
Mega gedung yang dibangun dalam waktu kurang lebih dua bulan saja itu telah berdiri nyata dan megah. Mungkin bisa dikatakan sembilan puluh persen target telah tercapai. Yang sepuluh persen itu hanya tinggal finishingnya. Meliputi pemasangan lampu, pengecatan, perabotan dan penataan dekorasi. Itulah yang mas Armand terangkan padaku.
Bermakna, tugasku menyuplai makanan berupa nasi kotak isi komplit, sebentar lagi juga usai. Mungkin besok, mungkin lusa. Sebab, setelah hotel selesai sempurna dan siap beroperasi, gedung hotel akan disterilkan sementara. Baru kemudian akan benar-benar dibuka dan diproduktifkan. Sedang hotel pun pasti sudah memiliki staff dapur beserta kokinya sekalian. Itulah sambungan penjelasan mas Armand padaku.
Kupandangi lelaki di depanku ini dengan perasaan tak menentu. Ada rasa kecewa, sedih dan kehilangan. Namun juga ikut lega seperti halnya yang mas Armand rasakan. Tidak mengapa, toh aku juga lelah. Tanpa liburan sehari pun seperti juga mereka. Bahkan aku tak paham bagaimana mas Armand mengatur waktu istirahat dan tidur mereka dan juga dirinya.
Kasihan, mas Armand dan seluruh pekerja telah berusaha keras dan tentu sangat berat. Dan yang membuat mas Armand puas dan lega, ini adalah proyek pertama yang dipegangnya. Proses pembangunan berjalan sangat lancar dan tanpa hambatan yang berarti.
Terlebih lagi, satu yang sangat dikondisikan oleh mas Armand, jangan sampai ada pekerjanya yang celaka dan fatal dalam proses pembangunan. Memang, aku juga sering mendengar berita adanya kasus kecelakaan kerja yang mengakibatkan korban jiwa. Dan hal seperti itu pasti berpengaruh pada kenyamanan saat proses pembangunan berlangsung.
Aku ikut senang, proses pembangunan berjalan selamat dan kondusif. Mas Armand memang berkompeten, padahal ini adalah bidang pekerjaan baru yang pertama baginya. Boss mas Armand tidak salah mempercayakan pekerjaan berat ini pada orang yang tepat, mas Armand.
"Jika hotel ini beroperasi, pasti perlu banyak pekerja baru ya, mas?" Mas Armand berdiri menjauh dariku. Sang mandor proyek rupanya tengah merokok. Baru kali ini kulihat lelaki itu merokok. Mungkin hatinya telah lapang. Atau justru tengah gamang?
"Iya, El. Hal baru itu memang sedikit ribet." Sang mandor yang baik itu kembali mengisap batang rokok sangat dalam sambil melihatku. Sepertinya, asap yang didapatnya dari menghisap batang rokok itu sangat nikmat.
"Apa mas Armand juga yang akan ikut mengurusi masalah perekrutan pekerja?" Ada bersit sesuatu yang tiba-tiba kupikir.
"Tidak, El. Itu bukan urusanku lagi. Biasanya hanya orang HRD yang akan mengurusnya. Tapi, bisa jadi boss besar sendiri yang akan mengeksekusi, biasanya untuk posisi penting akan dipilihnya sendiri." Mas Armand memang sedang senggang saat ini. Jadi dia mau mengobrol santai denganku. Keterangan mas Armand membuatku sedikit tahu, bagaimana cara kerja boss besarnya.
"Mas....Kira-kira ada nggak lowongan untuk job penyambut tamu?" Kucermati wajah mas Armand yang berkernyit merenungku.
"Apa kau berminat melamar jika ada lowongan? Hanya resepsionis yang ingin kau coba?" Wajah manis lelaki itu serius menatapku.
"Iya, mas. Hanya itu." Ya, diam-diam aku terobsesi dan ingin merasakan posisi Sari. Menyambut dan melayani tamu hotel. Yang lain, aku tidak ingin sedikit pun. Lebih baik tetap jadi asisten ibuku. Kuakui, aku sekedar rindu pada Sari.. Ah, Sari. Kamu apa kabar?
"Baiklah,El. Akan kutanyakan pada HRD hotel ini. Tapi jika sudah ada ya..." Mas Armand sudah habis merokok. Puntung rokok yang dijatuhkan di lantai, dipijak ***** dengan ujung sepatu proyeknya.
"Terimakasih, mas. Aku menunggu kabar darimu." Aku berdiri dari dudukku, sebuah kursi proyek yang tadi disodorkan mas Arman.
"Sama-sama, El. Kupastikan, kau tak kan ketinggalan kabar itu!" Mas Armand berseru sambil kembali memasuki gedung dan meninggalkanku.
...π’π’π’π’π’...
Minggu pagi ini, ibu akan mengirimku ke desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan di daerah Malang selatan. Tepatnya, ke Pantai Goa Cinalah tujuan utama kami. Meski jauh, jumlah orderan yang lumayan banyak membuat ibu kekeh mengambilnya.
Bisa ditebak kan, siapa yang akan mengantarku? Ya..., mas Ninolah sang kurir pengganti GoCarku yang sudah sangat dekat dengan ibu, melebihi kedekatannya padaku. Ibu dan mas Nino bahkan sudah saling bertukar pesan di balik punggungku.
Hasil berbalas pesan itulah yan sekarang terjadi... Tiba-tiba mas Nino datang. Dengan gerak gesit dan tanpa sungkan, ibuku bersemangat menata seluruh nasi kotaknya memenuhi ruang mobil mas Nino. Aku pun tak berdaya menolak permohonan ibuku.
__ADS_1
Itulah, kini aku dan mas Nino sedang di perjalanan menuju pantai Goa Cina di Malang Selatan. Sedang ada acara syukuran dan pengglembengan untuk anggota baru di club besar profesional sepak bola Malang, Arema Football Club.
Arema FC adalah club bola yang telah masuk dalam kasta tinggi bola nasional dan sebagai maskot serta kebanggaan khas Malang. Dan untuk club bola 'Singo Edan' inilah tujuan nasi kotak ibu kuhantarkan. Ah, singo edan..,jadi ingat kamu. Kamulah singo edan itu Garrick..
"Elsi...." Mas Nino memanggilku.
"Ya..Kenapa, mas?" Kupandang wajah dokter muda yang tampan itu.
"Kita sebentar saja di sini ya, El... Anak Arema kadang disusupi garis keras. Kita hindari saja hal seperti itu." Aku langsung mengangguk memahami. Di mana ada perkumpulan, tak jarang ada kericuhan di dalamnya kemudian.
Bergegas kami menuju goa Cina. Goa kecil tersembunyi yang terletak di pulau kecil, di atas pantai Goa Cina. Dijuluki goa Cina karena di dalam goa, dulu pernah di gunakan seorang warga Cina untuk bertapa hingga bertemu matinya.
Meski belum puas berkunjung ke pantai indah Goa Cina, kami harus segera mengakhiri. Seluruh bibir pantai telah dipenuhi oleh para lelaki berkostum biru tua itu. Memang ada perempuan, tapi hanya ada beberapa.
Di perjalanan pulang setelah meninggalkan pantai Goa Cina, mas Nino membelok ke sebuah pantai yang lain. Letaknya sangat mudah, begitu mepet dan terlihat dari jalan besar yang kami lewati. Pantai Bajul Mati namanya.
Kami telah puas menyisir garis pantai dan menantang ombak kecil yang datang menerjang di kaki. Lelah yang akhirnya kami rasa setelah bermain puas di air pantai, kami hempaskan dengan duduk selonjor santai di bawah pohon kelapa yang jauh dari bibir pantai. Mas Nino telah membeli kelapa muda yang begitu menyegarkan saat kuteguk melalui sedotan yang kusesap.
"El..."
"Apa orderan naskot di proyek Armand sudah selesai?" Sambil sandaran di batang pohon kelapa, mas Nino bertanya memandangku.
"Apa jadwal kerjamu mengantar orderan milik ibumu sangat padat?" Mas Nino memutar sedotan yang menancap di kelapanya.
"Lumayan santai, mas." Semenjak habis tugas menyuplai nasi kotak ke proyek mas Armand, kerjaku memang normal kembali.
"Kata ibumu, sekolahmu sampai ahli madya. Betulkah itu, El ?" Ah, kedekatan mereka berdua memang tak terbantahkan lagi.
"Iya. Betul. Memang kenapa, mas?" Kupandang ingin tahu pada mas Nino. Lelaki itu sedang membetulkan duduknya. Kini telah duduk tegak tanpa sandar.
"Bagaimana kalau kerja bersamaku, El. Jadi asistenku, apa kau minat?" Deg...Meski mas Nino mengatakannya dengan pelan, tetap saja kurasa kejutan.
"Contoh tugasku, ngapain aja mas?" Cepat saja kusahut. Jadi asisten dokter...,menarik sekali kan..
"Sangat gampang. Tidak susah, El. Asal kau datang saja, sudah." Mas Nino tersenyum hangat menatapku.
"Soal gaji, bagaimana ?" Ini sangat penting, tentu saja kutanyakan.
"Satu setengah kali UMR kota Malang. Bagaimana, El..?" Mas Nino kembali tersenyum memandangku.
__ADS_1
"Tawaran mas Nino menarik sekali. Terimakasih, mas Nino mau memberi kesempatan kerja padaku. Tapi, tolong beri waktu untukku berfikir dulu ya, mas." Lelaki itu akhirnya mengangguk dengan pelan.
Aku tiba-tiba memang bimbang. Kurasa bekerja jadi asisten dokter, yang entah kerjanya apa, akan cukup menarik. Setidaknya akan kudapat pengalaman yang berguna untukku. Kesempatan begini mungkin tidak datang dua kali. Mengingat pendidikan diploma tiga pilihanku adalah di bidang keuangan dan ekonomi.
Sedang sehari lalu, telah kumasukkan lamaran kerjaku di lowongan resepsionis pilihanku, melalui mas Armand di hotel baru itu. Bimbang memilih, antara menyambar tawaran mas Nino yang jelas diterima, atau mencoba peruntungan nasibku jika-jika saja lolos seleksi oleh HRD di hotel baru itu. Ah, bingungnya aku...
...π’π’π’π’π’...
Kali ini mas Nino tidak memulangkanku malam-malam. Tapi selepas isya, kami telah memasuki kawasan komplek Kacuk. Dan sebentar lagi telah sampai di depan rumah ibuku.
Mas Nino menghentikan mobil tidak tepat di depan pagar rumahku. Ada sebuah taksi biru menyandar tepat di depan rumahku. Taksi siapa itu?
Seperti biasa, mas Nino akan selalu mengikutiku hingga teras dan duduk di sana yang kemudian di temani ibuku. Saat mengantarku pulang malam-malam.
Apalagi ini masih tergolong waktu sore. Pasti mas Nino memanfaatkan waktunya sebaik mungkin di rumahku. Biarlah, akan ada ibuku yang menanggapinya. Kurasa tubuhku sungguh penat. Aku ingin istirahat.
Ibuku tiba-tiba menyembul keluar dari pintu. Mendekatiku dan berbicara lirih padaku.
"Si...Iku.. Kamu ada yang nyari. Barusan datang. Tak suruh pulang dulu nggak mau. Ngotot nunggu kamu. Katanya temanmu." Ibuku tersenyum lebar pada mas Nino setelah berbisik padaku.
"Siapa, buk? Cowok apa cewek? Ibu tanya rumahnya mana, apa enggak?" Aku pun bertanya lirih pada ibuku. Meski kurasa mas Nino tetap bisa mendengar percakapan kami.
"Cowok itu, Si. Katanya datang dari jauh... Dari Riau.. Siapa,Si..? Kau ada kenalan dari sana? Apa temanmu merantau kemarin?" Ibuku kembali berbisik padaku.
"Aku tak tahu, bu. Aku lihat ke dalam saja dulu.." Ibuku mengangguk. Kuseret kakiku untuk masuk ke dalam rumahku. Dan mas Nino sigap mengikutiku.
Siapa temanku yang datang dari Riau? Apa mas Armand? Dia dari Riau... Tetapi mas Armand ada mobil. Kenapa ada taksi biru di depan pagar rumahku? Siapa...Apakah dia? Ah, tak mungkin dia!!!
...π’π’π’π’π’...
...πππππ...
...π»π»π»π»π»...
...π΅π΅π΅π΅π΅...
ππTerimakasih segala dukunganmu. Yang berbaik hati..bermurah hati... ikhlas memberiku hadiah. vote. komen.like. favorite. segala doa baik untukku. dll. Sangat berterimakasih. Maaf juga, kedatangan komentar para reader yang baik belum sempat kusambut.
Dan para reader ghoibku.. yang tak berminat meninggalkan jejak apapun padaku. Tetap juga kuberterimakasih denganmu. Tapi, kudoakan agar kalian segera mendapat hidayah. Lalu tergerak memberiku bermacam hadiah.. like.komen. vote dll.. Oh reader ghoibku nan gelap..siapa saja dirimu. Menampaklah, agar bisa kukenang namamu! πππππββππβ€β€
__ADS_1