Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
23. Pacar Pura-Pura Anthony Lung


__ADS_3

Irgi berpamitan undur diri dari Garrick, mengucap terimakasih pada bossku juga padaku.


"Bang, habis pulang.. jika Elsi libur, boleh dong ku ajak ke Nagoya, ke kafeku. Cuan, bang...!" Irgi begitu santai pada Garrick, badannya hanya nampak separuh di pintu.


"Terserah kalian!" Garrick acuh tak peduli, di tutupnya layar notebook di meja sambil mengambil cangkir kopi miliknya.


"Bossku! Aku ingin bicara!" Aku mulai bicara saat Irgi benar-benar pergi. Aku keberatan dengan notebook yang sudah ditutup, sedang punyaku masih tak jelas.


"Bicara apa?!" Garrick melirikku sambil menyeruput cangkir kopinya. Kopi buatanku nampak nikmat ku lihat.


"Berapa total honor yang ku dapat?" Aku lelah bicara keras dengannya. Lagipula ini soal hak, jadi aku harus melemahkan bicaraku.


"Bukankah sama dengan Irgi?" Nyess... Ah,si boss bicara landai padaku. Meski bernada dingin, tapi bukan bentakan, damai dunia ku rasakan. Aku pun cepat memberi sebuah anggukan.


"Tapi ada tambahan honor lagi, boss." Ku pandang wajah ganteng Garrick yang juga tengah melihatku.


"Apa itu, El?" Garrick bertanya sangat landai. Kali ini aku tidak keberatan dengan sebutan pada namaku.


"Tolong tambahkan tiga puluh juta di tagihan Anthony Lung, boss." Rasa lega di dada, telah ku sampaikan honor tambahan ini padanya.


"Honor apa itu, El ?" Ah, bossku..tetaplah bersuara datar begitu, biar ku rasa indah duniaku..


"Anthony menggenggam tanganku." Ku tundukkkan kepalaku, memandang jemari tanganku. Menunggu reaksi Garrick padaku.


"Jadi yang itu tidak gratis, bukan bonus darimu?" Garrick sedikit memajukan muka saat ku pandang matanya.


"Aku tak ingin membuat Anthony Lung malu." Garrick masih menatapku, kedua alisnya terangkat ke atas, lalu Garrick mengangguk.


"Baiklah." Tangan panjang itu mengambil ponsel di samping notebook. Tengah mendial nomer seseorang.

__ADS_1


"Hei.. Lung!" Mungkin Anthony Lung yang sedang di telponnya.


Garrick berbincang bersama Anthony tidak menggunakan bahasa persatuan. Tapi menggunakan bahasa Anthony Lung yaitu mandarin, yang aku tidak pernah ingin mempelajarinya saat sekolah. Jadi hanya terdengar jelas di telinga, tanpa perlu mengolah di kepala.


Garrick terus bicara di telepon dengan sesekali melihatku. Sepertinya sedang mendiskusikan hal serius dengan Anthony. Apa yang mereka bicarakan? Apa tentangku? Apa Anthony ingkar dangan ucapan tiga puluh jutanya? Jika iya, tentu aku akan malu pada Garrick. Salahku saja kepedean.. Percaya pada perjanjian lisan, siapa yang percaya kan?


"El..!" Garrick berseru memanggilku, panggilannya pada Anthony telah usai. Ku luruskan wajah menyimaknya, merasa ada hal yang akan Garrick katakan padaku.


"Lung akan menambahkan honornya untukmu." Garrick terus bicara dengan datar memandangku.


"Kenapa, boss?" Aku semakin menyimaknya.


"Jadilah pacar pura-puranya. Lima puluh juta!" Maak..! Kenapa Anthony selalu mengimingi uang padaku dengan syarat yang sebetulnya sangat mudah?


Garrick menyandarkan punggung di sandaran sofa, matanya terus memandangku. Tapi tak pernah ada kesinisan untukku di matanya.


"Hanya besok malam. Sekedar menemani makan malam, sejam..dua jam.. ku rasa tak lebih." Ish..menggiurkan sekali! Tapi ingat sikap Anthony yang berani menyentuh tanganku tiba-tiba, rasanya jadi ragu. Anthony bisa melakukan apa saja dengan uangnya. Sejam..dua jam memang sebentar. Tapi, apa saja bisa berlaku di waktu singkat itu!


"Kau takut ditipunya?" Aku diam saja, karena bukan hal itu yang utama.


"Lung itu..Dia teman baikku, tidak akan pernah berkhianat." Garrick menegaskan ucapan datarnya.


"Benar hanya makan malam, boss?" Suaraku mengandung ragu.


Garrick kembali memegang ponselnya.


"Lung..Haloo.." Garrick sedang memanggil Anthony lagi. Untuk apa..? Akupun tak tahu, hanya percakapan dalam bahasa mandarin itu yang ku dengar.


Ku tinggal tuanku sebentar untuk mencuci cangkir bekas punya Irgi, di wastafel dapur. Saat berbalik, Garrick tengah berdiri di pintu dapur. Badan besarnya yang menutupi jalan, terkesan menghadangku.

__ADS_1


"El..! Setujulah. Anthony Lung telah memilihmu untuk misinya!" Garrick... Kenapa memaksaku? Mencurigakan!


"Apakah tuan Garrick menjualku? Apa anda dapat untung dariku?" Aku sudah tak bisa menahan prasangkaku. Garrick memicing mata padaku sangat tajam.


"Kau pikir apa?! Tawaran Lung hanya untuk makan malam! Bukan untuk menyeretmu ke kamar!" Garrick kembali berkata keras padaku. Tapi masalah ini sudah terlanjur ku bakar.


"Anthony ingin mengambilku jadi pekerjanya, tuan membolehkan. Sekarang dia ingin aku jadi pacar, meski katanya pun itu pura-pura, anda juga menganjurkan. Apakah saya hanyalah kacung rendahan yang tak ada perlindungan. Apakah saya sudah tak diperlukan dan tuan tidak berniat mempertahankan? Apakah anda sudah mendapat uang muka sangat besar dari Anthony?" Garrick hanya memandang datar padaku, tak ada bayang murka seperti biasanya. Isshh..Aku makin curiga penasaran padanya.


Jujur, aku memang sudah merasa nyaman bekerja pada Garrick saja. Meski garang, Garrick bukanlah mata keranjang. Sedang Anthony, selain dia orang asing bagiku, tapi tersembunyi sorot serigala di matanya. Meskipun Anthony Lung sangat royal sekali pun.


"Kau dengar! Lung dan aku adalah teman baik. Lung akan dinikahkan oleh ibunya dengan salah satu sepupu. Tapi Lung tidak suka. Lung rasa kau cocok untuk jadi tameng penolakan pada ibunya. Sekali saja, besok malam. Dan aku tak menjualmu, aku juga tak mengambil untung darimu. Jadi, tolonglah!" Garrick masih bertahan dengan sikap datarnya.


"Tuan Garrick, apa ada jaminan jika aku hanya cukup berlakon sekali saja? Apa tidak ada kebohongan berikutnya yang akan diminta Anthony?" Garansi keselamatan kerja harus ku dapat dengan jelas dari Garrick.


"Aku. Aku jaminannya." Ku tatap Garrick menyelidik, ku yakinkan bahwa bossku adalah orang baik. Seperti tahu isi di hati, Garrick mengangguk sekali menatapku. Ada hangat sesaat di mata coklat yang kini berwarna lebih cerah.


"Baik..Ku ambil peluang itu, tuan Garrick. Satu kali dinner, lima puluh juta ku dapat. Tapi, kapan ku terima bayaranku?" Aku tak bisa jauh dari sifat matreku. Hu..hu..hu..


"Seteleh kerjamu selesai, seminggu melayaniku. Kau jangan lalai dengan tugasmu padaku, El !" Garrick memang tak bisa berkata lembut padaku. Nadanya agak keras lagi kali ini.


Yah..yah..yah...siapa juga yang barusan meminta ku ambil tawaran dari Anthony. Sekarang, dihardiknya aku agar tak lupa dengan tugasku. Garrick..! Kau memang bos garang mirip garangan!


Maakk...!! Garrick menolehku dengan tatapan sangat tajamnya kembali. Seakan Garrick telah mendengar apa yang ku umpat di sanubari. Sedikit ku sesali, kalau bisa, aku ingin minta maaf saja dari hati.


"El.. ! Buatkan mi goreng!" Perintah Garrick menghentakku. Ku tatap punggung tuanku yang berjalan memunggungiku.


Garrick, bos besarku yang garang kaya raya. Ditakuti semua pekerjanya karena kelimpahan uangnya. Berkuasa, dan semua segan padanya. Tapi, apa yang dimintanya padaku barusan? Mie goreng.. Tuan besarku hanya ingin ku buatkan mie goreng! Dia tidak pernah meminta yang rumit. Pasta.. omelet.. atau spagheti misalnya..


Apa sebenarnya aku beruntung? Apa kerjaku sebetulnya mudah saja? Kenapa anak buah Ratih, teman-teman kacungku begitu takut padanya? Apa Garrick sangat nyaman dengan topeng garangnya? Padahal di mataku, Garrick adalah boss garang penggemar mie goreng saja! Ha..ha..ha..

__ADS_1


__ADS_2