun jika laku dan beruntung....


Oh Ibu... Kejam sumpahmu.. Aku tahu itu bukan sumpah... Tapi risau ibu yang sayang padaku!


*****


Pesan itu ku dengar di salam isya'ku yang terakhir. Debar dada penasaran saat kutahu bunyi pesan itu dari Garrick. Binar mataku redup setelah ku baca tulisannya. Memang itulah inginku. Tapi jika isi jawaban seketus itu, nelangsalah jiwaku.


^Pergilah^


Inilah bunyi tulisan yang baru kubaca. Bersit sakit tiba-tiba menyapa menggoresku. Pesan balasan dari Garrick yang telah lama kutunggu, akhirnya datang juga. Balasan sangat pendek satu kata itu bukannya melegakan, tapi justru menyakitkan. Bukan gembira atau suka, kecewalah yang ku rasa. Garrick melepasku begitu saja. Bahkan kini aku merasa seperti sedang diusirnya.


Seperti lemas ragaku. Kurebah tubuh di kasur dengan mukena melekat di badan. Merasa diri tak berarti. Lamaran.. rasa cinta.. rayuan, seperti angin lalu saja baginya. Tetiba sangat ku sesali, kenapa malam itu tidak kumaki, kutampar, kutendang atau kuhantam lampu meja saja garangan itu. Tak peduli dengan compang campingnya bajuku!

__ADS_1


Tak sudi berlarut, dengan semangat yang kupaksa. Ku kemas beberapa potong baju ke ranselku. Baju-baju yang baru ku beli, bahkan beberapa belum kupakai, akan kuberikan pada teman- teman kacungku. Sambil kuseka kaca-kaca di mataku.


Coklat taut hati dari Zayn, agar tak mubadzir, telah kumutasikan jadi banyak potongan kecil-kecil. Akan kubawa teman-teman kacung yang dekat denganku untuk datang ke kamarku. Terutama uni Wel !!


__ADS_2