
Tangan kokoh Garrick terus melingkar di kepalaku. Menahan agar terus merapatinya. Aku tak menolak, pasrah sejenak pada inginnya. Ini sementara..,demi menumpah rasa rindu-cinta tertahanku padanya.
Sungguh nyaman, meletak kepala di dada padatnya yang lebar. Sandar menyamping dengan telinga, pipi dan hidung melekat padanya. Dadaku bergemuruh jadi sangat keras berdetak. Ah, Garrick pun begitu. Sambil kuhirup harum khas tubuhnya, juga kudengar detak laju di dalam dadanya. Kurasa, Garrick pun sama, tengah berdebar kuat sepertiku. Oh, Garrick....
"El, kenapa tak bilang, jika kau tahu Anggun itu hamil?" Garrick berkata lirih dengan merapatkan wajah di rambut kepalaku. Hangat. Pertanyaan seperti ini memang pasti akan keluar dari mulutnya.
"Iya, sebab aku ingin Anggun sendiri yang bicara.Bukan kamu, aku ingin memudahkan, bukan menyulitkanmu. Aku tidak mau pekerjaanmu jadi sulit setelah ini. Dan aku juga takut, kamu ternyata tidak mempercayai ucapanku."
Augh..Deg..deg ..deg..Setelah habis bicara, Garrick tidak hanya mendekap kepalaku dengan sebelah tangan saja. Tapi kini semua tangan besar itu memelukku. Sabelah di kepalaku, sebelah lagi ke dada dan lenganku. Oh, nyamannya Garrick.., teruslah begitu.
"El.. Justru diam dengan caramu itulah yang justru menyusahkanku. Telah berhari-hari rasanya aku tak tidur. Terlebih semalam, aku hanya lelah memikirkanmu. Tapi hari ini, kau justru datang dengan Juan. Hatiku sangat sakit tadi. Kenapa kau tak berterus terang padaku, El? Apa aku terlalu pengecut di matamu?" Garrick berbicara sangat lirih, tapi begitu jelas kudengar. Bibir dan hidungnya menempel hangat di rambut dan kulit kepalaku.
"Sebenarnya aku juga tak yakin. Dengan siapa Anggun tidur. Siapa tahu, jika ternyata malah denganmu, kan. Selain aku akan malu, bukankah itu sangat menyakitiku? Jadi lebih baik, aku tak bicara ini denganmu." Mungkin inilah alasan rasionalku yang benar.
"Ah..El...!" Auwh...Garrick merapatkan pelukan sangat dalam. Dada ini, jadi sesak berdebar rasanya.
"Sudah kubilang, aku hanya pernah menyentuhmu. Dan tak mungkin dalam waktu yang singkat bisa kusentuh Anggun, lalu menghamilinya. Tak mungkin kulakukan seperti itu, El." Ah..Garrick memajukan lagi tubuhnya dengan cepat. Seperti tanpa daya, kini aku setengah di pangkunya. Pantatku di sofa, kedua pahaku di atas sebelah pahanya. Sebelah kakinya naik ke sofa, di belakangku. Dia memelukku sangat erat.
"Kau paham? Bisakah, kau percaya padaku, El..?" Augh..Garrick bertanya sambil menelusurkan bibirnya. Kini bibir itu parkir menyandar di telingaku. Garrick menggerakkan terus kepalanya. Bibir lembut hangat miliknya, menggesek pelan daun telingaku berterusan. Rasanya sungguh geli, tapi tak ingin berhenti.. Ragaku telah menghangat, kini perlahan memanas. Nafas Garrick yang menghembus di telingaku pun juga panas. Berhembus cepat dan menderu. Ah, sepertinya rindu-cintaku telah berubah jadi nafsu.
"El, kau percaya padaku?" Garrick semakin lekat memelukku. Ah, panas di mana-mana terasa di tubuhku.
"Eeellh..." Auh...Sebutan Garrick yang terengah pada namaku, membawa hawa panas di lubang telingaku.
"A..aku..Geli.." Rasanya berat dan tak rela saat kudorong dadanya agar menjauh dariku. Tapi dorongan tanganku sama sekali tak berarti. Badan ini tetap saja merapat dengannya, Garrick menahanku sangat kuat dan menyambar tanganku di genggamannya.
Ah, kurasa si garang tengah kalap dalam hasrat...Sebenarnya, aku pun juga sama dengan yang dirasanya..
__ADS_1
"Eeelh..., kau percaya padaku...?" Garrick terus erat mendekapku.
Aku mengangguk. Ah, rasanya sangat susah bersuara. Bibir dan hidung mancung Garrick telah gencar menciumi telingaku. Kian panas berdebar tubuhhku. Nafas Garrick juga makin menderu.
"Ah..a..aku..Gellii..." Meski menyenangkan dan ingin berterusan, tetap saja aku waras. Aku tidak lupa prinsipku.
"Sebentar lagi, Eelh..." Garrick terus mempererat pelukannya saat kuingin mendorongnya. Tetiba bibir panas itu menjauh dari kulit telingaku.
"Eeel.. Aku mencintaimu. Apa kau juga, El?" Ah..!!Dug..dug..dug...Oh, Garrick...Akhirnya tanya yang kuharap itu kudengar. Sejenak kembali luluh dengan soalan yang membuatku melayang. Kembali larut dalam pelukan lembut eratnya. Kuhirup nafasku sepenuh di dada.
"Iya.. Aku juga cinta.." Kudesis kalimat sakral itu dari bibirku. Aku tak ragu, memang itu yang kutunggu sedari dulu..
"Ah..Eeeelh...." Garrick tercekat menyebutku. Suaranya sangat lirih. Auwh..Terlalu dalam dekapannya padaku. Ah, aku kian panas..
"Eeelllh... Aku ingin menikahimu. Ayo kita menikah cepat saja, Eellh.." Maak! Ah...Suara parau Garrick ini membuatku teruja lagi yang sangat. Akhirnya... Harapku terwujud. Tapi..
"Boss Garrick... Caramu mengajakku nikah tidak pernah baik dan romantis. Sebenarnya, kamu ini tengah melamarku atau hanya nafsu padaku...?" Cara anehnya melamarku malam itu, kembali diulang lagi kali ini. Dan parahnya, aku tak merasa dilecehkan.
Aaarrghh..! Begitu cepat aku di angkat dan kembali didudukkan agak jauh darinya. Deg..deg..deg.. Apa maksudnya? Garrick redup sayu menatapku dengan wajah yang kusut dan tegang. Oh..sangat tampan sekali!
"Eell.." Garrick menyebut namaku berdesis.
"Iya.." Kutenangkan diriku, sambil mengatur nafas perlahan. Tapi mungkin wajahku ini masih saja memerah.
"Tentang nafsuku padamu, jangan salahkan aku. Itulah, aku ingin cepat kita menikah. Selain agar kau cepat halal kumiliki, tapi alasan aku ingin menikahimu... Aku mencintaimu, ingin bahagia denganmu, mempunyai anak darimu, dan menua bersama denganmu. Susah dan senang kita harus bahagia selalu bersama. Aku tak tahan jika kau dilamar orang dan jika kau dinikahi orang lain, El.."
Garrick terdiam sejenak. Ehm.., ucapan dia barusan sangat enak di dengar. Seperti hamparan janji masa depan indah memabukkan untukku. Hatiku kembali bergemuruh. Oh, Garjuuu...Aku benar-benar padamu.
__ADS_1
Eh,mau apa dia.. Badan besar itu kembali bergeser mendekat. Oh, Garrick kembali menggenggam sebelah kanan tanganku.
Ah..Sebelah tangannya menggenggam telapakku.Tangan sebelah menepuk-nepuk lembut punggung tanganku perlahan. Seperti sikap ayah pada anaknya.Oh, Garjuuu.. Kamu mengingatkanku pada ayahku.
"El,bagaimana?Aku ingin cepat menikahimu." Suara pria menawan di depanku sangat lembut berkata. Matanya redup menatapku. Irish coklat miliknya berkilat cerah namun terasa teduh saja kupandang. Ah, bagaimana ini...
"Sebenarnya, aku juga ingin menikah cepat-cepat denganmu. Tapi.." Aku ragu-ragu meneruskan bicaraku.
"Tapi apa, El..?" Auww..Garrick bertanya memandangku, tapi tangan Garrick mulai ******* ***** tanganku.
"Aku ingin menikah di Jawa. Apa kamu sanggup mengikutiku?" Aku ingin cepat selesai berbincang. Menghindari remasannya yang pasti akan berlarut menyiksaku.
"Apa minta restu pada ibumu, lalu mengundang ibumu dan para kerabatmu ke sini, kamu tidak suka, El?" Garrick lembut memandangku. Tapi tangannya terus saja meremasku.
"Tidak. Maafkan aku. Aku ingin jika suatu saat menikah, di rumahku saja. Bukan di mana-mana ataupun jauh-jauh." Ya, aku ingin menikah tidak jauh-jauh.., tapi cukup dilakukan di rumah ayah dan ibuku.
Tempat di mana aku telah dididik dan dibesarkan oleh beliau berdua di sana. Rumah tempatku tertawa dan menangis sepuasnya di sana. Rumah bersejarah yang penuh kenangan indah, dan mungkin akan kutinggalkan setelah menikah dan berkeluarga. Jika akhirnya Garricklah jodohku, kemudian kami menikah, dan lalu jadi suamiku. Tak mungkin dia akan betah untuk tinggal diam di sana... Ah, Garrick, sedihnya hatiku...
π’π’π’π’π’π’π’
π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
π’π’π’π’π’π’π’π’
πTerimakasih segala dukunganmu. Yang berbaik hati..bermurah hati... ikhlas memberiku hadiah. vote. komen.like. favorite. segala doa baik untukku. dll. Sangat berterimakasih. Maaf juga, kedatangan komentar para reader yang baik belum sempat kusambut.
Dan para reader ghoibku.. yang tak berminat meninggalkan jejak apapun padaku. Tetap juga kuberterimakasih denganmu. Tapi, kudoakan agar kalian segera mendapat hidayah. Lalu tergerak memberiku bermacam hadiah.. like.komen. vote dll.. Oh reader ghoibku nan gelap..siapa saja dirimu. Menampaklah, agar bisa kukenang namamu! πππππββππβ€β€
__ADS_1