Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
58. Bye..Anthony Lung!


__ADS_3

Ku pandang tuan garang, berharap sedikit sokongan darinya. Orang yang ku pandang begitu tenang. Seperti perbincanganku dengan Lung ini sekedar tontonan baginya.


"Benar, Lung. Dia datang ke sini sebab lari dari orang kuat yang melamarnya." Hah..Dia bersuara, bala bantuan darinya datang! Ucapan Garrick terdengar acuh, tapi tetap saja itu menguatkan penolakanku.


"Itulah, Rick. Apa salahnya, aku mencoba? Atau, bagaimana jika bekerja saja denganku, El? Seperti yang pernah kutawarkan waktu lalu. Ku bayar tinggi, kau El.." Anthony Lung kembali menatapku, wajah itu tidak lagi memerah.


"Ah, sudahlah, Lung. Ku rasa dia tak mau. Dia sudah bekerja padaku. Menikah sajalah dengan pilihan ibumu itu, Lung." Kini Garricklah yang mewakili bicara, seperti yang ku harap diam-diam.


"Jangan kau samakan aku denganmu, Rick. Tunduk pada perjodohan, tapi kau tak gembira kan?" Anthony Lung membuka kartu pribadi Garrick.


"Aku hanya ingin menghargai jerih payah keluargaku dan Anggun, Lung. Ku harap, aku akan menyukai Anggun lambat laun." Garrick terdengar datar berkata, memandangku sekilas, sebelum menekuk wajahnya.

__ADS_1


"Lambat laun apa, Rick?! Kalian sudah saling kenal dan berteman dari kecil. Perasaan kalian itu akan berubah bosan, tanpa sempat menjadi rasa cinta. Seharusnya kau sudah menyukainya. Tapi tidak kan?" Obrolan ini sudah berubah pembahasan. Pembahasan tentang Garrick...


"Apa kau juga sepertiku, Lung?" Garrick menuang lagi minuman di gelas. Isi piring yang hampir masih utuh itu tak lagi disentuhnya.


"Aku juga sudah lama mengenal wanita yang ditawarkan padaku itu. Tapi aku tak sepertimu, Rick. Aku bahkan telah mengamati banyak wanita di kapal. Sampai aku bertemu dia. Aku menyukainya sejak pertama bertemu. Aku sudah bilang padamu tentang itu, Rick. Tapi kesilapanku terlalu buruk di matanya." Anthony Lung berbicara dengan tuanku, tapi matanya terus menatapku, mungkin berharap ku rubah putusan hatiku.


Drrrrt..Drrrt..Drrrt..Drrrt..Drrrt...


"Kapten kapal telah memanggil. Aku akan ke lautan. Kapan kau berlayar lagi, Rick?" Anthony Lung dan Garrick sedang saling jabat tangan.


"Aku belum tahu, Lung. Sementara pada Hartono sajalah ku percayakan kapalku." Jawaban Garrick mengingatkanku pada Ton, asisten tinggi besar di kapal. Jadi namanya bukan tronton atau sebangsanya, tapi Hartono!

__ADS_1


"El..Selama kau tak menikah. Harapanku tetap ada. Kau ingatlah kata-kataku!" Lung mengulur tangan padaku. Karena iba, jadi kubiarkan Lung lama menjabatku. Aku diam memandangnya, hingga dilepas sendiri tanganku. Lung tengah mengambil sesuatu di saku kemejanya.


"El..Ini ikhlas dariku. Simpanlah, El !" Anthony Lung mengulur sebuah kotak kecil ke tanganku. Termangu saja ku terima. Siapa tau ini batu delima... Matre..? Bukan inginku, aku tak minta. Jika iya..Aku hanya matre pada waktu yang tepat dan pada orang yang tepat. Jadi, tolong jangan sinis padaku!


"Terimakasih, bang Lung. Apapun..Ini bukan pemaksaan darimu, kan?" Kupastikan bahwa aku tidak terikat apapun dengannya.


"Tidak, El. Pure itu hanya hadiah." Lung tersenyum meyakinkan. Kemudian berpamitan.


"Hati-hati, Lung! Selamat berlayar!" Garrick berseru. Lung melambai sebelum benar-benar berlalu. Lung menapak jalan lain dari yang tadi kami lewati.


Ku genggam erat kotak kecil dari Lung. Lelaki itu...Lelaki pertama yang mencium pipiku..Kini telah pergi berlalu. Akankah dia akan kembali? Atau kemudian bertemu tambatan hati? Semoga, pilihan terakhir itulah yang terjadi. Agar dia bahagia sebagai lelaki sejati di dunia ini! Bye...Anthony Lung!

__ADS_1


__ADS_2