Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
41. Juan?!


__ADS_3

Melewati hutan lebat Nongsa terasa sangat dingin bagiku. Angin berhembus memasuki kaca jendela mobil di samping Zayn yang dibuka sepenuhnya. Calon dokter tampan itu sangat gemar rasa dingin. Apa gunanya, mungkin hanya dialah yang tahu.


"Kau mirip siapa, El.. Apa ibumu juga cantik?" Pertanyaan Zayn mengejutkanku. Apa maksudnya, apa ada pujian untukku di balik tanyanya? Ku pandang wajah lurus diam itu.


"Ibuku..tentu saja cantik, Zayn. Tapi aku lebih mirip ayahku." Zayn masih juga lurus menatap jalanan. Seperti pertanyaan barusan itu bukan darinya saja. Ku tengok jok belakang, kosong, tak ada hantu hutan yang ikut menumpang.


"Apa ayahmu tak keberatan kau pergi jauh?" Nah, kali ini mulut Zayn baru ku lihat benar-benar terbuka, bergerak, dan bicara, jadi bukan hantu. Memang kepalanya terus lurus begitu! Hu..hu..hu..


"Saat aku izin ayah, aku tak dengar jawabannya, Zayn.." Ku jawab lirih agak mengambang. Wajah almarhum ayah menyapa kepalaku sepintas.

__ADS_1


"Maksudmu, El.. Kau pergi tanpa izin?" Kali ini Zayn menolehku. Aku suka ditolehnya, bermakna semua tanya itu bukan sekedar pencair hening belaka. Aku sesaat bersemangat.


"Ayahku sudah tiada, Zayn...." Ku beri jawaban fakta untuk Zayn, berharap bocah itu langsung menghentikan sesi wawancaranya padaku. Aku tak ingin dia tahu bahwa aku adalah pelarian, pergi tanpa izin dari ibu, satu-satunya ortu milikku. Terkadang, atasan tak suka mengambil pekerja yang tak punya izin keluarga. Penuh resiko, itu alasannya. Dan memang fakta adanya!


"Sorry, El... Tapi kau hebat, terus semangat ya, El..!" Aku mengangguk, tetiba tangan Zayn memanjang mengulur akan menyentuh kepalaku. Reflek ku hindari, aku tak mau. Kepalaku doyong ke kiri, tangan Zayn turun dan mengenai sedikit bahuku. Tangan Zayn diam menempel di sandaran kursiku. Hatiku berdegup resah, jika tangan itu meluncur turun, tentu akan mengenai punggung...pinggang..pinggul...paha...?! Ah..zayn sableng!


"Oke..El..Sorry..sorry !" Zayn telah memegang kemudi dengan kedua tangannya. Zayn tetap tanpa senyum. Bocah itu bersandar punggung di sandaran kursi, sejenak meletak kepala juga di sana. Seperti sedang melepas beban berat yang ada. Ku rasa sikap Zayn agak lain kebelakangan, wajah cool bocah itu berulang kali terciduk olehku nampak kabut dan mendung.Kenapa kau, Zayn..?!


*****

__ADS_1


Berjalan masuk lobi di hotel Garju, paling suka berada di belakang, kali ini punggung Zaynlah di depanku. Mataku mencari-cari.... Siapa yang ku cari.?! Ya..Sariiiii!!! Aku ingin berjumpa gadis itu, resepsionis hotel yang baik padaku. Menimbang Zayn mungkin tak akan keberatan jika kami bersembang barang sebentar.


Meski kakiku berjalan mengikuti Zayn yang perlahan masuk lobi, tapi mataku terus menyapu meja, tampat di mana Sari sedang sibuk menyapa para pengunjung. Kali ini visitor hotel cukup ramai, Sari terlihat terus berbicara dengan calon pelanggan yang baru datang ke hotelnya. Ini bukan moment tepat untukku menyapa Sari.


Ku fokus ke depan kembali, jadi buntut di belakang Zayn dengan manis. Saat melewati sofa di sudut lobi dan akan membelok ke lorong, ku dengar obrolan suara yang pernah ku kenal. Telingaku tegak meradar, meski yakin..tetap saja ku ragu.


Demi memastikan hasil cerna suara di gendang, ku curi pandang mata ke sofa sudut lobi. Hah..hah..Dug..dug..dug...Oh Tuhanku! Jantungku seperti tergeser dari dadaku. Benar nyata dugaanku, Juan..! Juanlah pemilik suara besar itu. Mengobrol seru bersama beberapa orang temannya. Tidak peduli dengan ramai orang yang sedang lalu lalang.


Segera ku toleh kepala berlawanan dari arah sofa lobi. Jangan pernah Juan mengedar pandangan ke arahku. Terus ku ikuti punggung Zayn sambil menekan rasa degup gugup di dadaku. Begini rasanya orang cemas .. resah, risau, debar beraduk dalam rasa ketakutan. Aku sangat tidak ingin berjumpa Juan. Aku tidak siap bertemu muka dengannya! Debar Hatiku mulai lemah saat Zayn membawaku berjalan ke dalam lorong hotel yang panjang. Semoga aku terhindar dari Juan sementara!

__ADS_1


__ADS_2