Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
109. Pulang Saja ke Malang


__ADS_3

Garrick menatapku lekat-lekat dan hangat, sehangat genggaman tangannya padaku. Tangan kami memang telah hangat, tidak dingin seperti saat kami saling bersalaman di mega aula sore tadi. Rasa tangan ini mengikuti suasana hati, jika hati nyaman, tenang, dan gembira, maka tanganpun juga sehangat rasa nyaman di dada.


"Itu keinginanmu? Menikah di rumah kampung halamanmu di kota Malang sana?" Garrick terus menatapku, sesekali rahang wajahnya mengeras. Seperti ada yang tengah dipikirkan. Apa Garrick keberatan?


"Iya..Aku sangat ingin melakukannya di sana. Dan aku tak ingin merepotkan Ibu dan kerabatku.." Kulembutkan bicaraku, berharap Garrick mengerti maksudku. Kuberanikan tangan sebelahku menyentuh tangannya. Garrick sigap menyambut tanganku.


"Baiklah, El. Bermakna aku harus sedikit lama tinggal di Malang denganmu." Bicara Garrick seperti gumaman, lirih. Seperti ragu sendiri pada ucapannya. Tapi tanganku terus digenggam.


"Iya, datanglah ke Malang. Lakukanlah di sana." Kutimpali bicara lirihnya itu, agar dia mendapat keyakinan dan keteguhan. Garrick menghela nafas dalam dan kuat.


"Oke. El.., terserah kemauanmu. Aku setuju, aku bersedia menikahimu di Malang. Tapi jika begitu, aku tak bisa secepatnya pergi ke sana. Banyak yang sedang ingin kulakukan. Kau bisa menunggu, El ?" Garrick kembali menepuk-nepuk tanganku, seperti sedang menyabarkan hatiku. Uh,Garju..sewindu pun akan kutunggu!


"Akan kutunggu kamu di Malang. Kutunggu datangmu di kotaku.." Kuberi pria rupawan di depan ini dengan indah senyumku. Ingin kukikis ragunya untuk datang menyusulku.


Ya, aku akan pulang kampung ke Malang meninggalkannya. Dia datang menyusul untuk menikahiku itu terkesan berharga dan indah. Daripada datang pulang bersama dan tetiba menikah, itu bisa malah mengejutkan ibuku.


"Jadi, kau akan terbang ke Malang duluan, El?" Kuanggukkan kepalaku dan tersenyum. Garrick terdengar kembali mengambil nafasnya dalam-dalam.


"Baiklah, El. Akan kususul secepatnya." Augh..tetiba aku telah karam lagi di pelukannya.


"Tunggulah aku dengan betul, El. Jangan mencoba menikungku. Jangan selingkuh.." Ah..Garrick, ingin tertawa saja kudengarnya. Akan seberapa lama dia perlu waktu untuk menyusulku...Betulkah aku akun disusul?Ouwh, tubuh besarnya semakin rapat memelukku..


Tok..!Tok..!Tok..!Tok..!Tok..!

__ADS_1


Bunyi gedor di pintu, membuat kami terkejut kaku sesaat. Sebelum berakhir saling merenggang dan melepas pelukan perlahan. Aku dan Garrick berpandangan dan tersenyum bersamaan.


"Zayn..." Kusebut nama bocah baik itu dan Garrick pun mengannguk.


🐢🐢🐢🐍🐍🐍


Zayn datang ke rumah rooftop setelah dari rumah besar di Batam Centre. Zayn yang rencana awal akan menyeberang ke Singapura malam ini, menundanya esok hari. Entah dengan alasan apa aku tak paham. Kini kami tengah berbincang bertiga.


"Zayn, terimakasih. Tadi kau menolongku dengan tepat. Kau lelaki yang hebat!" Kakak beradik berlaianan orang tua ita duduk bersebelahan. Keduanya duduk menggelosor punggung di sandaran sofa.


Kuletak dua cangkir coklat hangat di meja depan mereka.


"Jangan menyanjung, bang. Sehebat apapun aku, dia tetap juga memilihmu.." Perkataan Zayn terdengar datar. Aku sedang segan bertatap dengan Zayn. Mungkin yang dia maksud adalah aku.


"Maaf, Zayn. Aku tak bermaksud mencundangimu. Jalanmu masih panjang, usiamu masih muda. Beda denganku, Zayn. Mungkin jika Elsi bukan jodohku, bisa jadi aku akan jadi bujang lapuk selamanya. Jadi, mengertilah, relakan..ikhlaskan aku menikahinya. Dia pilihanku, aku mencintainya, Zayn." Garrick berkata pelan dan tenang dengan suara berat empuk khas miliknya. Ah..bujang lapuk?!


"Zayn...Berhentilah berkata begitu di depanku. Elsi sudah setuju untuk menikah denganku. Hanya tinggal menunggu waktu, kami menikah. Dia akan jadi kakak iparmu. Mulai sekarang, kau harus sopan. Jaga sikap dan kata-katamu padanya. Yakin saja Zayn, suatu saat, kau akan berjumpa dengan gadis yang tepat dan di saat yang tepat. Perempuan yang kau suka dan menyukaimu." Ah, tak kedip kupandang Garrick saat bicara. Bisa juga dia memberi petuah manis dari bibirnya untuk Zayn.


Zayn..., bocah baik itu terlihat memejam. Tapi tak tidur, kelopak mata itu tengah bergetar-getar tanda empunya masih sadar. Sabar ya Zayn..Kau lelaki pintar, pasti paham tentang bagaimana hatimu. Ibarat mendaki.. Bertemu denganku, ibarat telah sampai di pos aman nomor satu.. Tapi masih ada dan harus kau temui urutan pos-pos pendakian berikutnya. Agar kau bisa mencapai puncak dengan aman, selamat dan puass!


"Zayn..Kau tidur?!" Garrick sedikit menyeru. Bocah baik itu memang sudah lama memejam.


"El..!" Eh, tetiba Zayn memanggilku bersamaan mata pejamnya yang dibuka.

__ADS_1


"Iya, Zayn..Kenapa?" Kusahut panggilan Zayn dengan baik.


"Sebaiknya setelah malam ini, kau pergilah dari sini. Maksudku, tinggallah di kafe Sedan. Aku tak rela jika kau seperti Anggun, hamidun !" Auh..Zayn..mulutmu..Kau pikir aku mudah saja pasrah pada abangmu? Aku punya pendirianlah, Zayn.. Lagipula, kau tak paham, betapa tersiksa tinggal di kafe Sedanku itu pada malam-malam tertentu!


"Zayn...! Jaga bicaramu..Kau pikir aku ini bar-bar, brutal? Aku punya batasan, Zayn. Dan Elsi.. Jangan kau samakan dengan Anggun. Aku tak ragu bahwa dia gadis baik yang bisa menjaga dirinya. Kau mengerti, Zayn?" Garrick berbicara dengan keras dan tegas. Memandangku sekilas.


"Zayn.." Kupanggil nama bocah baik itu dengan pelan. Zayn tak menjawab, tapi diam memandangku.


"Zayn, aku mengerti maksud bicaramu. Terimakasih perhatian dan pedulimu padaku. Tapi jangan khawatir, hanya malam ini aku di sini. Itu pun ada kamu.. Dan besok, aku akan pulang, Zayn." Ah, rasanya sedih saat bicara begini pada bocah baik itu. Zayn pun nampak berkerut dahi melihatku.


"Maksudmu apa, El?" Sembari melempar tanya, Zayn bergerak cepat melurus tegakkan punggung dan kepala. Tajam menatapku.


"Besok aku pulang kampung ke Jawa, Zayn." Mendengar jawabku, Zayn melebarkan mata koreanya. Mata Zayn sedikit sipit.


"Apa, El..?! Secepat itu? Jadi malam ini, kali terakhir aku melihatmu, El ?" Nada ucapan Zayn begitu heran tak percaya.


"Iya..,benar, Zayn.."


"Benarkah, El, besok?!" Eh, kagetnya aku dengan suara Garrick. Biasanya lembut-lembut menyebutku, kali ini keras menyeruku.


"Iya, boss Garrick. Besok. Malam ini aku akan berkemas." Ah, mengatakan kalimat perpisahan lagi, dan kali ini dengan Garrick, mataku seperti akan berair kaca-kaca tanpa bisa kutahan-tahan.Segera kutundukkan wajah, menyimpan mataku darinya.


"El..." Garrick memanggilku. Kudongak wajahku. Air kaca di mata sudah bersih kuseka dengan punggung tangan.

__ADS_1


"Iya..." Mata coklat itu sayu memandangku. Ah, sebak dadaku menatapnya. Kulirik juga Zayn, bocah baik itu juga sedang menyimakku.


"Jika benar besok kau pulang terbang ke Malang. Masuk saja ke kamarmu. Istirahatlah sekarang." Garrick mengarahku dengan suara yang sedikit kaku dan ada kesan dingin kudengar. Apa Garrick kecewa? Bukankah tadi telah berbincang.. Mungkin tak menyangka begitu mendadak waktu pulkamku. Ah, biarlah. Ini memang sudah rencanaku.. Aku sangat yakin, Garricklah jodohku. Aku pasti akan disusul untuk dinikahinya. Garrick tak mungkin menipuku..


__ADS_2