Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
74. Zayn, Bukan Bocah


__ADS_3

Ucapan bocah sableng itu cukup sangar. Dan itu memang benar. Andai itu terjadi, adakah yang akan berani menolongku? Siapa juga yang peduli ? Siapa akan sudi percaya dengan kemalangan yang menimpaku?


Aku sebatang kara di rantauan. Tiada kerabat, tanpa rekan, juga tak berteman. Siapa yang ku harapkan, selain pertolongan dari Tuhanku? Mungkinkah arwah ayah akan sanggup menolongku?! Hu..hu..hu..bergedik ngeri bahuku.


"Ha...ha..ha..! Kau takut dengan ucapanku, El? Kau pikir, aku tidak ada hati, El ? Mana bisa aku memperkosamu, El... Aku tak kan tega !" Haahhh.. Perkataan apa ini..Sangat kagetlah diriku, Zayn berbisik keras di telingaku. Dia sedang berdiri. Mulut karet bocah itu memang tanpa ayakan.


"Bagaimana, El? Kau bersedia?" Aku masih tercengang.Tak sadar, kepalaku menggeleng mendengar tanyanya. Zayn kembali duduk di bangkunya.


"Kenapa? Aku tahu, kau belum suka denganku. Jangan khawatir, El. Cinta datang karena biasa bersama. Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku lebih cepat. Lagi pun, dicintai itu lebih baik dari mencintai. Bagaimana, El ?" Zayn krmbali berdiri dari duduknya. Sedikit mendekati tepi kolam.


"Zayn.. Kau kan masih sekolah. Ibumu pasti tidak menyukai keinginanmu. Kau harus berhasil jadi dokter. Jalanmu masih sangat panjang. Dan...,abangmu itu, pasti tidak suka dengan pilihanmu. Aku hanya pembokat dan lebih tua darimu." Pelan dan lembut ku bilang, ku harap hati Zayn terbuka. Aku risau mendengar gertak sambal seram lagi darinya.


" Hei, El. Aku adalah dokter muda berkompeten. Aku lulus terbaik di ujian pertama. Bahkan setelah tiga tahun dari Singapura, garansi dokter profesional kudapat. Jadi, meski nampak sekolah, bayaran magangku tinggi, El. Dan aku juga punya kafe. Aku sanggup menafkahimu, El!" Aku termangu saja mendengarnya.

__ADS_1


"Dan ada kabar, ayahku meninggalkan hartanya di Singapura, untukku. Ayahku tinggal di Brisbane. Kita tinggal di Singapura saja, El. Kau tidak akan berjumpa dengan mertua. Jika mau, ajak saja ibumu." Aku terus termangu, tak ada celahku mendebatnya.


"Abang tiriku, Garrick. Dia hanya tak suka jika aku dekat dengan perempuan tanpa kejelasan. Dia ingin aku sepertinya.. Ha..ha..ha.. Langsung menikah, dia akan menikah dengan Anggun. Dan sekarang, aku pun sepertinya, tapi bang Garrick nampaknya masih ragu. Aku ingin menikah denganmu tanpa ragu, El. Jadi, bang Garrick tak akan masalah, mungkin hanya terkejut dengan tekadku." Tawa Zayn untuk abangnya, masih samar nampak di wajah Zayn.


Tetiba wajah Garrick yang horor menerorku. Ku rasa, si garang tak kan suka jika Zayn menyukaiku. Aku hanya kacung rumahan dengan kasta paling rendah baginya. Mana rela dia, si adik dokternya ku miliki!


Sesaat, bayang serakahku menyapa. Zayn bermasa depan cukup cerah. Pekerjaan di masa mendatang pun menjanjikan. Penampilan, sangat-sangatlah menyenangkan. Bahkan ternyata, bocah itu telah siap untuk jadi lelaki yang matang. Ku rasa bukan karbitan, tapi karena pelajarannya di kedokteran!


"Bagaimana, El..? Setelah menikah, kita cepat saja bikin anak. Punya anak yang membesar saat kita masih muda dan sehat, itu sangatlah menyenangkan." Duh...,berdesir-desir darahku. Kedengarannya manis sekali.


"Tapi, aku lebih tua darimu. Aku tak mau dibilang pemikat berondong, Zayn." Apa jodohku lebih muda dariku? Duh, turun dong harga diriku. Tapi berbincang dengan Zayn, tetap terasa nyaman bagiku.


"Ha..ha..ha.. Cuma tiga tahun, El ! Anggap saja, yang sirik itu tanda tak mampu!"

__ADS_1


"Bagaimana, El?" Zayn membungkuk , mendekatkan wajah dan punggungnya di depanku. Saat begitu, ku rasa..Zayn bukanlah bocah lagi! Tapi kian sableng!


Tetiba, Zayn berdiri tegak, mengambil ponsel dari sakunya. Bunyi getar-getar ku dengar.


" Halo ! "


"Iya bang! Aku ke sana! Ku tutup dulu telponmu!"


Zayn kembali membungkuk di depanku. "Pikirkan dulu, El. Kau tak kan rugi menerimaku. Jangan bilang tidak, bilang saja iya, oke?!" Rasa sumpek ditatap Zayn sebegitu. Bocah itu seperti bermutasi tiba-tiba menjadi pria mempesona. Maak..! Apa kataku??!! Memujinya? Tidak!


"Akan kupikirkan, Zayn. Tapi jangan pernah memaksaku!" Aku pun tak jelas putusanku. Bingung sejenak, boleh saja kan?


"Oke, El. Ku tunggu jawabmu. Secepatnya!"

__ADS_1


" Istirahatlah, bang Garrick mencariku!" Zayn tegak lagi berdiri. Bergerak pergi dan berjalan menjauh dari tempatku. Hilang berlalu ditelan lorong dapur. Lalu, bagaimana denganku.. Apa yang akan kupikir? Aku pun belum tahu.. Jangan dulu bertanya padaku!


__ADS_2