Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
61. Garrick Singo Edan


__ADS_3

Cup !


Haaah! Apaa ?! Garrick menciumku?! Saat ku berusaha merenggang dari peluknya akibat huyungku, Garrick justru merapat lekat hidung dan bibirnya di pipiku.Tubuhku diam terpaku kaku di dekapannya. Sesaat ku rasa hangat hembusan nafasnya di wajahku, bibir dan ujung hidung masih merapat lembut di pipiku. Jantung ini tidak lagi berdegup, tapi justru serasa berhenti berdetak.


Ku dorong kasar dada kerasnya saat sadarku kembali. Garrick melepas bibir dari pipiku bersamaan tubuhnya yang tertolak. Ku tatap wajah kusut merahnya dengan nyala kobar api di mataku. Garrick berdiri tegak dengan menggenggam jas kerja menghadapku.. Mata tajam memerah itu, terus redup memandangku.


"Apa maksudmu?!" Tak tahu, hardikan bagaimana yang pantas ku katakan. Aku tak biasa mengumpat. Hanya tanya pendek itu yang mampu terucap.


"Sorry, El. Aku tak sengaja. Salahmu sendiri itu, El." Apa..?! Salahku..Santai sekali Garrick menyalahkanku.


"Salahku...Di mana letak salahku?!" Wajah Garrick sangat tenang, rona merah itu telah padam, hanya matanya saja yang masih merah akibat kurang cukup tidur.


"Bau badanmu yang salah. Pagi begini bau wangi. Lain kali, kau tidak usah mandi pagi, El!" Apa..?! Dia melarangku mandi pagi? Aku sudah biasa melakukan pagi buta tiap hari. Dasar, boss garangan!

__ADS_1


"Alibi! Anda lebih buruk dari Anthony Lung!" Gegas ku tinggal keluar Garrick yang mematung di kamarku. Mungkin wajah itu merah lagi sekarang. Mungkin juga pagi ini dia sedang setengah beras,setengah ketan. Alias setengah waras, setengah edan! Pepatah viral yang laku keras di kota asalku, Malang.


"El, pakaikan jas kerjaku, El !" Maak..! Pede sangat dirinya. Memang aku tak eneg dengan kelakuannya barusan?! Abaikan dan lewati saja jika tak suka...dan memang akhirnya ku lakukan.


Telah ada dua kotak makan di meja sofa. Yang satu telah kosong dan terbuka, mungkin Garrick yang lapar itu telah melahapnya. Ku kemas dan ku angkat piring kosong di sebelahnya. Ku cepatkan langkah ke dapur, bayang Garrick tengah keluar dari kamarku.


"El, Sepatu!" Garrick menyeru. Kuperlambat cuci piringku di wastafel, berharap si garang bosan menunggu lalu menyemat sendiri sepatunya.


"El !! Sepatu !!!" Garrick justru melengking, mengulang panggilannya. Garangan tak tahu malu! Justru aku yang menanggung malu!


"El, itu makanlah. Jika malas, pramusaji hotel akan mengantarmu makanan. " Meski hatiku sakit, tetap saja sepatu itu ku ambil dan ku pakaikan. Kini jongkokku sangatlah hati-hati di depannya.


"El, aku akan ke Singapura, mungkin aku tak pulang. Zayn butuh perwalianku. Dia ingin kau ikut, tapi kau tak ada passport." Meradar kudengar ucapan Garrick sambil terus ku pakaikan sepatunya. Zayn...Kau mengingatku?

__ADS_1


"El, anggap saja ciumanku tadi untuk menghapus ciuman Lung di wajahmu. Jadi lupakan saja ciuman Lung itu. " Aku berdiri, ku lirik Garrick. Dia meredup memandangku. Tak ingin menanggapai, akan ku kemas bilikku.


"El ! Kau marah? Bicaralah..." Garrick terdengar mengiba. Dengan siapapun, aku mudah tak tahan jika begitu.


"Salam buat Zayn." Lanjut ku langkah kakiku.


"El.., hanya begitu?" Huh..! Manja! Ku toleh sebentar padanya, yang juga sedang memandangku.


"Hati-hati, tuan!" Apa ini cukup...,berdebar ku tunggu sambil jalan. Tak ada seruan. Aman.


Ku kunci kamarku, mulai ku kemas isi di kamarku.


Lama...Tak ada lagi seruannya. Apa sudah berangkat? Pelan ku buka pintuku... Sepi...Betul, si garang tak ada lagi di sofa. Ku pandang kamarnya, di dalam? Akan ku kemas saja kamarnya, sebagai alasan!

__ADS_1


Kamar Garrick juga kosong. Dia tak ada.. Ternyata, benar-benar telah berangkat. Ada yang aneh ku rasa.. Hampa...Singapura memang dekat, waktu tempuh dari Batam, satu jam pun tak lewat. Tapi pergi tanpa sahutan begitu, sedikit mengecewakan rasanya.. Tapi tetap lebih baik daripada langsung pergi tanpa pamit, seperti Zayn...


__ADS_2