Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
69. Pelayan Camer


__ADS_3

Wajah bersenyum imitasi itu pudar meluntur saat menangkapku turut turun dari limosin panjang punya Garrick. Ayahnya, sang walikota di Batam, sedang bersapa dengan Zayn dan Garrick dengan saling jabat tangan erat-erat.


Slogan yang memajang gambarnya beserta tulisan 'Hindari jabat tangan' yang terpampang di tiap ruas jalan raya Batam, demo lawan virus..,hanya pajangan yang menyemak. Slogan setia (setiap tikungan ada) di baliho itu hanya mengikis dana dan isapan jempol belaka.


"El, tak usah tukar, kau cantik begitu." Izinku ke kamar guna tukar baju, dapat larangan dari Ratih. Ketua kacung memuji singkat dengan mata menatapku.


"Iya, kak." Ku akur saja dengannya.


Ku tunggu uni Wel yang sibuk menyiapkan kue mue dan minuman. Ku bersihkan tatakan dan baki pembawa jamuan. Uni Wel dan Ratih nampak sedikit ketegangan, dahi mereka penuh kerut dadakan.


Apa menyambut pak walikota sekaligus camer tuan besar garang, terasa sebuah beban? Ku pahami itu, jika aku tak ada masalah dengan anaknya, mungkin juga ku rasa tekanan, risau akan ada kesalahan. Secara beliau orang utama di kota Batam... Tapi kini karena Anggun, dengan ayahnya pun, aku tak segan. Seolah sang ayah adalah pemberi sifat keturunan.

__ADS_1


Aku mengikuti Ratih dan uni Wel yang membantu mengusung sajian hingga di pintu perbatasan. Mereka akan membantu sebatas situ.


"Jangan buat kesilapan, Elsi !" Ratih berseru pelan saat ku lewatinya dengan tangan memegang nampan. Ku balas anggukan, hanya berusaha...yang di ataslah penentunya!


Orang-orang yang duduk itu ku pandang sekilas, hanya menanda posisi agar aku tak salah letak minuman. Kuturunkan perlahan semua minuman di gelas dengan menunduk pandangan.


" Jadi ini bagaimana, Rick? Apa kau masih serius dengan perjodohanmu dengan Anggun?" Itu pasti suara ayah Anggun. Suara berwibawa dan hangat. Jauh beda dengan cara bicara Anggun padaku.


" Almarhum ayahku berpesan, bisnis ini akan rumit jika aku tidak menerima perjodohan. Jadi, sementara tak ada alasan menolaknya. Akan ku lanjutkan perjodohan dari kalian, om."


"Sementara..Apa maksudmu, Rick?" Nada pak walikota begitu sabar, terdengar seperti bicara pada anak lelaki yang disayang.

__ADS_1


"Jujur, om. Selama ini, hanya Anggunlah wanita yang telah cukup baik ku kenal. Kami telah berteman dari kecil. Mungkin memang Anggunlah wanita yang tepat untukku. Aku tidak pernah berusaha dekat dengan wanita. Aku tak pernah sempat, pekerjaanku tidak pernah ada habisnya. Om paham itu!" Suara Garrick terdengar lelah, ada nada kesal dalam ucapannya.


"Lalu bagaimana, Rick?" Pak David, sang walikota, nama ayah Anggun yang berat ku sebut namanya, ternyata cukup berwibawa dan sabar.


"Jujur saja ku terangkan, om. Aku dan Anggun belum saling mencinta. Tapi ku jamin, setelah kami menikah, tidak akan ada kata selingkuh dalam pernikahan. Tapi jika sebelum menikah, aku atau anggun menemukan pasangan yang lain, kuharap om mengerti." Ku dengar dengan telinga meradar ucapan tuan garang. Sudah kuduga, Garrick tak cinta pada Anggun. Tapi..,masak iya Anggun tak suka? Ku lihat penuh bintang di mata Anggun tiap menatap tuan garang.


"Kak..,Itu tak benar..! Pa, aku sudah menyukai kak Garrick. Aku siap menikah dengannya!" Protes berapi ini dari Anggun.. Ah, wanita dua muka.. Dengan Garrick memang suka.., tapi dengan Juan juga cinta...Dia tak ingin melepas dua-duanya!


"Benarkah, Anggun? Ku rasa, kau masih menyimpan hatimu untuk kekasih swissmu itu!" Oh..jadi Garrick tau tentang itu? Apa Garrick tau, bahwa Juanlah kekasih Anggun?


"Aku tak ada hubungan lagi, kak! Kami telah berpisah di Swiss." Sambil terus meradar, ku letak kue mue di meja, nampan terakhir yang harus ku bawa. Kembali ku dengar ucapan Anggun yang meyakinkan. Jadi, Garrick tak tau tentang Anggun dan Juan!

__ADS_1


Nampan kue dan minuman telah habis ku usung. Galau...,antara berlalu pergi atau stay siaga untuk tuan dan para tamunya.


"Berdirilah di sini, El !" Saat berlalu pergi ku pilih, Garrick menyeruku . Menunjuk ruang kosong di samping dengan dagunya. Kuturuti kemauannya, kini ku berdiri di samping belakangnya.


__ADS_2