
Kejadian Heellen dengan Zayn di dapur barusan, kian jadi alasan ibuku untuk pulang dan terpaksa meninggalkanku. Begitu adzan isya' selesai berkumandang, ibu dan keluarga pakdhe bergegass pamit untuk pulang. Dengan segala nasihat dan petuah yang diberikan pakdhe dan budhe khusus untuk kebaikan rumah tanggaku.
Begitu pun dengan ibuku, akhirnya sesenggukan juga sambil pergi keluar pulang meninggalkanku. Tapi tetap kukuh menolak pintaku untuk menginap semalam saja denganku. Meski jarak Kacuk ke Batu tidaklah jauh, rasanya seperti nelangsa dan akan berpisah lama saat kulepas mereka berlalu. Ah, sedihnya.. Kini, akulah yang terisak-isak sedih menangisi ibuku.
"Sudah, El.. Hentikan tangismu.." Garrick yang tadi tengah mengarah sopir untuk mengantar keluargaku pulang, telah berdiri di dekatku memeluk bahuku.
"Hik....Sedih.." Bukan diam, tapi justru kian terisak sedih dengan bermacam perasaan yang tak jelas.
"Jangan sedih, El..Apa kau lupa? Jika mau, sekarang pun bisa kita susul ibu ke rumahmu. Tapi..sampai kapan seperti itu. Sedang kita sudah membangun kehidupan sendiri. Ingatlah aku.. Aku di sini menyusulmu, bahkan aku tidak punya siapa pun. Hanya dirimulah yang kuharap terus bersama menemaniku. Jadi, kuminta bergembiralah. Berkorbanlah sedikit saja untukku. Kau bisa, El..?" Degh..Ah,perasaan nelangsaku berubah rasa jadi sedih yang terharu. Benar apa yang kau bilang itu Garjuu....
"Iya....Maafkan aku.." Ah, tak tahaaan... Kupeluk langsung saja suamiku. Kukeringkan tangisku dalam dekapan hangatnya. Aroma khas wanginya, juga elusan tangan besarnya dikepalaku, membuat lupa seketika akan sedih haru hatiku. Hanya nyaman dan hangat sajalah yang kini kurasa...
Garrick melepas pelukan dari punggungku. Mengajak melewati lobi untuk menuju rumah rooftop kembali dengan menggenggam erat dan hangat tanganku.
"Apa Daehan tidak kembali?" Lift kaca telah mulai menurun, sebentar lagi datang menjemputku dan Garrick.
"Mereka tengah mengelilingi kota Batu saat malam. Kurasa mereka pasti akan lupa waktu untuk kembali, El.." Kami telah berada dalam lift. Tanganku yang terus digenggam, ditariknya mendekat.
Deg..Auwh.. Garrick membawaku lagi ke dalam pelukannya. Tapi Garrick memeluk di belakang. Merapatkan punggungku di dadanya...Duh, rasanya..Ah..!
"Lihatlah apa yang telah kubuatkan untukmu. Kotamu nampak luar biasa dilihat saat malam. Bersyukurlah tinggal di tempat seindah ini. Aku tak menyesal telah mengikutimu ke sini, El.."
Auhw..Garrick semakin mempererat pelukannya. Tubuhku jadi menempel erat padanya.
Oh..Tuhaan...Betul yang dibilangnya...Luar biasa sekali...
Sambil kurasa pelukannya, mataku menyorot jauh menerawang ke depan, menembusi sekeliling kaca di ruang lift. Kota Batu sungguh indah saat malam. Perkotaan..Perbukitan...Semua nampak menghampar indah dari sini. Terlihat begitu gemerlapan menakjubkan..!
Moment indah seperti ini hanya akan kulihat saat kuberdiri di pucuk gunung dipendakian malam hari. Dan sekarang... Akan terus kulihat kapan saja saat ingin... Dan sangat mudah sekali kulakukan, serta mendadak kudapatkan. Oh, Garrick...Suamiku..Baik sekali dirimu..
"Terimakasih,Garrick..Terimakasih, hubby.. Ini luar biasa..Aku sukaa.. Aku cinta padamu, Garjuu.." Sambil kuucap, telah kubalik diriku dan kembali kupeluk erat saling berhadapan. Garrick menyambut dengan tak kalah erat memelukku.
" I love you too, Elshe.. More..more..more...!"
Auh, suara berat empuknya melajukan degub jantungku. Pelukan ini semakin melekat dan seperti tak ingin melepas. Seperti tenggelam mendengar Garrick bicara seperti itu padaku.
Ting !
Meski pintu lift membelah, ingin saja tak peduli.
"Eelh..I feel hot. Be continue inside, please.." Auh..Sambil kupegang lengan bahunya, aku pun mengangguk. Ucapan parau Garrick barusan, seperti sengaja memanaskan darahku.
Pelukan kami melepas. Garrick segera mengeluarkanku dari lift dan menarikku tergesa memasuki rumah di rooftop. Rumah indah di pucuk hotel di atas dataran kota Batu.
Garrick tidak membawaku ke kamar miliknya. Tapi mengajakku naik tangga dan menghampiri sebuah pintu kamar yang besar.
__ADS_1
"El., apa perutmu masih aman? Ingin makan lagi, tidak?" Garrick sedang menahan pintu yang telah dibukanya.
"Tidak. Aku masih sangat kenyang." Lelaki itu mengangguk. Kembali ditariknya tanganku masuk kamar.
Haah...Apalagi ini...? Garrick mengajakku membuka seluruh gorden di kamar.
Oh, Tuhaan... Pemandangan sangat menakjubkan kota Batu kembali menghampar mata menembusi dinding kaca di kamar. Kerlip-kerlip lampu yang menyebar di kota dan perbukitan di Batu, sangat nampak jelas membentang dari sini. Rupanya, kamar besar ini memang sengaja ditonjolkan keluar dari garis bangunan rumah ini. Duh, nikmat mana lagi yang boleh kudustakan...? Hanya melimpah syukur padaNyalah yang mampu kudengungkan saat ini.
Auwh...Garrick tiba-tiba datang memeluk dan mengangkatku. Membawaku langsung ke atas tempat tidur.
"Kau suka kamar kita, El..?" Garrick pun telah baring di samping memelukku. Tapi tangan itu mulai bergerak menggerayangi seluruh kulitku.
"Iya. Menakjubkan. Aku sangat suka. Apa kamu sendiri yang merancang?" Garrick telah lebih memepetku. Wajah itu mulai tenggelam di leherku.
"Iya, El.. Aku arsiteknya. Berbicara terus sajalah, El... Apapun yang ingin kau tahu, tanyakan saja sekarang. Akan kujawab sejujurnya.." Auwh..Tangan Garrick telah mulai menyingkap bajuku di mana-mana. Dan leherku mungkin adalah permen manis yang sedang disesapi sesukanya.
"Aku ingin tanya. Kenapa saat aku awal datang, sikapmu garang sekali?" Garrick terus membuat stamp ajaib di leherku. Dan kurasa tubuhku telah mulai memanas saat ini.
"Aku sedang frustasi waktu itu, El. Ibuku sedang koma, tapi aku tak bisa menungguinya. Dan juga.. Pak David mengungkit lagi perjodohanku dengan anaknya." Setelah menjawab, Garrick menggeser wajah ke dadaku. Oh...Aku setengah sadar saat Garrick sangat sigap melepasi bajuku. Tubuhku kini diungkitnya sidikit miring. Dan dadaku dalam sekejap telah terbuka tanpa benang sehelai pun.
"Lalu,.. kenapa waktu itu..., kau berjalan.. sangat cepat ..dan selalu ingin ...menghilang dariku..serta selalu mengajakku naik tangga darurat ?" Aku sudah mulah terengah panas sekarang. Mulut dan tangan Garrick terus bermain liar di dadaku. Dan stamp merah basah tanpa tinta itu mungkin telah penuh tercetak di dadaku.
"Aku..penasaran..denganmu..Kau tuliskan ...bahwa ...kegemaranmu.. adalah naik gunung. Hobiku..pun.. juga sama.. Jadi..aku ingin mengujimu....Aku merasah..saat kau mengejar...mencariku hilang di tangga..itu amat menyenangkankuu.." Ouh..Garrick terbata menjawabnya. Dia pun juga sedang terengah karena keliarannya sendiri di dadaku.
"Laluh... sejak kapan... kamuh.... menyukaikuuh..?" Ah, aku sungguh merasa geli kepanasan di mana-mana...
"Lalu..Bagaimanah... perasaanmuuhh.. setelah.. menikahikuuuhhh...?" Mungkin ini adalah tanyaku yang terakhir... Aku tak ingin terus mengganggunya. Suamiku berhak mendapatkan kesenangan dariku sepenuhnya.
"Akuuu... Kau sudah tau .....bagaimana perasaankuu,El... Yang pasti.... saat ini.... Aku... sedang gila padamu... Aku sedang menggilaimu, Eeelhh.....!" Aaaauuuwgh...!! Terlalu panasss...Hingga aku tak sadar, Garrick telah membuka lebar kakiku dan mulai mendaratkan jenderalnya di pangkalan mahkotaku. Auwh..auwh.. tegangnya akuu... Antara pasrah tapi takut... takut tersakiti..dan takut mengecewakan...
Ouhg... Garrick mengalihkan tegangku pada bibir dan dadaku.... Ahh..aku sepertinya akan kalap bersamanya..
"Garrrriiiiick....Auwh..auwh...Sakiit..Riiiiick.." Auh.. Aku mengecewakannya lagi.... Sang jendral terpeleset keluar jauh dari pangkalan mahkotaku.
"Sabar, ya.. El.. Kita ulang terus sampai dapat.. Tahanlah sedikit, El.." Ahh... Garrick kembali menciumiku.. menyenangkanku.. Lagi-lagi panas nikmat menderaku... Tapi... Auwh...Hanya kecewa lagi yang didapat Garrick dan sang jendralnya itu dariku.. Aku merasa seperti gadis idiot yang egois saja kurasa..
"Riick...paksa sajalah akuu.." Aku merasa putus asa. Terlalu kasihan padanya.Telah ingin kupasrah serahkan saja dengan paksaan...
"Jangan ngawur, El... Sabar ya .." Ah..Garrick tak bosan menyemangatiku.. Kupeluk erat tubuh sempurnanya..Harusnya Garrick tega padaku.. Melesatkan jendralnya meski aku histeris dan itu menyakitiku. Tapi Garrick terlalu bersabar...
"Eeelhh.. Aku ingin... bertanya... Janji kau akan..jujurh..?" Di sela usahanya memanasiku lagi..Tiba-tiba Garrick bertanya... Appaaahh..?
"Appah..ittuh...?" Aku kian terengah menjawabnya..
"Lelaki..yang mengantarmu...pulang ke kafe...malam-malam ituu... Yang memakai..kacamata..dan bertopi gunung...Siappah ..ittuu..Eelhh..?" Garrick dengan serak terengah menanyaiku.
__ADS_1
Diantara luapan panas.. susah payah kuingat... Apa Garrick curiga..?
"Siappaah...Eeellhh... Jujurlah.." Garrick sambil terengah liar di dadaku.. Dia meminta aku jujur...Jadi appa salhnyaaah...akku jujjuurr..Diaah...ssuamiikuuh...
"Ayyah Anggun..Pakkk...David.."
"Eeeeeelllhh.....!!!!!"
"Aarrgghh..Garrriiiiiiiccckkk!!!!!""
Aaahhhh...Aku dan Garrick sama-sama berseru, dan aku jauh lebih histeris darinya. Ah, mata coklat itu sayu memandangku penuh engah dan deru. Dan dadaku, begitu laju detaknya...
"Terimakasih, El.... Sorry...Apa sangat sakit?" Garrick menanyaiku sangat lembut..
Rasa sakit dan kejut itu menepikan engah dan deruku "Katanya, sakit itu hanya sebentar. Teruslah..Lakukan saja... Jangan ditarik..." Yah..Aku lebih takut lagi jika harus mengulangnya. Kurasa Garrick pun sama rasa denganku.
"Thanks, El... Kita lakukan, kita nikmati sampai mendapat apa yang kita mau dan kita inginkan..."
Auwh..Garrick mulai melenyapkan bibirku... Dan tangannya sangat lembut menjajah nikmat di bukit dadaku...Ah, panasnya...
Degh...Auuwwwh... Sang jendral telah mulai berperang maju mundur, naik turun di mahkota koyakku....
Garrick adalah panglima perang pertama dan tentu saja terhebat bagiku. Panglima perang pertama dan terakhir, dengan satu-satunya jenderal yang dimiliki, dan hanya pada jenderal itulah aku mengenal. Dari sekarang...hingga selamanya...
Itulah janjiku.... janji padaku..pada suamiku... juga janjiku padaNya...
πππΌππ
πππΌππ
πππΌππ
πππΌππ
π’π’π’π’ Readers baikku.... Mohon maaf jika di bab ini ternyata berisi cerita yang tabu bagimu... Sorry...tanpa warning sebelumnya... Bukan maksud hati menjebakmu yaa..πβ
Otor bronze abadi kasta dasar ini memang sengaja kura-kura...ββ
Totalitas menghiburmu... Tapi tidak tuntas menghiburmu yaaa.....ββ
π’π’π’π’π’π’π’π’π’ Diarang keras kecewa padaku..π πππππππ
Kabar Sang Jenderal hari ini..
Tragedi gelap sangat bar-bar...Yang semula dibuat samar, kini mulai terkuak melebar. Skenario busuk yang dipaparkan sang Jenderal, tak lagi kokoh..bahkan kini sudah mulai roboh..
__ADS_1
Otor sedang latah dengan sang jenderal yang gencar terkabar di segala media dan siaran..
SELAMAT BERAKHIR PEKAN...