
Gadis langsing yang sedang mencuci muka di wastafel itu, telah mengubah sedih tangis yang kubawa menjadi luapan emosiku padanya. Sikap egois sinis Anggun telah menyentak sisi sadisku yang datang dan siuman.
Wajah basah pucat pasi dengan bibir suram yang tak lagi semerah darah itu perlahan terangkat. Menatap pada cermin lebar di sepanjang deretan wastafel di toilet. Mata yang sedang kutunggu melihatku, akhirnya menatapku. Kami saling pandang dengan tatap penuh benci di cermin.
"Apa perasaanmu sudah pulih? Pertanyaanku tadi belum habis, jadi bersiaplah..dengar dan jawablah dengan baik!" Kutatap tajam mata sayu yang masih juga nekat menjeling mata padaku.
"Keluarlah, tinggalkan aku sendiri di sini !" Suara Anggun melengking padaku.Dia sangat tertekan kali ini. Tapi meninggalkannya begini, seperti membuang kesempatan yang hakiki.
"Apa aku terlalu mengganggumu? Apa yang sangat kau takutkan dariku? Aku hanya bertanya hal yang pasti kau bisa menjawabnya." Aku berbicara sedingin mungkin. Kumajukan diriku, kami berdiri berdekatan. Anggun terus memandangku di kaca.
"Sekarang katakan yang benar, kau sudah tidur dengan siapa saja? Dan siapa yang akhirnya menghamilimu?" Anggun nampak tidak terima dan sakit hati dengan ucapanku yang sengaja kulebaykan. Matanya memicing menatapku.
"Jaga ucapanmu, gadis binal!" Oh, perempuan ini masih punya kekuatan untuk mengataiku.
"Kau bilang aku binal? Lalu kau yang sampai hamil begitu, sebutan apa yang tepat untukmu? Jallangg?! Ha..ha..ha..!!!" Ah, Anggun itu memang keras kepala. Matanya tidak juga menangis, justru tetap saja menanarku yang sedang kura-kura tertawa.
"Tutup..mulutmu, pembantu.. hina!" Meski suara Anggun terdengar gemetar, masih nekat terus menyerangku. Bumil satu ini memang dahsyat.
"Tutup juga lidah ularmu itu..! Katakan padaku. Siapa yang menghamilimu?" Kuabaikan makiannya. Anggun akan semakin menjadi jika ditanggapi.
"Bukan urasanmu!" Hemm... Angguuuun..
"Tentu saja urusanku. Calon suamimu, Garrick, nyatanya mencintaiku. Kami saling mencintai. Dan terpaksa juga, Garrick kuberikan padamu. Tapi ternyata kau membodohinya. Kau masih bersama Juan! Kau mencari kesenangan dengan Juan. Rekam video yang kubuat saat kalian di bioskop 21 Nagoya, jika mau, akan kutunjuk pada calon suamimu. Kau menipu Garrick, aku tidak rela.. Aku akan gentayangan menerormu!" Anggun berkerut memandangku di kaca.
"Jangan kau lakukan itu!" Anggun berseru dengan susah. Suaranya agak serak.
__ADS_1
"Kau tidak ingin kan? Jadi, jujurlah, Garrick tidak pernah menyentuhmu kan? Tidak pernah juga menciummu.. Dan...,apa Garrick sudah bilang cinta padamu? Tidak pernah bukan? Semua yang tidak pernah dilakukannya padamu, sudah dilakukannya padaku. Garrick lebih memilih menyentuh gadis binal sepertiku daripada menyentuhmu! Apa hatimu tidak sakit? Jika sakit, lepaskanlah Garrick. Katakan akan kebuntinganmu itu padanya!" Ah..Mata Anggun mulai berkaca berair..
"Jika kau tetap ingin meneruskan pernikahanmu ini, jelas kau hanya tamak. Kau bersenang-senang dengan Juan, sampai tubuhmu pun kau berikan. Tapi kau terus menginginkan yang terbaik. Kau ingin memiliki yang lebih sempurna lagi. Kau ingin mengikat calon suamimu, tapi kau mencari kepuasan pada Juan. Kau serakah Anggun." Anggun menunduk dan membisu.
"Hiks...hiks...hiks...hiks..." Ah..akhirnya Anggun menangis. Perempuan itu sedikit membungkuk di wastafel..mungkin akan muntah lagi di sana.
"Huek..! Huek..! Huek..! Hueek..!" Benarr..! Ini kesempatanku untuk mengoyak telinganya.
"Anggun, batalkan pernikahan ini dari mulutmu sendiri. Katakan dan mintalah batal pada ayahmu. Kuberi kesempatan padamu sebelum pak penghulu datang menikahkan. Jika kau tetap bisu, jangan menyesal. Aku akan mempermalukanmu di depan banyak orang. Ingat, aku sungguh-sungguh, Anggun!" Kuakhiri bicaraku. Rasanya sudah puas dan cukup. Kutinggal Anggun dengan pintu toilet yang kembali rapat kututup.
***
Garrick telah duduk di sofa sebelah pak David yang tadi ditawarkannya padaku. Pria bermata coklat itu berdiri begitu melihat datangku.
"Hanya mengobrol." Tatapan Garrick seperti sedang menyelidikku.
"Mengobrol? Dengan siapa, El..?" Garrick maju mendekatiku.
Tak..!Tak..!Tak...!Tak...!Tak..!
"Hei, gadis jelita! Aku ada sesuatu yang ingin kutunjuk untukmu!" Suara Kanaya Linha terdengar nyaring bersamaan bunyi sepatu high heels di kaki. Tangannya sedang membawa sebuah gaun baru warna navy dan tosca. Pemilik butik setengah baya yang cantik itu menghampiriku dan akan menyentuhku.
"Sini.." Lenganku telah ditarik lembut oleh tangan Kanaya Linha ke arahnya. Kutunggu saja apa maksud sang pemilik butik menarikku. Garrick hanya diam di tempat memandang aku dan Kanaya Linha.
"Asistennya Garrick...Emm..namamu, El.,kan?" Kanaya Linha mengamatiku.
__ADS_1
"Ya, kak. Elsi..." Kuperjelas namaku. Mungkin dia sering mendengar dari orang lain yang hanya memanggil El padaku.
"Aku mempunyai koleksi simpanan baju terbaikku. Menunggu orang yang cocok membeli. Sebenarnya ingin kupakai sendiri, tapi merasa diri sudah tak patut." Kanaya mulai membentang baju itu di badanku.
"Sudah kuduga, ini akan indah di tubuhmu. Aku hanya memberi tawaran padamu, tidak pada yang lain. Baju ini hanya rela kulepas untukmu. Ambillah, El..hanya dengan harga dua puluh lima persen saja. Itu upahku menyimpankan untukmu." Kanaya menunjuk label harga padaku.. Dress ini memang bagus dan sejalan seleraku. Harga dua puluh lima persen dari label harga yang tercetak itu memang seperti gratis saja nampaknya.., tapi masih mahal!
"Kanaya..Masukkan saja ke total tagihanku, bersama baju pengantin itu ..!" Aku dan Kanaya bersamaan menoleh pada orang yang berbicara di belakangku. Garrick...,tapi telah ada Anggun dan pak David di dekatnya.
"Baiklah.. Tapi jika kau yang membayar, harga ini utuh bulat, tanpa diskon. Bagaimana..?" Kanaya tersenyum pada si garang. Dan calon pengantin pria itu mengangguk cepat sambil memandangku.
"Kak..! Aku tak mau baju pengantin kita dicemari oleh bajunya..!" Oh..oh..oh..Si Angguun..Hem tak insaf juga dia rupanya!
"Hanya total tagihan saja Anggun. Kanaya, masukkan saja..!" Garrick tak peduli dengan rengekan si Anggun.
"Kanaya..., biar kubayarkan. Jangan kau tambahkan pada pembayaran baju pengantin mereka.." Kali ini pak David yang bersuara ingin membayari bajuku! Kulirik Anggun yang nampak termenung memandang pak David. Mungkin sambil merenungi kebenaran ucapanku tentang ayahnya di toilet.
Kanaya Linha tengah memegangi sebuah kartu yang diterimanya dari pak David. Pemilik butik itu memandangku bertanya.
"Bagaimana, El..? Kau menyukai baju ini dan berminat memakainya kan? Sekarang kau bahkan tak perlu membayar sepeser pun. Kau sangat beruntung, Elsi.." Kanaya Linha menyodorkan kembali baju itu padaku.
"Akan kuambil baju simpananmu ini, kak. Tapi akan kubayar sendiri. Harga yang kakak beri sangat bagus, jadi aku masih sanggup membayarnya sendiri." Pak David nampak kecewa menatapku. Garrick pun tengah mengangkat alisnya padaku.
"Apa..!.Kau bayar sendiri? Kau ada uang?!" Anggun menyambar. Mata bulat itu tercengang memandangku.
"Tentu, tuan Garrick tak pernah lambat membayarku. Jadi, aku tak pernah merasa kekurangan uang sedikit pun !" Kupandang Kanaya Linha yang mematung dan lalu tersenyum memandangku.
__ADS_1