Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
57. Lamaran Anthony Lung


__ADS_3

Ku sendok nasi dan tumis saus brokoli dengan jamur kancing, bertabur abalone di piringku perlahan. Meski rasanya terlalu manis, tapi tetap terus ku jejal di mulut. Selain lapar, tapi suka dengan pilihan menu abalone yang Lung pilihkan untukku. Ingat ibuku, selalu bising saat mendapat order khusus menu abalone dari pelanggan. Jika di pasar besar Malang habis barang, akulah yang orderkan abalone untuk ibu melalui aplikasi.


Kuperhatikan diam-diam dua lelaki tampan yang berbincang garing di samping dan depanku. Garrick, dengan wajah garang gantengnya nampak lelah namun masih saja mengobrol dengan Anthony Lung. Dan Lung, lelaki oriental bermuka maskulin itu juga tak kalah lelah dengan rambut sedikit panjang yang terlewat dari waktu pemangkasan.


"Jadi, kapan kau kembali ke kapal, Lung?" Garrick bertanya di menit akhir obrolannya yang panjang.


"Aku tak turun ke darat lama-lama, Rick. Kali ini aku menaiki kapal milik orang Rusia. Waktuku tak banyak. Sebentar lagi aku naik. Jadi, beri waktuku berbincang dengannya." Lung kembali memandangku, makanan di piringnya yang sama denganku, telah bersih dihabiskan.


"Bicara saja, Lung. Aku tak pernah membatasi waktumu dengannya." Garrick sambil menyendok irisan tuna dari piring. Makanan di piring miliknya seperti tak berkurang dari tadi.

__ADS_1


"El, aku sudah minta maaf dengan silapku saat itu. Apa kau masih marah padaku?" Lung telah mengelap tangannya dengan tisu basah antiseptik di meja. Kini fokus menatap mataku.


"Marahku sudah tidak, bang Lung. Tapi aku kecewa denganmu, kau meremehkanku. Ibarat tulisan, namamu bertinta merah bagiku." Wajah Anthony Lung kembali memerah. Dia membenarkan duduknya.


"Aku sama sekali tidak meremehkanmu, El. Aku hanya tak sadar menciummu. Aku juga tak berniat bermain denganmu. Tapi aku ingin serius denganmu, El. Aku ingin jadi lelaki normal. Tidak hanya ada di lautan. Aku ingin istirahat, dan menetap di daratan. Apa kau mau menemaniku, El? Aku akan menikahimu. Aku mencintaimu, El.. ."


Hahh..Haaah.. Ku dapat tembakan cinta sekaligus lamaran lagi untuk ke sekian banyak kalinya. Yang tetap juga ku dengar dengan rasa teruja, siapa yang tak rasa haru biru saat ditembak dan dilamar... Meski tak suka, rasa bangga itu pasti ada. Tapi tergantung juga siapa pelamar dan di mana melamar.. Jangan samakan dengan kakek tua renta yang melamarnya di kuburan...Hanya sawan sebulanlah yang akan dirasakan!


Ku pandang Anthony Lung, wajah itu semakin memerah terlihat. Seperti begitu tegang menunggu jawabku. Garrick... saat ku lirik, si garang tengah meneguk segelas air putih miliknya hingga habis tanpa sisa. Apa Garrick juga menunggu ingin tahu bunyi jawabku untuk lamaran karibnya barusan?

__ADS_1


"Maaf, bang Lung. Aku tak bisa menikah denganmu. Keyakinan kita berbeda. Aku tak mungkin mengikutimu." Jurus klasik yang kebetulan hoki menyapaku, jadi senjata alami cukup kuat kali ini.


Anthony Lung mengeraskan rahang, wajah tampan maskulin itu masih saja memerah. Matanya terus menatapku, mungkin otak di kepalanya tengah ada rapat direksi saat ini.


Tentu ku lihat juga tuan garangku, Garrick telah menatapku sambil menyandarkan punggung di kursi, tak bisa kuraba arti ekspresi di matanya.


"El.. Itu bukan masalah. Aku tak memaksamu mengikuti keyakinanku. Kau bisa tetap dengan keyakinanmu. Kita bisa hidup berdampingan, El.." Sudah ku duga, Lung pun tak akan berpindah keyakinan demiku. Jika aku menikah dengan Lung, ayahku akan digantung di alamnya! Harta tidak membutakanku, ayah. Ayah..more more more love U than Lung!


"Tidak, bang Lung. Aku menikah bukan untuk diriku saja. Orang tuaku tidak mungkin setuju. Aku tida bisa, bang Lung." Suaraku memang pelan, tapi tetap tegas ku katakan. Lung kembali nampak berfikir. Mungkin para direksi di otaknya sedang bersitegang sekarang.

__ADS_1


"Oke, El. Aku yang akan mengikuti keyakinanmu!" Duh, Lung. Nekat sangat janjimu. Apa untungnya menikahiku dengan pengorbanan besarmu. Kau akan dimusuhi keluargamu. Bisa jadi kau akan mengkhianatiku semaumu. Cinta di hatimu bisa hilang sewaktu-waktu.


"Tidak, bang Lung. Selain keyakinan, aku juga belum ingin menikah. Tak ada niat hatiku untuk menikah sekarang. Bahkan, aku berlari ke Batam pun karena menghindari pernikahan. Jika tak percaya.., bang Lung bisa tanyakan pada juraganku, tuan Garrick sekarang." Ku sebut nama tuanku. Semoga dapat sokongan darinya, perihal Juan, dia pun telah jelas bagaimana adanya.


__ADS_2