
Bang..! Bang..! Bang...! Bang..! Bang..! Bang..!
Suara yang jelas mengganggu sujud akhir asharku. Apa lagi kalo bukan tendangan ujung sepatu Garrick di pintu bilik. Kegiatan konyol yang benar-benar jadi kegemaran si garang Garrick. Apa pintu bilikku membuatnya letoy, mengetuk pintu dengan tangan pun tak mampu.
Ceklek!
Wajah tegas sempurna dengan mata coklat tajam telah berdiri tegak di depan pintu kamarku.
"Sedang apa?!" Mata coklat itu memperhatikanku dari bawah ke atas. Rasanya sangat risih diperhatikan detail begitu olehnya.
"Panjat kelapa, boss!" Garrick berbiodata Islam di pasport yang dilemparnya kemarin itu. Ku rasa tahu apa yang ku buat dengan mukena melekat di badan.
"Sudah? Buatkan teh. Jangan manis!" Aku mengangguk, suaranya cukup adem kali ini bagiku.
Garrick tak menyingkir, badannya terus tegak dengan mata tajam mengarah padaku. Ku tutup pelan pintu bilik sampai habis pandangan kami. Cepat ku lepas mukena dan kulipat asal bersama sajadahku. Aku berkejar waktu dengan ujung sepatu Garrick, yang mungkin akan menendang pintu bilikku kapan saja mengagetkan.
Garrick masih berdiri menunggu, saat ku keluar dengan baju baby doll panjangku. Mungkin dia baru kembali, dia sudah pergi dari pagi-pagi. Keluar dengan rapi setelah heboh menyuruhku membuat nasi goreng tanpa garam, tapi akhirnya aku juga yang disuruh ngasih garam di piringnya.
Sebelum pergi, Garrick melarangku keluar, hanya di kabinlah aku hari ini. Membereskan segala pekerjaan rumah, menyuci dan menyetrika pakaianku dan miliknya. Garrick tak mau memakai jasa layanan laundry di kapal. Aki tidak perlu menyiapkan makanan. Garrick tak akan menyentuh makanan yang sudah lagi tak nampak kebul asapnya, meski dimakannya saat dingin juga.
Sisa waktu ku habiskan untuk televisi dan novel online. Sesekali ketiduran, tapi cepat ku tegakkan muka lagi, khawatir kedapatan si tuan garangku yang tiba-tiba kembali. Beberapa kali ku melirik di pintu, berjaga sikap jika si Garrick nampak datang. Sebenarnya hari ini cukup manis..,tapi berakhir juga dengan tendangan sepatu di pintu kamarku! Hu..hu..hu...
"El..!" Seruan Garrick membangunkanku, kembali dari lamunan pendek yang tak guna.
"Ya, bossku!" Ku menuju sofa dengan membawa cangkir teh di nampan. Ku letak cangkir teh di tatakan perlahan, tepat di meja hadapannya.
"Makan!" Garrick menyodorkan sebuah kotak bergambar burger itu ke arahku. Ku terima dan ku letak di piring lengkap dengan pisau steak dan garpu, ku sodor lagi padanya.
__ADS_1
"Makanlah, untukmu!" Garrick melirikku sekilas, dagunya menunjuk sofa di sebelahku. "Terimakasih, bossku!" Yess..lapar di perut, burger pun nyangkut! Ku bersorak dalam diamku. Menikmati burger pemberiannya, yang bagiku burger ini paling enak yang pernah ku rasa di lidah dan mulutku.
"Ya, Anggun..." Ku lirik Garrick yang sedang mendapat telepon dari Dora.
"Aku..sudah..apa kau juga sudah makan?" Ha..ha, ucapan yang hanya manis di bibir. Bukankah lebih manis sikapnya padaku, tanpa bertanya langsung saja membawakan. Eh, boleh kan membandingkan diriku dengan Dora?
"Iya, aku mengajakmu. Hanya makan malam sebentar. Menemani Lung." Garrick tersenyum sambil menyimak ponsel di telinganya. Rupanya mereka berdua turut juga. Ah, ada Anggun lebih baik dari pada hanya berdua dengan Anthony.
"Cantik...Apapun warna gaun yang kamu pakai, semua terlihat cocok." Ah, apaan tuh..pujian tanpa makna, memuji asal saja! Jika aku adalah Anggun, hatiku tak kan puas tanpa disertai satu warna. Ha..ha..ha..
"Iya..Kau juga akan manis dengan sandal tinggimu itu." Hah..Mana ada...sandal tinggi tidak nyaman! Garrick harusnya berpesan hati-hati agar aman, bukan hanya sekedar memuji menyenangkan!
"Iya.. Aku pun sudah lama tidak bertemu dengan orang tuamu. Aku akan menemui mereka jika sudah datang." Ku lirik Garrick, senyum itu tak ada lagi. Sepertinya, Garrick sudah mengenal lama keluarga Dora, tapi nampak berat untuk bertemu orang tua Dora.
"Oke Anggun.. Kita bertemu di resto Garju, dek tiga, pukul tujuh." Garrick tidak tersenyum, ponsel itu diletak cepat di atas meja. Ku cepat fokus pada si burger pura-pura.
Sambil menelan secuil kecil burger, ku melesat masuk dalam kamar. Karena sudah mandi ashar tadi, baju sajalah yang ku tukar. Yang ku pakai Ini, baju pilihan dari Sari waktu itu, sedikit agak terbuka. Tapi tinggal inilah baju tersisa yang belum pernah ku kenakan. Baju pas selutut, berlengan sedikit di atas bahu. Dengan riasan tipis serta baju agak seksi ini, benar-benar membuatku seperti bidadari. Memang begitulah yang cermin bilang. Ha..ha..ha..
"Elll..!!!" Teriakan Garrick membahana dari kamarnya, tepat saat aku baru duduk di sofa menunggunya.
"Rapikan saja sekarang, Lung sedang menunggu!" Garrick nampak buru-buru merapikan baju di badannya, dengan mata yang tidak berpaling menatapku.
Ranjang besar Garrick telah nampak licin, nyaman dan rapi. Buku, file dan alat-alat kerja telah ku rapikan. Set baju kotor yang berserakan di lantai telah ku pungut masuk dalam keranjang. Handuk lembabnya telah ku gantung di jendela lautan. Biasanya ku kemas kamar ini setelah Garrick nampak sudah di luar.
"El..!" Ku putar badanku, tak jadi keluar kamar.
"Ya, boss!" Ku dekati Garrick yang duduk di sofa. Dan kupakaikan sepatu di kakinya, ku paham itu maksud panggilannya.
__ADS_1
"Tak minatkah kau pada Lung sedikitpun?" Suara Garrick terdengar nyaman di telinga, meski sangat kaku diucapkan. Jadi ku hargai, tak kan ku jawab dengan asal begitu saja.
"Anthony Lung saya rasa punya segalanya. Gadis mana yang rela menolaknya, tuanku?" Ku jawab sesopan mungkin untuk pertanyaannya.
"Lalu, kenapa kau takut padanya?" Garrick terus bertanya sambil menunduk memandangku. Aku masih di posisi jongkok di depan kakinya.
"Ibuku sudah mempunyai seorang calon menantu kesayangan untukku, tuanku.." Yang ini aku memang asal saja berkata. Terkesan akupun juga menerima Juan seperti halnya ibuku. Ah, tidak apa, anggapan ini akan semakin membentengiku dari bahaya tertentu. Toh, tak kan ada yang tahu kebenarannya.
"Jadi, kau sudah punya calon suami?" Garrick bertanya lirih sambil menyandarkan punggung lebarnya di sandaran.
"Saya tidak merasa begitu. Ibukulah yang menerima lamarannya." Perkataan ini memang benar adanya.
"Lalu, kenapa kau justru datang ke Batam? Apa orang yang melamarmu itu tidak punya pekerjaan?" Garrick kembali memajukan punggungnya.
"Saya belum berminat menikah saat ini." Ku jawab lagi apa yang ada. Merasa tak percaya, Garrick ada waktu untuk bertanya tentangku. Bukankah biasanya acuh, tak peduli dan enggan bercakap denganku... Mungkin ini demi Anthony Lung, teman baiknya.
"Jadi, kau akan pulang ke asalmu setelah ingin menikah?" Garrick terus bertanya, ku rasa kali ini tak ada hubungannya dengan Anthony. Garrick sedang interview padaku. Mungkin dia hanya ingin tahu dengan masalah pribadi salah satu kacungnya. Dan akulah yang kebetulan sedang ada di dekatnya.
"Saya belum tahu, sesabar apa lelaki itu menungguku." Jawabanku terkesan bahwa aku menyuruh Juan menungguku. Ah, biarlah.
"Dia tak akan mencarimu?" Kali ini Garrick semakin memajukan badannya, bukan hanya punggungnya. Bahkan kakinya sedikit membentur lengan bahuku.
Seperti sadar dengan gaya patungku, aku segera beringsut berdiri sedikit jauh darinya. Garrick yang menyudahi interviewnya pun ikut berdiri dan berjalan melewatiku sangat dekat. Bahuku sedikit tergesek lengannya. Bau wangi khas lelaki darinya, terhirup segar dalam dadaku.
"Ayo El, sudah lambat!" Segera ku berjalan keluar kamarnya, meninggalkan garrick yang tengah merapikan rambutnya di cermin. Sudah berapa kali Garrick menyuruhku cepat-cepat, buktinya dia sendirilah yang lambat. Seolah tak rela jika kacung beruntung ini menyempatkan diri untuk sekedar istirahat. Padalah istirahat sangatlah berguna untuk membuat badan tetap sehat! Hah..hah...hah..!
*Atau sekedar bercanda jenaka dengan para pembaca yang terhormat*😊
__ADS_1