Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
76. Penyamun


__ADS_3

Nafasku terburu menatap ke pintu, was-was dag dig dug dadaku. Bahkan mata telah lupa berkedip. Cemas penasaran ini persis saat aku tengah kesasar dua hari di Semeru.


Tak ada ketukan di pintu. Apa itu tuan garangku?


Deg...! Detak jantungku kian laju. Bunyi logam beradu terdengar jelas dari pintu. Ada benda yang dimasukkan di lubang kunci kamarku. Maknanya orang itu..Penyamun..!! Bahaya mengancamku!!


Oh..Bajuku! Kakiku melenting turun dari ranjang. Kusambar jaket di gantungan pojok kamar.


Ceklek..!


Ya Rabb..Lindungiku.. Penyamun itu sangat lihai membobol lubang kunci di pintu. Sepertinya dia telah berjalan masuk ke kamarku. Ku pegang jaket erat menghadap dinding di pojokan. Rasa panik, membuat tubuhku terkaku-kaku di tempat. Tak mungkin bersembunyi, kamar ini bukan gelap gulita. Hanya temaram dan masih nampak jelas melihat!


Kali ini, aku benar-benar bengek. Bayang ucapan seram Zayn sekilas melintas. Ini membuatku sangat kesusahan bernafas!


" El.."

__ADS_1


Haahhh.!!! Tak salah dengarkah aku? Itu suara Garrick...Maknanya itu dia! Ada lega jika dia. Tapi, apa yang telah di buatnya? Untuk apa dia masuk paksa ke kamarku?!


Kakiku tetiba melemas, kubalik badan ke arah suara di pintu. Yah..yah..benar, itu Garrick! Telah berdiri di depan pintu memandangku. Apa yang akan dilakukannya? Dasar garangan!


"Apa yang anda lakukan?!" Aku tahu, gertakku tak kan bermakna baginya. Garrick tetap mematung pandang ke arahku.


"Sambutlah aku dengan ramah, El !" Suara yang seperti sangat lama tak ku dengar, berbicara sangat tenang menakutkan. Sambutan bagaimana maksudnya?


Ku rasa sedikit gemetar, tak ingin lunglai di lantai, gegas kembali ke ranjang, kutenggelamkan lagi diriku ke dalam selimut yang lebar dan tebal. Jaket yang tak sempat ku semat, kupegang erat di tangan. Sadar akan bajuku yang compang-camping berantakan. Masih kunampakkan hidung dan mataku keluar. Ku-awasi Garrick penuh waspada.


"Jadi begitu cara menyambutku, El?" Apa..?! Apa maksudnya? Nada bicaranya seperti mengejekku.


"Geserlah, El!" Deg ! Apa katanya?! Garrick telah menjulang di sebelah ranjang di depanku.


"Apa maksudmu?Tolong keluarlah! Untuk apa membobol kamarku?!" Kusembur si garang dengan sedikit gemetar. Ragaku kini justru kian lemas ku rasa.

__ADS_1


"Membobol? Aku masuk baik-baik dengan kunci kamar yang ku punya. Kau takut sangat padaku, El." Garrick meletak kunci di atas meja lampu tidur dari tangannya.


"Geserlah, El ."


Aku semakin cemas sekarang. Selimut ku genggam erat dan kujepit kuat di kaki. Kusorong badan lebih ke pinggir lagi hingga sebagian selimutku menjuntai ke bawah.


"Jangan kurang ajar, tuan Garrick!" Meski telah sering berdua di kamarnya tak sengaja, saat mengemas membersihkan, tapi kali ini aku panik. Garrick benar-benar tidak sopan.


"Aku terpaksa begini, hanya ingin bicara. Sudah kukirim pesan, tapi kau mengabaikan. Apa ajakan Zayn menikah, membuatmu berbunga dan lupa diri?" Garrick mendengar?! Tajam sangat mulutnya!


Kakiku menepi ke tengah, Garrick berbicara sambil duduk di ranjang dengan tak peduli jika kakiku di sana. Pria berkuasa itu telah duduk tenang di samping kakiku.


"Dari siapa anda tahu?!" Kusemprot lagi si garang. Tubuhku semakin panas berselimut. Sebentar lagi mungkin mengebul asap di luarnya.


"Cctv di rumah ini menyebar di mana-mana, El. Berapa kali pun Zayn menemuimu, aku juga tahu." Suara empuk berat si garang terdengar sangat tenang. Cemas yang ku rasa perlahan mereda. Sedikit kuturunkan selimut di wajah dan berhenti di leher.

__ADS_1


"Lalu, apa tujuan tuan masuk ke sini?" Lebih ku sampingkan wajahku melihatnya. Garrick berbalik duduk melihatku dengan menaikkan sebelah kakinya di ranjang.


" Dua kepentingan, El. Menyangkut Zayn dan diriku sendiri." Jika saja lampu lebih terang, mungkin mata coklat pekatnya itu akan terlihat lekat menatapku. Hanya samar kilat mata tajam, dan wajah tampan garangnya saja yang nampak di temaram.


__ADS_2