
Inilah derita kacung babu rumahan sepertiku. Kurang syukur karena sikap semena tuanku.
"Kenapa, El. Kau kesal?!" Lamunanku buyar dengan teguran Garrick padaku. Tubuhnya menjulang tepat di depanku.
"Iya, bossku! Tak bebas dengan hari liburku! Pagi-pagi berangkat, bersamamu..sekarang pulang malam pun denganmu!" Ku luah rasa sesak tak tertahan. Namun ku hempas tangisanku. Garrick mematung memandangku. Mata coklat gelapnya menatap cukup lama. Kami berperang mata dan terdiam tanpa kata. Mataku tengah menyala padanya.
" Elsi !" Kepatungan ini terpatah oleh seruan seseorang padaku. Kami menoleh bersamaan. Terperanjat di dada. Orang yang datang tiba-tiba, Anthony Lung ! Lelaki tampan oriental itu telah berdiri nyata di sampingku. Seketika bayang muakku muncul lagi pada Lung.
"Lung! Kau kata tak turun!" Garrick menjauh dariku. Berdiri mendekat pada Anthony.
"Jika jujur. Kau pasti sembunyikan dia, Rick!" Anthony menunjukku dengan dagunya.
"Tak pernah ku sembunyikan, Lung! Dia sendiri yang tak ingin bertemu denganmu!" Garrick bergeser selangkah, sedikit menutup pandangan Anthony Lung padaku.
__ADS_1
"El, apa benar seminggu lalu, Garrick menyampaikan pesanku untuk bertemu denganmu, dan kau menolak?" Lung bergeser selangkah dan mungkin bisa puas memandangku. Otakku kian bekerja. Sekesal apa pun, Garricklah tuanku. Dan tipunya pada Lung, mungkin untuk membantuku.
"Benar, bang Lung. Waktu itu aku tidak di hotel. Aku sangat lelah, jadi aku memilih istirahat di rumah." Tak ku sebut mas lagi Anthony Lung, tapi bang, itu cocok untuknya. Seminggu lalu..kira-kira aku sedang menemani si Daehan. Dan aku memang sedang lelah dan mengantuk.
"Apa Garrick benar-benar bilang padamu, El?" Anthony bertanya sangat lembut, memandangku juga sama lembutnya. Rasa bimbang sesaat pada kelanjutan jawabku. Tak ku lihat ekspresi wajah Garrick, hanya punggung tegapnya saja kulihat. Aku seperti terjebak dalam pembelaan untuknya sendiri.
"Benar, bang Lung!" Sudah terlanjur, ya sudah basah saja sekarang. Ada semburat kecewa di wajah putih Anthony Lung.
"Baiklah, El. Lalu bagaimana jika kali ini kau menemani makan malam? Aku sangat lapar,El." Anthony Lung nampak mengiba menatapku.
"Ayolah, El. Aku khusus turun ke dermaga hanya demi bertemu denganmu. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Anthony Lung menyambung lagi bicaranya dengan lembut. Wajah tampan itu terus mengiba padaku. Garrick tetap saja memunggungiku. Rasa kecewaku pada Garrick, mengalihkan rasa muakku pada Anthony Lung sesaat.
"Baiklah, bang Lung. Tapi jangan pernah berbuat hal yang macam-macam lagi padaku. Hanya makan malam!" Ku pandang tajam pada Anthony Lung, seolah menuntut ketepatan janjinya meski hidup atau mati.
__ADS_1
"Iya, El.Kali ini aku tak kan mengecewakanmu. Maafkan aku waktu itu." Lung hilang sesaat, hanya bicaranya yang tetap kudengar. Tertutup oleh Garrick yang sedang berbalik badan tiba-tiba menghadapku.
Garrick menatap tajam mataku. Tak ada apa pun yang dikatakan dari mulutnya. Bersit harap agar dia melarangku pergi dengan Anthony Lung, memang percuma saja ku pikir.
"Ayo, El. Ikutlah aku, keburu malam!" Lung telah berdiri di samping kami.
"Lung, aku ikut denganmu!" Garrick berseru saat ku ulur jas dan tas kerja di tanganku padanya. Garrick berlalu mengabaikan, jas dan tas di tangan yang ku ulur, sedikit tertepis oleh lengan besarnya. Ku besarkan hatiku akan sikap konyolnya.
Aku dan Lung berjalan di belakang sedang Garrick di depan. Ku pandang punggung itu, ku kata terimakasih padanya dalam hati. Dengan adanya dia ikut kami, rasanya sangat tenang jiwa ini. Dengan ku tahan senyumku, dialah kini obat nyamuk bagiku. Lavender angker yang bahkan lalat pun takut padanya.
Resto tujuan Garrick ataupun Anthony Lung, adalah yang ku kunjungi bersama Juan hari itu, dengan Garrick dan Anggun sekalian.
Anthony Lung menyeret kursi agar aku duduk berhadapan dengannya. Garrick menyeret sendiri kursinya sambil tajam melihatku. Ini hari liburku, jadi tutup juga layananku padanya. Sebelum duduk, ku sampirkan jas di sandaran kursinya dan ku letak tas kerja di tangannya. Garrick hanya diam menerima. Ku cepat duduk dengan pandangan Anthony Lung yang terus mengikuti.
__ADS_1
Sambil makan malam, Garrick terus mengobrol bersama Lung. Garrick selalu melempar Lung dengan banyak pertanyaan tentang stok barang dan pemasaran yang dilakukan. Lung nampak terpaksa menjawab segala pertanyaan tuan garangku dengan sesekali memandangku. Mungkin bagi Anthony Lung, Garrick adalah baygon bakar beracun yang tak guna!