Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
36. Pemikat Berondong


__ADS_3

Jam raksasa di atas pintu masuk bagian dalam Panbil Mall, telah memanah di angka sebelas malam waktu Indonesia bagian barat. Bunyi pepatah, kubis tempe pakai nasi-habis rame pasti sepi, adalah fakta untuk acara Zayn's resto opening yang usai.


Lantai dasar di Panbil Mall kini tengah lengang, mall telah tutup dari waktu operasionalnya. Hanya petugas dan orang-orang berkepentingan sajalah yang masih boleh berada di dalamnya.


Berdiri kaku bertiga, situasi yang sungguh tak ku suka. Aku, Garrick, dan Dora telah di luar mall, berdiri bersama tak sengaja. Zayn kembali masuk ke dalam mall, masih ada beberapa urusan yang ingin disampaikan pada para pegawainya. Sedang Anang mengantar Ike kembali ke dormitory asrama, yang katanya di Blok R, Selayang, Muka Kuning.


Tangan mataku pura-pura sibuk bergerak di atas layar ponsel. Hati tak henti harap agar Zayn dan Anang lekas datang kembali dimari. Jika tidak keduanya, salah satu dari mereka pun sudah cukup mencairkan suasana kaku saat ini.


"El..!" Duh, maak! Suara keras yang seperti berwindu tak ku dengar, padahal baru berhari yang lalu tak jumpa kini melengkingku.


"Ya..Tuan Garrick." Ku dongak sedikit kepala menatapnya. Mata yang hanya nampak kilatnya, lampu-lampu terang di pelataran Panbil telah mulai di padamkan. Dora di sampingnya, mungkin begitu juga cara memandangnya padaku. Tapi apa peduliku pada Dora!


"El, kenapa kau bisa di sini ?!" Cara bicara Garrick biasanya. Keras dan lirih.


"Zayn yang meminta, boss.." Aku tidak keras sepertinya saat bicara. Ada Dora, tak ingin membuat perempuan itu bergembira dengan suara keras kami.


"Kenapa kau mau ?" Suara tuan garang tidak lagi keras. Tapi ucapannya itu seperti menyalahkanku. Apa salahnya ikut Zayn ke sini...


"Dia memaksaku.." Memang benar kan..? Tapi samar ku lihat wajah Garrick mengeras.


"Apa kau tak bisa menolaknya?" Garrick landai bicaranya. Tapi isinya memojokkan.


"Saya sedang bekerja padanya, tuan Garrick sendiri yang bilang. Apakah sopan jika saya terus menolaknya?" Aku tak ingin membahas masalah foto di ponsel Zayn, si Dora pasti kian menjulidku.


Tuan garang mengusap kasar mulut dan rahangnya dua kali. Entah apa lagi yang ingin dikatakan lelaki itu padaku.


"El...Apakah kau ingin membuat Zayn seperti Anthony Lung? Ku Ingatkan kau,El..Zayn masih pelajar." Ah..! Ucapan Garrick kali ini kelewatan. Menyakitkan! Salahkah, aku???

__ADS_1


"Tuan tak adil..Apakah aku nampak berusaha mendekat pada Anthony Lung? Apa aku tak berhak menolaknya? Apa maksudmu tuanku??" Doralah penyemangat hatiku untuk menjaga nada bicara dan suara. Balas ku serang ucapan Garrick setenang mungkin di bibir.


"Baiklah, El.. Tidak untuk Anthony Lung, tapi dengan Zayn... Aku tak yakin." Suara tanpa nada dari Garrick, tapi bermakna dalam di hatiku.


"Kenapa anda tidak berfikir sederhana saja, tuanku? Andai aku bukan pekerjamu yang hina, bukankah hal biasa jika laki-laki dan perempuan berkawan? Kenapa anda terlalu risau? Jangan terlalu berat berfikir tuankuu... Bisa-bisa, nanti anda cepat tua... Seperti laguku tadi..!" Tetiba aku merasa konyol di akhir bicaraku. Ingin melihat jelas bagaimana ekspresi muka garang Garju di tempat yang terang karena ucapanku. Sekelam apa tatapan mata garangnya padaku.


"Cih..! Dasar pemikat berondong ! Kau tak sadar, berapa umurmu dibanding Zayn?!!" Ish..Malam paling seram, maklampir yang berucap padaku! Beraninya dia sadis padaku?! Wanita tak berkaca!


"Apa..? Apa katamu? Berondong? Aku nampak serasi dengan Zayn! Aku sama sekali tak terlihat tua darinya. Justru ku pesan padamu. Jika kau telah menikah dengan tuanku, jangan sekali-kali berjalan dengan adik iparmu. Semua mata akan berfikir bahwa kau sedang menggoda berondong!" Ku harap, Dora akan menangis dengan ucapanku. Setidaknya merasa tertekan karenanya. Atau bisa jadi mendesak nikah pada Garrick. Hi..hi..hi..


"El..!!!" Aduh..Garrick menyeruku sambil mencengkeram erat kedua sisi bahuku. Bukan erat...tapi kasar. Cengekeraman kuat ini sedikit menyakitkan. Sakit luar dalam ku rasakan. Dora akan suka melihatnya..


"Bang..! Kau kenapa, bang?! Lepas Elsi, bang! Sakit bahu dia tuuu..!" Zayn datang, menepis keras tangan Garju dariku dan terlepas. Oh, Zayn ..Kau bocah baik..


"Ini ada apa, bang? Apa yang dibuat Elsi ?" Zayn sama tinggi dengan abangnya. Mereka tengah saling berpandangan.


"Kenapa bang?! Bukankah aku juga membawa Anang? Lalu apa salahnya kami pergi bertiga?" Zayn terdengar berapi di suaranya. Ku rasa sikon ini tak bagus.


"Zayn...!" Zayn menolehku, aku memanggilnya.


"Angin sangat kuat, Zayn. Hawanya begitu dingin.Kita pulang saja ?!" Wah... Yang di atas mendengarku! Tetiba angin berhembus kencang dan panjang melewati kami di pelataran panbil mall. Dan Anang telah nampak dari parkiran. Sang pencipta merunkan sabdanya!!


"Akan hujan, El..! Sebaiknya kita ke mobil dan pulang! Bang, kami duluan!" Zayn menyambar pergelangan tanganku. Kali ini ku biarkan.


Sempat sesaat ku lihat Dora dan Garrick berkilat mata memandang kami. Lalu bergerak pergi tanpa dipegang tangan sepertiku. Dan ku gegas ikuti Zayn jalan cepat seperti kelebat bayang di kegelapan. Mungkin di lain waktu, Garrick ataupun Dora akan kembali menghardikku!


****

__ADS_1


Kami bergerak meninggalkan Sei Panbil menuju Batam Center. Cuaca telah tenang kembali, tak ada air langit yang tercurah ke bumi. Seperti juga kami bertiga, kembali ceria dengan perjalanan singkat ini.


"Nang, Ike umur berapa?" Ku luncur penasaranku pada Anang yang tertahan sedari lama. Mereka nampak serasi meski Ike sedang pucat, mungkin efek kehamilannya. Anang berkabar, pacarnya itu memang sedang hamil sungguhan. Anang memaksa Ike mengguna test packnya barusan.


"Dua puluh mbak... Belum lama dia datang ke sini tuh.. Dia ikutan rekrut sekolahnya mbak.." Anang terkesan sedang gusar.


"Lah gitu... Malah kau caplok! Tega ya Nang! Pasti ortunya shocking tuh, di kampung,Nang!" Ku tambah saja rasa gusarnya. Sedikit panah untuk buaya, macam Anang!


"Nggak tahanlah aku mbak..! Sekarang pening kepalaku nih, mbak!" Anang menarik-narik rambutnya. Sepertinya sedang frustasi sangat-sangat.


"Dah..dah.., stop Nang! Sini, aku saja yang bawa!" Zayn menepuk kemudi mobil sekali cukup keras. Anang pun mengikuti. Mereka telah bertukar posisi tanpa ada yang keluar dari pintu. Menggelikan!


"Lain kali mikir dulu sebelum bikin. Iket yang kenceng!" Maak..! Duuh , bocah..., mulut gaduh tak sekolah! Zayn meluncur laju dengan kemudi di tangannya.


"Lain kali tambah kenceng aja bikin, boss! Aku dan Ike akan nikah!" Ish..,dah..Kalo ini mah, Anang yang kebanyakan sekolah! Sekolah mesum maksudku! Eh..nikah..?!


"Kalian mau nikah di mana, Nang? Kapan?!" Wah, bagiku ini pernikahan dini. Mengingat umur mereka sama-sama di bawahku. Hu..hu..hu... Ngerasa kesindir aku tuh.!


"Secepatnya dong mbak! Tapi ngurus thethek bengeknya itu yang ribet!" Anang agak melongok ke belakang melihatku.


"Dana siap nggak, Nang?!" Bagiku ini utama juga di pernikahan. Pengalaman saat mbak Salsa menikah!


"Dana pinjaman lancar...Dari si boss, mbak!" Anang pinjam duit siapa? Garrick...atau Zayn?


"Boss kecil ganteng kita ini yang ngalirin dananya, mbak!" Oh, Bocah usil itu memang ada baik-baiknya!


Zayn...Bocah itu nampak santai saja ku lihat, kerja pun kayaknya enggak. Uang untuknya siapa yang suply... Secara dia sekolah dokter, besar biaya jelas bukan kaleng-kaleng. Tapi mungkin uang bukan masalah, mengingat mereka kaya raya.

__ADS_1


Apa abang tiri garangnya? Tapi jika seluruh kehidupan Zayn ditanggung Garrick, bocah itu tak segan sangat pun sama tuan garang. Bahkan cukup berani menghadapi sikap abang garangnya. Itu nampak jelas ku kesan saat di latar Panbil Mall barusan. Nantilah ku tanyakan! Bocah itu kata, aku boleh tanya detail apa pun. Dia sesumbar itu saat merayuku naik panggung, iya kan..kan..kan..?


__ADS_2