Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
28. Garju Park


__ADS_3

Sejam lamanya tenggelam dalam obrolan kelam bersama Cintia. Bagaimana tidak.. Kami berdua sangat semangat berbicara tentang orang. Dengan Lung, Garrick dan Dora lah orangnya, sebagai tokoh utama dalam cerita yang kami cipta. Mengghibah? Ya, unsur ghibah itu selalu ada... Dah.. Sedikit sajalah..


Cintia kata, Garrick dan Lung telah ibarat dua saudagar kaya yang tersambung dalam ikatan hubungan dagang. Keduanya bagai dua saudara yang saling ketergantungan. Garrick dengan hotel dan kapal pesiar yang pasti membutuhkan sejuta barang. Sedang Anthony Lung dengan luas jaringan dagangnya adalah sebagai pemasok utama barangnya.


Jadi, selain banyak gudang penimbun barang di daratan, Anthony Lung pun juga ada beberapa kapal barang super besar miliknya. Mengingat sangat banyak kapal lain yang juga sedang butuh pasokan barang darinya. Tentu ku bayangkan, seberapa kaya raya Anthony Lung!


****


Kapal pesiar besar ini bergeladak delapan deck. Dengan total ratusan kabin, serta mempunyai daya muat hingga ribuan penumpang di dalamnya. Berada dalam lambung kapal sangat tenang, sejenak lupa bahwa aku sedang di mana...


Beberapa kali berpapasan dengan pelancong yang tersenyum, atau juga lambai tangan. Penumpang kapal ternyata dari banyak negara yang berlainan. Kebanyakan cukup sopan dan tak segan melempar sapa. Ada juga diantaranya yang menawariku berteman, dan berjalan saja bersama. Tapi tentu saja ku abaikan. Aku sedang bekerja, dan bukan mencari kawan tanpa tujuan.


Sepertinya aku tersesat! Telah jauh jalan di geladak antara, melewati banyak kabin serta berbagai ruang hiburan malam. Bahkan kini aku terdampar dalam aula yang sungguh luas. Setelah gagal menaiki sebuah lift yang tak mampu membawaku ke dek teratas. Lift ini hanya berhenti maksimal di dek tujuh dengan hall luas di balik pintunya.


Aula dengan banyak fasilitas ini cocok untuk kumpulan bermacam komunitas. Ada arena olahraga seperti basket, tenis meja, voli, jogging track, panjat dinding dan lain-lain. Di tempat berlawanan, nampak ada kolam pemancingan, sepaket dengan mini kafe dilengkapi alat pemanggangan.


Ada juga kolam renang dewasa maupun khusus bagi anak. Berbagai arena bermain anak pun ada. Jungkat-jungkit, besi panjat, ayunan, perosotan, dan lain-lain. Tak henti ku layang pandangan, menyisir seluruh yang ada dalam aula dengan kaki sambil jalan. Ini bukan aula, tapi taman hiburan!


Ku jumpa pintu kaca yang terbelah, persis model pintu di mini mall Garju resto pada dek tiga yang ku tinggal diam-diam. Aku tahu, jika keluar dan menyusur lorong, pasti kan jumpa lift yang biasa ku naiki barsama tuan garangku. Bicara soal tuan garang, apa dia menyadari tindakanku... Apa dia mencariku.. Aha..ha.ha..mana mungkin, ku rasa tidak akan!

__ADS_1


Meski bimbang, tapi ini kesempatan. Skip saja pilihan keluar pintu. Ku lewati kaca terbelah yang membuka otomatis saat aku di dekatnya. Pintu pun kembali menyatu saat diriku berlalu. Ku abaikan wajah garang tuanku, yang mungkin sedang menungguku.


Kembali berjalan berkeliling di taman hiburan. Jam raksasa di samping logo Garju Park yang ku baca di atas pintu kaca terbelah, telah menunjuk angka sebelas malam. Tapi pengunjung tak menyepi, justru nampak kian merayap.


Sungguh seindah taman dalam bayangan! Ku henti kakiku di sebuah petak kebun. Tanaman hias menghampar lebar di hadapan. Hanya sejenis saja yang ada, Aglaonema! Tanamaan jenis sri rejeki kesukaan ibuku, yang kemudian latah jadi favoritku.


Semua tertanam sehat dalam pot porselen yang cantik dan mengkilap. Berlomba dengan tanaman yang telah menancap kuat di dalam tanah lambungnya. Tanaman hias Aglaonema menawan dengan corak daun berlainan warna-warni. Daun lebar melukis motif, sungguh indah mempesona. Ku hampiri salah satunya, ku kenali itu Khanza! Aglaonema Khanza yang lama ku damba. Tak seberapa mahal, tapi tak kunjung ku miliki. Hu...hu..hu..


Ku tahu etika beraglaonema, meski hati ingin memegang, tapi tak akan ku lakukan. Karena aku menghargainya, sebagaimana sang pemulia pak Greg Hambali memperlakukan silangannya. Bisa jadi setelah ku lepas dan pergi, si induk Khanza yang rimbun dan merumpun bersama anak-anaknya itu akan sakit serta lonyot esok hari. Sangat sayang jika begitu, jadi ku tahan untuk tidak memegangnya !


Ku tinggal si Khanza, ku dapati tangga kecil menempel dinding menuju ke atas. Ku naiki perlahan menikmatinya di tiap titian. Penasaranku terjawab, tangga berakhir pada hamparan geladak yang lapang.


Suasana syahdu seketika ku rasakan. Berjalan keliling menikmati hampar lautan, di malam kelam dalam samar cahaya bulan. Angin laut berhembus semilir menerpa rambutku menjadi berkibar. Semakin hanyut dalam indah lautan berpayung langit malam yang berhias jutaan bintang.


Dek di atas atap Garju Park yang melingkar ini di batasi pagar berkeliling yang rapat. Dek di luar pagar lebih tinggi sepinggang, dan aku sadar, itu adalah geladak kapal teratas, tempat kabin tuan garangku berada. Tapi saat berkeliling, tak ku dapati tangga penghubung ataupun pintu pagar yang bisa ku lewati. Jadi bagaimanapun, aku harus turun dan keluar dari Garju Park, jika ingin kembali ke geladak kabin tuan garangku.


"Hei gadis! Sendirian kah..?" Aku yang sedang bertumpu tangan di pagar memandang lautan terperanjat. Di samping kanan dan kiriku telah berdiri beberapa pemuda dengan botol minuman di tangan.


"Join kita saja, yuk manis!" Seorang tinggi kurus lebih mendekat padaku.

__ADS_1


"Tidak kak..! Terimakasih! Abangku sedang mengambil minum di bawah!" Meski berdebar, ku jawab lantang menyamarkan rasa gentar.


"Betulkah katamu, cantik..?!" Kali ini seorang lebih pendek menyahut di sampingku. Sungguh, di antara makhluk seram, yang macam-macam beginilah yang meresahkan.


"Abang kau, mana lah.. adik..? Jangan coba menipu kami..!" Yang kurus tinggi dan lebih dekat padaku kembali bertanya dengan suara paraunya. Mungkin, alkohol telah banyak melewati kerongkongannya.


"Ayolah..mari turun ! Kita antar kau, ke kabinmu! Sekalian kita bersembang!" Lelaki agak pendek tadi kembali menekanku. Ku sadari, mereka mungkin akan mengikutiku dan bisa jadi membahayakan. Sedang aku, tak terlalu tahu dengan medan peta di depanku, bisa jadi mereka akan menyesatkanku.


"Sebentar lagi naik, dia kak!! Sedikit antri di bawah !!!" Akhirnya ku sahut lagi lebih lantang dan keras. Berharap seseorang peduli, ataupun adanya security yang harusnya tersedia di semua geladak kapal manapun.


"Abang kau, tak ada nyah itu! Dari tadi ku tengok, terus asik berasing sendiri jalan pun, kau?!" Si tinggi kurus itu kembali menggertakku.


"Berani tipu rupanya! Marilah ku antar balik ke kabinmu saja lah, kau!" Kali ini lelaki di sebelah kiri, yang sedari tadi diam dengan botol alkohol di tangan, menghardikku.


"Tidak, kak! Jika abangku datang, dan aku tak ada, abang akan marah!!" Kembali ku gertak sambal mereka.


"Mana lah abangmu itu! Tak kau tengok di sini nyah?! Hanya lelaki yang ada! Hanya sejoli yang berani naik!" Lelaki tinggi kurus di dekatku kembali berseru padaku. Kembali lebih mepet padaku.


Kali ini aku panik, cemas dan was-was, membuatku sedikit sulit bernafas. Bayangan Dora seketika melintas. Tentu tertawa senang pada nasibku yang malang. Ah, Tidak! Tak rela Dora bahagia pada musibah yang ku dapat. Aku bersemangat, akan selalu ada peluang! Tak ada yang tak mungkin di dunia!

__ADS_1


"


__ADS_2