
Uda Fahri lebih banyak diam di perjalanan pulangku kali ini. Mungkin rasa lelah karena hari merangkak malam, membuat kami lebih memilih saling bungkam. Kediaman berakhir saat taksi mulai masuk ke kawasan rumah tuan garangku.
"Elsi, tinggal di sini? Tidak lagi ikut boss di Nongsa?" Pertanyaan uda padaku cukup sopan, tidak menyebut 'hotel' tapi menyebutkan 'Nongsa", dan itu terdengar nyaman bagiku.
"Tidak uda, bossku ke Singapura. Aku pun lebih nyaman tinggal di sini. Temanku banyak." Ku kata jujur padanya.
Aku memang terpaksa join lagi dengan Garrick di rumah rooftop, setelah Zayn tetiba pergi dan aku jumpa Juan malam itu. Garrick melarangku kembali ke rumah induk dan selalu mengingatkan bahwa aku adalah pekerjanya. Waktu itu, aku sedang malas membantahnya.
" Betul, Elsi. Lebih baik kamu bertempat di sini. Ada temanmu. Kurang bagus jika hanya tinggal dengan lelaki, meski itu bossmu sekalipun." Deg..! Perkataan uda Fahri yang adem itu sungguh mengena hatiku.
Meski sudah tahu kebenaran ucapannya sedari dulu.., tapi mendapat teguran langsung begitu, serasa disindir dan disidang aku tuuh.. Ingat pelecehan Garrick padaku pagi itu. Ya...ya..dia melecehkanku, bahkan malah aku yang disalahkan.. Tapi aku tak berdaya untuk mengamuknya, ragaku justru gemetaran karenanya. Duh..bingungnya aku!
"Inginku juga begitu, uda. Di sini saja, tapi boss itu yang membayarku, dia ingin aku bekerja di sana!" Uda Fahri memang telah hafal dengan Garrick.
__ADS_1
"Atau, Elsi bisa saja bekerja yang lain. Lagi pun, kan sudah punya usaha sendiri..,kafe Sedanmu itulah, El.." Saran uda Fahri sangat betul.
Tapi uda Fahri tidak paham, bagaimana ku peroleh modal kafe Sedanku. Meski telah ku label sangat halal, rasa bimbangku akan Garrick cukup tebal. Karna dialah aku mendapat banyak uang. Ada rasa hutang budi padanya. Masak ku tinggal begitu saja..? Apa aku resign resmi saja? Ah, saran uda Fahri membuat hatiku makin bimbang!
"Betul juga saran uda. Jika aku tak boleh bekerja di rumah ini bersama yang lain, akan ku coba resign saja!" Ya, aku bukan kacang lupa kulit. Tapi aku coba resign, dan hasilnya tidak sepihak..,tapi kesepakatan dua pihak!
****
Isya'ku telah lunas. Kubaring badan penatku di ranjang. Rabu ini aku sangat sibuk di kafe Sedan. Ike sangat bisa ku andalkan, pengunjung sangat ramai berdatangan. Ike bilang, sebagian adalah pelanggan tetap yang beberapa kali telah datang.
Tapi dengan kondisi Ike yang hamil muda, hanya menu bakso sajalah yang ku minta. Dan ternyata, kedatangan pengunjung memuaskan!
Aku ingin menelepon ibuku, akan ku minta untuk datang. Menggantikan aku, menemani Ike dan Anang. Sedang aku.. ingin mencoba peluang lainnya di Batam. Usaha lagi apa saja, menjemput rizqi dengan sedaya dan upaya!
__ADS_1
Seharian tak ku pegang ponselku, bahkan uda Fahri datang menjemput tanpa perlu ku telpon. Memiliki usaha sendiri..ternyata begitu rasanya. Lupa waktu dan tenaga, tahu-tahu waktu habis tanpa sisa.
Bersamaan ponsel yang ku ambil dari tas cantikku, ada getar beruntun yang ku rasa di tangan. Ada beberapa.. Ku buka satu-satu..
*El, aku pulang. Sebentar lagi sampai.* Zayn sableng...
*El, kau masih ingin bicara kan? Aku pun ingin bicara.* Zayn sableng..
*El, cepat bersiap, waktumu untuk kembali ke hotel.Sopirku akan menjemput.* Si garang..
*El, jawablah. Jangan lamban.Aku akan bicara hal penting denganmu.* Si garang...
Yah..Bocah sableng dan abang garangnya. Tak adakah hakku untuk nyaman dan tenang tanpa gangguan? Mereka dari perjalanan, tidakkah mereka merasa kelelahan? Seperti hari esok itu tak akan ada saja! Apa mereka datang lalu langsung kembali lagi naik Ferry..? Lalu...untuk apa pulang ke sini..Konyol sekali.
__ADS_1
Kusimpan ponsel kedalam tas dan ku letak aman di almari. Aku akan tidur, kali ini ingin tak peduli. Hari Rabu belum pergi, aku masih cuti. Dan anggaplah aku sedang pulang kampung lagi kali ini! Ku panjat doa pergi tidur...zzz..zzzz..zzz