
"Mungkin aku pria brengsek bagimu.Tapi perlu kau tahu, El. Kaulah wanita yang pertama kusentuh. Kau wanita pertama yang kucium, selain ibuku." Duh, perkataan Garrick yang lembut itu, seperti tengah membuai telinga dan hatiku...Meski gaya bicara si garang tetap kaku..tapi tetap mampu membuat terkaku-kaku. Hu..hu..hu..
"Iyalah, boss. Hanya aku yang sedang di depanmu. Ibarat kucing, hanya akulah ikan asin yang ada, sedangkan dirimu adalah kucing garong." Kelakuan Garrick padaku, telah menghempas semua seganku padanya.
"El..El...El...! Jangan sembarangan bicara. Kau jangan asal menuduhku.. Kau tau, di hampir tiap pertemuan bisnisku, di manapun, banyak wanita mengeliling yang berharap kusentuh. Kau tau.. berapa banyak yang telah berusaha menggodaku? Kau tahu..,Anggun...,berapa kali dia berusaha memancingku. Bahkan akhir-akhir ini, dia berlebihan merayuku. Aku bukan lelaki brengsek, El..."
Duh, mak..! Setahan itukah,dia? Benarkah si garang masih sebersih itu? Kalah dong aku... Aku justru ternoda oleh Anthony Lung. Harusnya skor awal kami sama kosongnya. Haahh..! Jadi mikir ke mana-mana, macam sudah setuju dan iya, seperti aku telah rela saja pada lecehnya. Ha..ha..ha.. Tidaak!
"Sudah, El..? Habiskah umpatanmu padaku?" Garrick seperti akan duduk lagi di kasur.
"Tolong jangan duduk lagi, berdiri saja di situ." Lelaki tegap itu kembali tegak menghadapku. Aku resah jika dia tetiba jadi ketan pulut, alias edan akut. Dan ketan pulut nikmat buatan ibukulah yang ku suka, bukan dia!
__ADS_1
"Jika kita menikah...Anggun pasti gantung diri, dan calon mertuamu itu juga pasti menggantungku!" Aku memang yakin begini. Dan hal yang berbelit dan berisiko itulah yang ku hindari.
"Sudah kuminta garansi dari om David, El.. Jika kudapatkan wanita lain yang ku suka, om David menyerah. Kau di sana kemarin itu, El.. Apa kau tidak menyimak? Kau sibuk memandang Zayn?" Eh..! Aku memang berdiri menghadap Zayn. Tapi aku tidak jelalatan.
"Iya...Aku ingat." Ku akur sajalah pada katanya.
"Ada lagi yang kau pikir, El?" Garrick yang menjulang itu terus menunduk ke arahku.
"Tidak, El. Menyukai belum tentu ada cinta. Mencintai pasti sudah suka. Baiklah, aku mencintaimu, El. Kau puas? Ada lagi?" Eh.., Garrick sangat cepat menjawabku.
Duh, harusnya jantung ini putus-putus sekarang. Tapi hanya rasa puas dan teruja saja yang tiba-tiba ku dapat. Apa karena moment yang buruk begini, dangan hawa yang terlalu panas dan gerah? Atau karena aku terlalu sering naik gunung dan gila berpetualang, membuatku kelainan dan jadi manusia yang tidak punya rasa puas? Sepertinya aku perlu terapi... Terapi cinta!
__ADS_1
"El..Simpanlah, ini. Pikirkan dulu lamaranku. Jika setuju, pakailah cincin ini sebagai jawabanmu. Jika kau tolak. Simpan saja... anggap saja itu kenangan dariku. Juga kompensasi dari semua sikapku yang buruk bagimu." Garrick menghentakku dari lamunan. Kotak kecil telah diletak di depan wajahku yang sedang baring miring.
Kotak kecil ini, mengingatkanku pada benda serupa yang diberi Lung padaku waktu itu. Aku lupa membukanya. Di mana itu? Di rooftop Garju! Ya..di sanalah ku simpan. Akan kuambil kapan-kapan.
"El..Istirahatlah. Aku akan keluar. Simpanlah kunci itu. Maaf ya, El.."
Cup !
Maak..! Garangan itu mencurinya lagi! Dan pelipiskulah yang diambil. Gencar sekali si garang melakukan. Dia bahkan tidak sekedar memepetku, tapi berulang menyentuhku. Dasar, si garang ketan pulut!
Kutatap kosong si garang yang menyambar kunci di meja. Punggung samar itu lenyap ditelan pintu dengan kunci yang menggantung di sana. Gegas ku tendang jauh selimutku. Serasa menendang punggung si garang saja bagiku.
__ADS_1
Ah, apalagi nanti yang akan dibuatnya padaku. Aku seorang kacung babu, harusnya dia yang melindungiku, bukan justru mangacauku! Apa aku menikah saja dengannya?! Cinta pasti akan ada sebab terbiasa. Tapi...ah tidak... lebih baik mundur.. Ya..ya..aku resign saja! Itu putusan yang tepat bagiku. Akan ku bantu Ike mengurus kafe sedanku bersama ibuku!