Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
85. Aspri pak Walkot


__ADS_3

Langit Batam yang terang sore ini, tak menularkan cerah sedikitpun padaku. Senyum ceria mengembang yang kuberi pada tiap pelanggan yang datang lalu pergi, hanyalah kepalsuan dan juga imitasi. Hari ini serasa begitu panjang yang terpaksa kulalui.


"Tumben nggak pake masker, mbak..Udahlah, nggak usah pakai lagi !" Anang telah pulang lebih cepat dari kerjanya. Masih pukul tiga sore, biasanya pukul lima lebih baru datang.


"Habis, Nang, belum beli!" Kujawab asal saja. Padahal...hidungku agak sumbat, sebab menangis cukup lama semalam. Aku bisa mati bengek jika bermasker.


"Jadi, masih mau pakai?" Anang sambil menyalakan speaker yang telah dicolok ke ponselnya. Aku mengangguk saat Anang menolehku.


"Nanti kubelikan, mbak!" Anang sedang memutar lagu dari ponsel yang terhubung ke speaker mini di kafe.


"Jam segini sudah pulang, Nang?" Meja-meja ini telah mengkilap lagi dalam sekejap. Kedatangan pelanggan kafe sedang jeda. Jadi cepat kukanebo sebelum pelanggan datang lagi.


"Iya, mbak. Sama pak boss, disuruh tidur sebentar. Malam nanti suruh jemput ke bandara Hangnadim." Deg..! Pak bos..., yang Anang maksud pasti si garang. Baru kali ini kudengar dia disebutkan.


"Darimana emang dia,Nang?" Sambil tanpa nada kutanyakan, seolah sekedar tanya sambil lalu.Padahal hati ini menggebu.


"Dari Semarang, mbak. Si boss mau kawin, jadi minta izin gitu...sama nyokap." Deg..deg..deg.. Ah, Garrick benar-benar akan menikahi Anggun, dan melupakanku ! Duh, hatiku.., bersabarlah dirimu..., percayalah, sakitmu ini pasti segera berlalu..


"Sendiri apa sama calon juga,Nang?" Masih dengan nada suara sambil lalu.

__ADS_1


"Sendirian. Itu, si calon istri nggak mau ikut. Kata non Anggun, bodynya lagi nggak fit, mbak." Jawaban Anang mengherankan, tumben si Anggun lepas tempelan ke Garrick.. Se-reject apa bodynya? Berjalan di samping si garang ke Semarang, bukankah itu menyenangkan..? Duh.., harusnya aku denganmu Garrick... Garrick...! Garrick..!! Garrick..!!! Ah, andai remah rempeyek, ingin ku gigit hancur saja si garang. Aku Rinduuuuu...!


Jiwaku kian merana, lagu yang tengah diputar Anang kali ini seperti sindiran telak untukku. Lagu punya Yovie & Nuno, Janji Suci. Berlirik tentang pinangan yang hanya sekali, dan tak akan diulangnya lain kali. Mau ayo, nggak mau ya sudah...Persis laamaran si garang padaku. Lagu yang pernah ku suka, kini membuatku sangat tersiksa. Semakin lama kudengar, kian sakit saja rasanya!


Tapi sanggup kutahan sebak dadaku, meski kaca-kaca sedang menggenang di mata, bukan saatnya untuk menangisimu... Duh... garangan..!


Lagu itu tidak ada habisnya. Ku rasa Anang telah meresett ke mode putar ulang. Apa maksudnya..Aku tak tahan dengan lagu itu!


"Nang, masak lagunya sama terus? Mau nikung Ike ya?!" Anang tengah tidur-tidur ayam dengan menyandar santai di kursi kasir.


"Lagi gandrung aja mbak. Latah.. pak boss sempat mutar lagu itu berhari-hari di mobil....tapi habis itu nggak lagi. Malah aku yang candu, mbak!" Anang berjalan gontai mendekati ponsel dan mungkin akan ditukarnya lagu lain.


"Kapan boss garang muter-muter lagu gituan, Nang?" Membicarakan mantan tuan, sedikit mengobati derita rinduku.


Ku tinggal Anang, langkah kakiku bergegas menuju tangga ke atas. Rasa dada sudah sesak tak tertahan. Tapi ternyata ada Lisbet, gadis mungil itu sedang break time sore di ruang TV. Coba kutahan sekuatnya sebakku.


Ku mainkan ponselku, menghubungi pemasok daging untuk bahan dasar bakso yang lambat janji datang. Risau kehabisan, tak ingin mengecewakan pelanggan yang doyan pada bakso malang kafe Sedan.


Panggilanku selesai tepat saat Anang menyusul ke atas. Aku sedang berdiri di balkon ruko kafe Sedan dan memandang ke bawah.

__ADS_1


"Mbak...!" Anang berdiri di tangga, dengan setengah badan saja yang nampak.


"Apa, Nang?" Gegas kutuju tangga tempatnya.


"Ada yang nyari!" Telunjuk Anang mengarah ke lantai bawah.


Dapat kusangka, mungkin asisten pribadi pak David yang dimaksud. Saat di balkon tadi, aku melihatnya. Turun dari mobil dinas yang diparkir di tepi trotoar. Nampak buru-buru menuju kafeku.


*****


"Sore, mbak.." Aspri pak David menyapa ramah begitu kami berhadapan.


"Sore juga, mas..!" Kupandang tanda tanya pada aspri pak David.


"Maaf mbak, saya datang ke sini untuk menyampaikan pesan bos saya, pak David. Beliau mengundang anda untuk datang ke Anchor Inn Resto pukul delapan. Ada yang ingin disampaikan pak David padamu." Aspri pak David berbicara meyakinkan. Cara bicaranya seperti logat Sunda.


"Di mana itu mas?" Aku belum pernah dengar nama tempat itu.. Pahamku Garju resto..


"Nanti mbak Elsi saya jemput pukul tujuh setengah. Bagaimana?" Kupandang seksama aspri pak David, sambil ku bayang timbang juga pak David. Kuharap tak ada niat tak baik dari mereka. Secara, pak David itu ayah Anggun.

__ADS_1


"Baik, mas. Datanglah." Akan kutemui ayah Anggun. Daripada aku penasaran. Harap-harap tak ada kejahatan apapun menimpaku. Mengingat maraknya kasus kemalangan yang sering diberitakan menimpa gadis rantau di Batam!


"Baiklah, saya permisi dulu. Terimakasih atas kesediaanmu mbak. Mari!" Aspri pak David yang nampak sopan itu mengangguk kecil sebelum hilang berlalu. Menuju trotoar jalan raya tempat mobil plat merahnya di dampar.


__ADS_2