Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
96. Anggun Kurus


__ADS_3

Percakapanku dengan Sari terpaksa kuputus. Si garang telah sampai turun ke lobi lebih cepat dari yang kukirakan.


"Sari, kita bincang lagi saat senggang, boss kita telah datang!" Kuseru lirih pada Sari.


"Iya, Elsi. Lebih seringlah turun lobi. Jangan terus mendekam saja di atas!" Sari berseru sambil pura-pura duduk manis kembali di kursi.


"El.., ayo ke Kanaya...." Ish.. Garrick sangat lembut memanggilku. Sari bahkan melotot seperti akan meloncatkan bola mata.


Cepat kupalingkan wajah dan berjalan mengikuti Garrick. Tak ingin melihat wajah tanda tanya dari Sari. Aku pun juga merasa tak enak sendiri saat ini.


"Kau berbicara apa kali ini dengannya, El..?" Garrick bertanya pelan sambil melambatkan langkah menungguku. Aku memang berjalan di belakangnya agak jauh.


"Tidak banyak, hanya berharap gaji kami tahun ini akan naik berlipat...Bukan yang lain." Memang itulah harapan Sari yang dikatakannya padaku.


"El..,tanyakan pada Sari, ingin berapa kali gajinya kunaikkan dalam setahun? Apa naik gaji tiap enam bulan itu tidak cukup?" Penjelasan Garrick ini cukup mudah kumengerti. Ah.. Sari,kau sungguh terlalu, dikasih darah mintanya jantung, mati dong bossku!


"Tak akan kutanyakan. Itu sudah bagus dan lebih dari cukup. Maaf, boss." Garrick lebih lambat lagi melangkah. Kini kami telah jalan sejajar bersama.


"Kau tidak ingin kunaikkan gajimu?" Kami sudah hampir memasuki Kanaya. Garrick berhenti dan berbalik memandangku. Kugelengkan kepalaku.


Garrick mengangkat kedua alisnya menatapku ingin tahu. Ah, ini adalah tatapan dengan rasa berbeda untuk yang pertama di saat terang benderang di luaran. Mata coklat itu seperti menyetrika wajahku. Apakah aku sedang cantik? Apa mataku masih tetap bersih, tanpa taik mata yang muncul di pojok? Oh, Garju, sudahilah pandanganmu!


"Itu memalukan, aku tidak akan meminta. Yang telah kudapat darimu, sudah tak terbaca lagi jumlahnya. Lagipula, habis acara nikahanmu, aku akan pulang kampung ke Jawa." Kutundukkan wajahku. Memandang mata coklat si garang rasanya menyedihkan.


Iya, aku akan bantu ibuku mengurus usaha kateringnya saja di Malang. Kafe sedanku, biarlah diurus Ike dan Anang. Mereka harus mentransfer income kafe Sedan padaku tiap bulan. Aku tak risau, semua dokumen hak milik telah kudapat dan ada padaku.


"El..Kau bicara sungguh-sungguh?" Cepat kuberkelit ke belakang, Garrick mengulur tangan akan memegang lengan bahuku. Aku tak ingin disentuhnya lagi. Meski ini kurasa menyesakkan..


"Iya, sungguh. Aku tak cocok merantau." Kupandangi dadanya, dada lebar yang semalam kusandar kepalaku sangat nyaman di sana.


"Kau akan bertemu Juan?" Garrick melangkah maju mendekatiku dan aku pun melangkah mundur menjauhinya.


"Aku dan Juan pasti akan bertemu.. Tapi tentu bukan untuk bersama." Kukuatkan menatap wajahnya. Wajah yang biasa horor garang, kini hanya teduh saja yang sisa. Boss Garjuku sungguh tampan.


"Lalu.. Apa aku sangat menyakitimu, El?" Garrick maju lagi, aku tak mundur. Teras Kanaya telah habis lebarnya di belakangku. Kami berdiri saling pandang sangat dekat.

__ADS_1


"Tidak. Aku sudah rela. Kita tak jodoh. Kukejar pun tak guna, kutunggu pun tak datang." Kutatap wajah teduhnya.


"Maafkan aku, El. Kumohon padamu, jangan bicara begitu lagi, El. Lalu, kenapa kau pulang?" Garrick berkata lirih dan terlihat mendesak ingin tahu.


"Karena... Karena uang yang kudapat darimu sudah sangat banyak. Aku akan bersenang-senang dengan uangku. Untuk apa lagi aku bekerja di sini?" Kuberi senyum manis padanya. Kuharap, dengan jawaban palsuku ini, dia tak lagi terlalu merasa bersalah. Biarlah Garrick bahagia dengan pilihannya.


"Benarkah..? Kau sungguh matre, El. Akan kutambahkan lagi ke akunmu hingga kau tak bisa menghitungnya." Garrick mendekat lagi. Kurasa pria ini sedang lupa dirinya di mana.


Ini sore hari, bukan senja atau malam.


"Boss, tolong mundurlah. Jangan membuatku malu!" Kuhardik lirih si garang. Berharap dia segera tersadarkan.


Mata coklat pekat itu meredup "Maaf, El..Ayolah.." Garrick telah mundur kembali ke tempatnya semula. Dan lanjut jalan pelan menuju dalam butik dengan aku yang mengekor cantik di belakang.


Orang-orang Kanaya yang melihat datangnya bos Garju, menunduk menyapa dengan hormat. Dan aku mendapat cipratan senyuman mereka. Orang di Kanaya juga hampir semua menghafalku. Aku sering keluar masuk beli baju dan cuci mata di Kanaya.


"Tuan Garrick, non Anggun dan ayahnya telah menunggu anda di atas.."


Ucapan salah seorang pegawai Kanaya itu masih samar kudengar. Aku telah menjauh pelan dari Garrick, dan menyelip di antara deretan baju-baju. Kurasa hanya setakat sinilah fungsiku menemani.


Deg..Augh.. Garrick telah berdiri dekat di sisiku dengan tangan yang telah menggenggam erat tanganku. Aku dan Garrick berperang mata sesaat, sekali lagi aku tak kuat. Kubuang mukaku, kutarik pelan tanganku kuat-kuat. Gagal...


"El, maafkan keegoisanku..temanilah aku." Garrick setengah berbisik di atas kepalaku. Sambil ditarik pelan tanganku untuk mengikutinya. Kutahan kuat tarikannya. Kucengkeram kuat kakiku untuk berdiri ditempat.


"Lepaskan tanganku dan berjalanlah jauh di depanku!" Kini aku yang berbisik keras padanya.


Garrick mengikuti, dia berjalan di depan setelah pelan melepas tanganku. Kuikuti dengan ragu, bayangan wajah pak David begitu jelas di kepalaku.


Tap..! Tap..! Tap..! Tap...! Tap..!


Bunyi sandal cantikku dan sandal manly punya Garrick, jelas beradu bunyi di lantai dua butik Kanaya hotel Garju. Butik mewah sangat luas ini menggemakan suara langkah kami memenuhi ruang butik lantai dua.


Lantai dua ini dibagi lagi jadi tiga, ruang santai..ruang berisi baju pesta..dan ruang berisi penuh baju pengantin segala genre yang indah. Kesan nyaman butik diperkuat dengan alunan musik lembut yang mengalun berirama.


Segera kerisauanku tadi cepat terwujud tiba-tiba. Pak David muncul dari ruang baju pengantin yang terbuka pintunya saat aku dan Garrick telah mencapai ruang santai. Tak kulihat Anggun bersamanya. Tapi dua orang pegawai Kanayalah yang justru ada di sampingnya. Dan pak David nampak terkejut melihatku datang bersama Garrick.

__ADS_1


"Tuan Garrick, silahkan coba baju pengantin anda di dalam.." Salah seorang gadis Kanaya itu berkata pada Garrick.


Kedua gadis Kanaya mengikuti Garrick ke dalam ruang baju pengantin. Dia tak mengajakku, apa aku ikut saja..Aku enggan jika berdua saja dengan pak David. Ah, baiknya aku ikut saja.


Eh.., tanganku tertahan, langkahku tertahan. Pak David telah menyambar pergelangan tanganku. Garrick..., dia telah hilang dari pandangku.


"Elsi..." Namaku disebut pak David. Kuputar badanku. Kini kami saling berhadapan. Aku diam memaandang penuh protes padanya


"Apa masud pak David begini?" Kuputar tarik tanganku, tapi tangan kekar pak David sangat kuat mencengkeramku.


"Apa maksudmu datang dengan calon menantuku, El..?" Ucapan pak David terkesan dingin padaku. Jauh beda saat aku dinner bersamanya.


"Saya pekerjanya, pak David. Saya sedang bekerja." Kujawab sopan rasa penasaran pak David.


"Bukankah kau sudah pindah kerja ke kafe di Mega Mall itu?" Pak David berkerut dahi padaku.


"Saat itu saya hanya cuti panjang. Sekedar part time saja, pak David." Aku tak ingin mengaku bahwa kafe Sedan itu milikku. Tak ingin hal tak baik berlaku di kafe Sedan, kasihan Ike dan Anang. Juga tak ingin Garrick bermasalah dengan camernya.


"Aku sangat terkejut tahu hal ini, Elsi.." Pak David masih memegangi pergelangan tanganku.


"Jangan khawatir, saya tak akan mencuri calon menantu anda, pak David." Aku paham akan risaunya tentang ini.


"Kau memang tidak mencurinya, tapi kau sudah mengambil hatinya. Kau jangan mengecewakanku, Elsi." Ucapan pak David sangat dalam penuh tekanan, ini adalah ancaman darinya.


"Saya tidak bermaksud mengambilnya, pak David. Apa pun yang terjadi, saya tidak pernah memulainya." Meski tanganku sudah kuhentak-hentak kuat, tapi pak David tak juga melepasku.


"Om...." Tanganku bebas seketika bersamaan panggilan Garrick pada pak David. Garrick sudah di pintu memandang tajam pak David.


"Apa yang om David buat pada tangannya?" Garrick terlihat sangat heran dengan apa yang sempat dilihat oleh matanya.


"Aku hanya membandingkan tangannya dengan tangan Anggun, Rick. Tangan Elsi cukup bagus, sedang tangan Anggun sangat kurus. Kuharap setelah kalian menikah, kau bisa membuat Anggun seperti dia." Oh, pak David pandai sekali beralibi..bahkan justru penuh penyindiran pada kami. Ish...


"El, kemari..,ikutlah aku!" Garrick seperti tak peduli pada parkataan pak David. Gas kuikuti Garrick ke dalam.


Deg...Ah, rivalku ! Ya, telah ada Anggun menatap sinis padaku. Anggun dengan baju pengantin yang indah melekat di tubuhnya. Anggun nampak cocok dan cantik dengan gaun pengantin warna putih, body langsing tinggi putihnya semakin terlihat menjulang dengan baju itu. Kuakui kata-kata ayahnya, Anggun memang kurus!

__ADS_1


Eits..,ada lagi yang janggal di mataku. Anggun memang cantik..tapi kali ini wajah masamnya itu nampak lelah. Matanya sayu.., lingkar mata nampak cekung. Bibirnya, terpoles lipstik merah menyala warna darah. Ada apa dengannya..Wajah ceria itu tak berbekas.. Bukankah harusnya dia bahagia.. Apalagi yang sedang dipikirnya?!


__ADS_2