
Lelaki berdarah negara tirai bambu itu telah berlalu. Tinggal aku berdiri bersama si garang di sampingku. Setelah termangu pandang pada punggung Anthony Lung yang menghilang, kami bersamaan menoleh, saling melihat dalam diam cukup lama.
Wajah berhidung mancung dan bermata coklat gelap miliknya, terus menatap seperti akan menelanku. Ku putus pandangan, bukan sekedar rasa sopan, tapi aku tak sanggup lagi..dadaku mendadak berdebar. Khawatir jika kedengaran oleh tuan garangku. Belakangan, dadaku sering berdebar karenanya. Datang terasa begitu saja dan cukup merepotkan!
Ku ambil tas cantik milikku di kursi, saat badanku tegak, Garrick menyampirkan jas hitam tadi di bahuku, sambil mengulur tas kerjanya. Ku abaikan tak ku raih, ku lewati Garrick dengan tas kerja tertepis bahuku. Biar dirasakan apa yang sering ku rasakan. Ini liburanku.Hanya jas hitamnyalah yang kini ku dekap di dadaku sambil berlalu.
Lift yang telah ku tekan tombolnya, bergeser angka untuk turun menjemput. Ku tinggal Garrick yang hanya mematung di samping. Lalu mengikuti masuk, dan berdiri tepat segaris di depanku. Dadaku kembali berdebaran, mata itu terus saja menyorotku, tak peduli telah ku pergoki banyak kali. Malah akulah yang jadi kikuk sendiri. Ah, lelaki... memang suka semaunya sendiri!
"El... " Tetiba si garang memanggil lembut namaku. Mungkin dia telah belajar dari Lung, bagaimana menyebut lembut diriku.
Hanya ku pandang wajahnya, seperti tercekat ku rasa, mulutku gagal membuka. Kulebarkan mata, tanda hatiku bertanya.
__ADS_1
"El, kau memikirkan lamaran Lung?" Pertanyaan Garrick konyol sekali, apa dia tak paham dengan isi percakapanku dengan Lung tadi?
"Itulah yang sedang kupikirkan, tuan. Jika ku rubah pikiran, ku rasa belum lambat, kapal Lung belum jauh, aku masih bisa menelponnya!" Asal ku jawab sepuas hati saja tanya konyolnya.
"Tapi keyakinan kalian beda, El!" Garrick berseru di depanku. Duh, Rick...Masih tak pahamkah dengan keteguhanku ?! Apa maksudmu terus bertanya tentang Lung? Ibarat buku, bacaan tentang Anthony Lung telah tutup.
"Tuan, tak dengar.. Lung sanggup mengikutiku!"
Ting!!
"El.." Gesekan kartu kunci di pintu ku hentikan. Ku lirik Garrick sesaat dan menunggu. Kejut debar datang lagi mengganggu.
__ADS_1
" Apa kau sangat tidak suka bersamaku? Kau terus menghindariku." Garrick mengeluhkan sikapku. Wajah tampan itu nampak lelah dan kusut.
"Ini off dayku , tuanku. Tolong jangan ganggu aku sedikitpun! Anggap saja aku pulang kampung tiap Rabu!" Ku lanjut gesek kartu di pintu. Aku lelah dengan degup jantung yang laju di dadaku!
"El, siapa supir taksi yang mengantarmu pulang tadi?" Garrick terus mengekor bersama cecar tanyanya. Aku hampir mencapai kamarku.
"Uda Fahri, orang Padang." Ku buka pintu kamarku, ingin tenggelam cepat ke dalam. Lepas dari suara seksi si Garrick.
"Kalian nampak akrab, El? Apa dia mangsa barumu?!" Garrick berseru dengan suara yang keras. Pintu yang hampir rapat menutup, cepat ku buka sedikit. Ku sembul keluar kepalaku.
"Tidak buruk jika dia mangsaku! Uda Fahri bisa antar saya ke mana-mana! Ash, sudah ya boss!! Saya sedang pulkam!!" Refleks ku tutup banting pintuku. Tak peduli dia mungkin murka padaku. Aku betul-betul frustasi!
__ADS_1
****
Rasa was-was pada ketukan di pintu kamar oleh murkanya Garrick, hanya lebay pikiranku. Hingga habis mandi dan kini rebah cantik di kasur, pintuku tetap aman, tanpa ketukan atau juga tendangan. Siap ku pejam mata dengan rasa sangat nyaman.