Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
113. Orderan Berlipat


__ADS_3

Malam sehabis mengantar nasi kotak ke proyek bangunan mas Armand, di daerah Songgoriti kota Batu, mas Nino, ya..sang dokter memintaku memanggil mas saja, mengajak singgah ke taman hiburan malam BNS atau Batu Night Spectaculer di salah satu pusat kota Batu.


Mas Nino tidak bertanya dulu padaku, tetapi langsung saja menuju ke sana. Tahu-tahu kami telah sampai di taman hiburan umum itu, yang khusus buka waktu malam. Jadi, mau tidak mau akupun akur ikut piknik.


Berbagai ajang hiburan menyenangkan tersuguh lengkap di sana. Rumah hantu, arena belanja souvenir, oleh-oleh, spot foto, wahana olahraga, air terjun mini dan lain-lain membuat kami lupa akan waktu.


Di tengah kunjungan kami, mas Nino sempat menerima panggilan video cukup lama dari sahabatnya, mas Armand. Mas Armand baru menyudahi panggilan saat kuingatkan akan kesibukannya di proyek. Sebenarnya kasihan juga pekerja proyek itu, malam pun kena kerja.


Mas Nino mengantarku pulang sangat malam. Itu pun, sebab kuingatkan banyak kali bahwa malam hampir larut. Perjalanan dari kota Batu ke Kacuk-kota Malang bukannya dekat, perlu waktu kurang lebih satu jam untuk sampai.


Seperti biasa, ibuku menyambut kedatangan kami yang meski sudah larut itu dengan tetap penuh drama. Mungkin kopi yang buru-buru dikeluarkan ke meja teras buat mas Nino, sudah dingin dan telah lama dibikinnya. Meski terlihat dari cara meminum bahwa kopi itu tidak panas, mas Nino tetap pelan dan bertahap meneguknya. Diambil-diletak, ngobrol, diambil-diletak, ngobol. Begitulah, hingga memakan waktu sangat lama.


🐒🐒🐒🐒🐒


Pagi ini seperti biasa, telah kuantar tujuh puluh lima nasi kotak untuk sarapan para pekerja di proyek bangunan yang dimandori oleh mas Armand.


Lelaki berbadan tinggi, berwajah manis dengan kulit sawo matang itu datang mendekat. Sang mandor bangunan sambil menghitung lembaran merah berhenti di depanku.


"Semalam pulang jam berapa, El..?" Penghitungan uang manual olehnya telah tamat.


"Hampir pukul sebelas, mas." Kujawab mas Armand sambil terus kupandangi para pekerja proyek bangunan yang mulai menikmati nasi kotak buatan ibuku.


"Jangan sering keluar dengan Nino, El. Terutama jangan datang ke sini bersama." Mas Armand menatapku sambil mengulur rupiah merah yang sudah dibundle. Suaranya sangat lirih kali ini, bahkan samar saja kudengar. Peringatan mas Armand ini sangat aneh rasanya.


"Lah, emang kenapa, mas? Aku kan nggak sengaja keluar bareng... Dan itu pun masih satu kali. Lagian, mas Nino kan cuma ingin ketemu sama mas Armand.." Cepat kumasukkan dalam tas bahu, segepok uang yang kuterima barusan. Kuharap mas Armand benar-benar paham dan mengerti dengan protesku.


"Iya aku tahu. Tapi sebenarnya ada alasan, El." Mass Armand telah bergeser benar-benar dekat di depanku.


"Ada alasan? Apa itu mas?" Aku jadi penasaran dengan maksudnya.


"Bos pusat tidak suka jika ada perempuan datang bersama lelaki di area proyeknya." Maak.. Konyol sekali!


"Bossmu kan nggak lihat, mas" Aneh, aku datang sendiri sangat sering tak masalah. Datang hanya sekali bersama Nino jadi masalah. Apa hubungan denganku? Apa boss pusatnya mas Armand itu jomblo akut? Jadi bawaannya iri begitu? Ha..ha..ha..


"El..."


"Di sini sudah bertebaran cctv, sistem IT bosku sungguh mutakhir dan update. Terutama di jalan masuk kendaraan, ya tempat GoCarmu selalu parkir itu yang utama. Jadi, aku tak pernah bisa bohong. Ingat pesanku tadi ya, El.." Bicara mas Armand makin lirih, untung fungsi radarku sangat bagus.


"Iya mas, siap. Jangan khawatir. Aku paham, tak akan kupersulit kerjamu." Aku sangat paham bagaimana posisi mas Armand saat ini. Bos tempat mengerjakan proyeknya ini memang aneh!

__ADS_1


"Terimakasih pengertianmu, El.." Mas Armand merapikan helmet lapangan di kepala. Nampak bersiap lagi kembali ke konstruksi.


"Sama-sama mas. Ya sudah yo, mas. Aku pulang dulu. Sampai jumpa siang nanti!" Cepat kubalik badan dan berlalu. Sopir GoCarku terlihat bertepuk dan melambai padaku. Mungkin booking jemput telah masuk di aplikasi ponselnya.


🐒🐒🐒🐒🐒


Ada pesan singkat yang masuk ke ponselku. Haaah..!!! Ini sangat mengejutkan.. menyenangkan.. sekaligus mencemaskan!


"Buuuuukk..!!! Ibuuuuk..!!" Sambil berlalu keseru kuat ibuku dengan nembawa ponsel di tangan. Kuberlari masuk ke dapur.


"Heeeih..Yooo...Ngopo seh, Si...?!!" Ibuku pun tak kalah seru membalas panggilanku. Kedua rewangnya pun menoleh tertegun padaku.


"Buk, orderan Songgoriti nambah lagi. Pekerjanya tambah banyak. Seratus lima puluh. Sanggup nggak, buk..?! Sanggupinlah, buuuk.., kan sayaaang.." Terlihat ibuku tengah mendapat shocking mendadak. Sama sepertiku... Tapi, enaknya di aku. Tinggal antar, tapi incomenya padaku. Tapi juga.. Ibuku rela tidak kali ini?


"Lah..Mendadak sangat itu, Si.. Kan wes janji di tempat lain-lain...!" Ibuku nampak bingung. Tapi hanya sebentar. Mendadak wajah lelah itu sumringah.


"Sik..Sik..Sabar dulu, Si. Tak tanya di grup wa kateringku. Yen memang ada, tapi kamu ambil ke tempat temanku lho yo, Si..!" Ibu menunjukku.


"Gampang itu, buuk.. Yang penting jadi cuanku loh itu ya, buk!" Ibuku mengangguk pasrah, setuju padaku tanpa syarat. Aku jadi semakin bersemangat. Semoga ada kawan seprofesi ibuku yang bersedia menyuplai, dan aku sukses jadi calonya. Si gadis calo nasi kotak! Ah, indahnya menyalo!!


🐒🐒🐒🐒


"Thanks ya, El.. Nasi kotak sebanyak ini bisa kamu pasok. Jadi, aku tak pusing lagi." Mas Armand berdiri menghampiriku sambil kembali menata lembaran merah yang kini semakin menebal. Ah, mataku berbintang-bintang melihatnya.


"Iya, mas. Sama-sama, ibuku yang menyiapkan, aku yang mengantarkan." Mas Armand senyum mengangguk sambil terus menunduk, fokus terus pada hitungannya.


"Mas, kenapa pekerjanya ditambah berlipat begitu? Ingin cepat?" Ah, pekerja yang kian banyak itu membuatku susah-susah,senang.


"Iya, El. Yang punya ingin cepat selesai. Dalam minggu ini harus terealisasi delapan puluh lima persen fisik bangun. Minggu depan seratus persen target harus gol." Lelaki sabar itu terlihat sangat suntuk dan tertekan.


"Apa penambahan jumlah pekerja yang banyak itu sangat membantu, mas?" Kuterima uluran gepok rupiah merah itu darinya. Langsung saja kukandangkan. Mas Armand tak pernah salah melakukan penghitungan.


"Tentu. Tapi aku harus ekstra teliti mengubah plan proyekku. Bayangkan, plan semula boleh empat hingga enam minggu, tiba-tiba boss pusat mengubah jadi kurang dua minggu saja." Baru hari inilah kudengar keluhan sang mandor akan tekanan kerjanya.


"Tapi..Gaji untuk mas Armand naik juga, tidak? Dan orang-orang bawahan mas Armand tidak kurang-kurang, kan?" Kuselidiki mas Armand. Aku tak ingin diam-diam menghujat pemilik bangunan ini. Padahal ternyata sesuai juga dengan kompensasi... Kan..kan..kan..


"Iya sih, El. Kamu pinter, itu memang benar. Bossku memang telah menanggung jawabnya." Mas Armand nyengir memandangku. Aku pun juga mengimbangi cengirannya.


"Bossmu itu sekarang di mana, mas? Tua apa muda?" Jujur, aku jadi sedikit ingin tahu akan pemilik gedung ini. Sebab, secara tak langsung, boss pusat itulah yang membayari nasi kotakku. Dan sepertinya cukup royal...

__ADS_1


"Belum datang, El. Di luar Jawa. Masih muda, belum kawin. Dia akan datang jika hotel ini sudah jadi." Pandangan mas Armand lekat menatapku, sedang mulutnya juga terus terbuka berbicara padaku. Aku termenung menyimaknya.


Aahh....Jadi ingat kamu Garrick..Pemilik nama Garju.. Apa bos mas Armand sekiyut Garju.. Apa dia sekaya Garju? Apa dia seroyal Garju? Apa dia juga garang, segarang si garang garangan?


Resah..., aku memang resah menunggu datangnya. Tak sabar mengharap bertemu, agar di tawar sakit rinduku.


Tapi, ada apa denganmu? Kenapa kamu seperti lupa, buta, dan bisu? Tuli akan perasaanku yang bertalu menantikanmu? Aaaah...!!Garjuuu..!! Selalu rindu kamu sepanjang waktu!!!


🐒🐒🐒🐒


Tok...! Tok..! Tok..! Tok...! Tok...!!


Uh..Ibuku kembali mengusik tenangku. GoCar langganan yang biasa datang menjemput kami- aku dan para nasi kotak-, masih lama datangnya. Tapi ibuku telah heboh mengetuk pintu kamarku.


Ceklek..!


"Si...Iku, mas Ninomu datang..! Nasi kotak wes masuk semua ke mobil. Tinggal nunggu kamu. Sana, cepet. Ojo lama-lama..!"


Duh, maaak!!! Bagaimana ini, mas Armand pasti kecewa dan tak suka. Khawatir jika kedatangan kami akan menyulitkan pekerjaannya. Bayang wajah mas Armand saat berpesan padaku kemarin, mengganjal di mata.


Lalu bagaimana? Seratus lima puluh nasi kotak itu tidak sedikit. Cukup mampu menegangkan punggung saat menata. Tak mungkin jika terus dikeluarkan lagi. Itu adalah kerja sia-sia. Dah, biarlah. Akan kujelaskan pada mas Nino nanti saat sedang di jalan saja. Mas Nino terpelajar, pasti akan mudah memahamkannya.


🐒🐒🐒🐒🐒


πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›


🐞🐞🐞🐞🐞


***🌿Otor kelas bilis ini izin promo yaa... Pembaca yang baik hati, ramah tamah, rajin menabung, tanpa sogok meski kepepet..🐺


🌿Sebab Resah pada novelku yang terancam akan karam. Maka tolong tariklah... selamatkan.. agar novel ini sedikit menyembul saja ke permukaan...πŸ„***


Izin juga untuk pinjam komen rekomend dari reader yang berbaik hati meninggalkan rekomend cantiknya di sana... Ini rekomend terbaru dan kupinjam. Beberapa rekomend cantik juga telah digantungkan di sana oleh para reader terdahulu..Terimakasih... Meski sadar akan sakit saat terbanting, tapi rekomend cantik begini, tentu saja aku teruja.. Terlepas akurat atau tidak, tetap saja tersanjung.. Makhlum otor kacangan, mudah melayang... Meski bagiku tentu saja rekomendasi itu akurat 1000% !!!! ❀❀❀


❀Selamat BerkunjungβœŒβ€πŸ™



__ADS_1



__ADS_2