Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
87. Sugar Baby


__ADS_3

"Ehem... Elsi..,kamu melamun?" Deheman sekaligus teguran pak David kutanggapi dengan senyum. Aku memang sempat hanyut di renungan.


"Tidak, pak.." Pak David juga tersenyum sambil mengangguk kecil menatapku. Seolah memakhlumi lamunanku.


"Bagus, Elsi. Anak gadis pantang melamun.." Bibirku tersenyum, tapi hatiku masam. Ayah Anggun ini, seperti bijak berkata-kata padaku.


Tapi..Kenapa begitu lemah pada anak gadisnya. Kenapa tak bersikap sebagai ayah sejati bagi putrinya. Salah pun terus didekap, lupa siapalah kelak penanggung anak perempuan sebelum bersuami di hadapanNya.


"Elsi, ayolah makan, jangan segan.. Menurutmu, apa aku sudah terlalu tua untuk makan malam denganmu..?" Pak David bertanya hal yang terdengar kurang nyaman. Harusnya bukan masalah bagi kami seperti ini.


"Tidak, pak. Bapak nampak cerah dan tidak tua." Pak David tersenyum dan meneguk teh pekat dari gelasnya, mungkin itu teh tanpa gula. Wajah pak walkot memang nampak fresh dan belum berkerut merut. Penilanku ini bukan berlebihan.


Namun, perlakuan manjanya pada Anggun, mengingatkanku pada mendiang ayahku. Ayahku sangat sayang denganku. Tapi tidak memanjakanku sebegitu. Ayah akan marah dan tegas jika kubuat kesalahan, baik kusengaja atau tidak. Dan berakhir dengan janji manisku untuk tidak mengulangi. Oh, rindunya aku padamu, ayah!


"Elsi.." Sendok di tangan kudiamkan sejenak. Panggilan pak David pada namaku terasa lain kudengar.


"Iya, pak." Kupandang wajah Chow Yun Fat kawe di hadapanku.

__ADS_1


"Terimakasih pujianmu. Aku merasa beruntung bisa dinner bersamamu malam ini. Kamu gadis yang sangat menarik, Elsi." Pak David tersenyum. Senyumnya masih hangat, tapi keteduhan senyumnya hanya samar tersisa. Terganti dengan senyum yang serupa senyuman Zayn malam itu.


"Terimakasih, pak. Anda memujiku berlebihan." Cepat ku sendok lagi makanan di piring. Aku ingin segera berundur diri darinya.


"Tidak. Itu memang fakta dirimu, Elsi."


"El..,apa kamu punya passport?" El...dia mulai memanggilku El saja, pak walkot terkesan mencoba akrab denganku. Apa cuma feelingku saja..?


"Belum, pak. Tapi saya ingin punya juga." Kata passport ini mengingatkanku pada si garang. Dia tak mengajakku ke Singapura sebab aku tak punya passport. Padahal Zayn ingin aku juga datang waktu itu. Tapi sepertinya dia tak minat menyuruhku untuk mengurus passportku...


"Buat saja, El. Rizal akan kusuruh membantumu." Pak David telah selesai dengan urusan di piringnya. Dan sebentar lagi isi piringku pun habis juga. Pak David kembali meneguk teh pekat di gelas beningnya.


"Kau bisa ikut bersamaku dengan aman. Aku terlalu sering ke luar negeri sendirian, El. Rasanya bosan seperti itu. Aku senang jika kau berminat pergi bersamaku. Tentu dengan biayaku sendiri, bukan dari pemerintahan. Kau bisa berbelanja sesukamu denganku." Pak David terus menerus menatapku. Kuacuhkan, meski rasanya sangat risih.


"Apa bapak tidak takut jadi bahan gosip?" Aku tentu saja ingin tahu hal ini.


"Tidak akan ada yang melihat. Rizal akan mengaturnya, El.." Sudah kuduga, memang beginilah jawabannya. Istilah kasarnya..., dia sedang butuh sugar baby..! Mungkin bagi yang minat, Chow Yun Fat kawe tampan ini adalah sasaran empuk menggiurkan!

__ADS_1


"Tawaranku ini tidak ada batas waktunya. Kapan pun, jika ingin, katakan.. Ku harap, kau berminat, El.. " Pak David nampak mengeluarkan ponsel dari saku kemeja di balik sweater yang dia kenakan.


"Apa data tentangmu yang masuk ini masih sesuai?" Tangan kekar itu mengulur ponsel padaku. Kulihat di layar, database tentangku, semua tertera jelas dan akurat di sana. Bahkan segala ukuran diriku. Lengkap dan detail.. Mungkin hanya nama pacarku saja yang belum ditulisnya, karena tak ada... Data itu bukan lagi tentang kependudukan, tapi data memata-matai penduduk.


"Data tentang saya ini kelewat lengkap, pak. Siapa yang membuat?" Kuserahkan lagi ponsel di tanganku ke meja dekatnya. Seolah aku tidak keberatan dengan data itu.


"Rizal yang merangkum." Chow Yun Fat kawe itu telah menyimpan kembali ponselnya.


"Bapak yang meminta..?" Kupastikan bahwa ini adalah sisi lain pak walkot.


"Iya, El. Maaf, aku sangat penasaran denganmu. Aku tak menyangka bisa mengajakmu ke sini. Kupikir kau masih bekerja pada calon menantuku." Pak David memajukan punggungnya, tetiba tangan besar itu telah menumpuk di tangan kiri lentikku, dan laju meremas jemariku. Kuhentak paksa tanganku. Ini lebih parah dari remasan Anthony Lung!


"Sepertinya malam hampir larut, pak. Saya harus pulang. Terimakasih penjelasan dan jamuannya." Ku berkata pelan padanya. Jujur, aku takut dia tersinggung atau marah, dan justru bertindak hal yang merugikanku. Bisa jadi aku sedang bersama seekor beruang jantan yang ganas...


"Permisi, pak." Kuangguk kecil kepalaku pada pak David yang termangu memandangku. Aku telah berdiri dan gegas balik badan ke pintu.


"Tunggu, El.. Aku yang akan mengantarmu. Rizal sudah pulang. Sudah habis jam kerjanya!"

__ADS_1


Tangan yang hampir menarik pintu kuhentikan, kutoleh kepalaku. Pak David telah berdiri dari kursinya. Kupandang dan kutimbang-timbang wajahnya. Baiklah, ku rasa diantar olehnya lebih bagus, daripada aku kebingungan cara pulang. Uda Fahri...malam-malam begini, aku segan dan enggan. Berharap diriku selalu diselimuti hawa keberuntungan!


__ADS_2