Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
122. Kondangan


__ADS_3

Setengah dari luas lantai tiga di hotel Elgar's adalah aula megah yang khusus disiapkan oleh Garrick untuk acara resepsi nikahanku dengannya. Yang ke depannya tentu akan dipromosikan sebagai tawaran sarana untuk umum, barangkali berminat menyewa dan menggunakan.


Dan kini, kamar-kamar VIP di luar aula adalah tempat menginap para kerabatnya yang datang jauh dari area Jawa Tengah dan Riau. Propinsi di mana kedua orang tua Garrick berasal.


Secara tidak langsung, hotel ini telah beroperasi dengan mengawali pelayanan di acara resepsi pernikahan pemiliknya. Meski Garrickpun juga telah menyewa kesatuan paket wedor untuk mengurusi acara, demi kelancaran resepsi pernikahan kami ini.


🐝🌼


Meski kadang berdiri dan kadang pun duduk, rasanya sangat pegal pinggang ini. Ingin segera berakhir dan merebah saja rasanya. Tapi jalan acara ini masih berjalan lama lagii..


Duhai tamu undangan.. Datanglah segera dengan serempak... Dan segerakan habis antrian panjangmu... Tak kuasa kutunggu lagi sampainya dirimu... Ayolah, bergegas datanglah bersamaan... Janganlah hanya datang seuprit-uprit seperti itu.. Menumpah-ruahlah kalian semua segera... Agar cepat berakahir derita nyeri di pinggul dan pinggangku ini... Oh, oh, oh..Tamu kondangan.... Tetap saja datangmu kuharapkan... Nampakmu sangat membuatku bersemangat!


"El....Apa kau lapar?" Setelah habis bersalam sapa dengan tamu yang memanjang dan aku telah duduk, Garrick bertanya padaku. Wajah suamiku sangat cerah. Keletihan semalam dan kecewa yang mungkin dirasa, seolah lenyap tanpa sisa.


"Belum..Hanya sedikit haus.." Garrick mengangguk mengerti. Melambai pada petugas hotel yang duduk siaga untuk memperhatikan keperluanku dan Garrick.


"Apa semalam membuatmu lelah?" Garrick berbisik dan tersenyum penuh makna pada tanyanya.


"Tapi..Aku masih punya hutang denganmu.. Maaf..Apa kamu kecewa padaku?" Kubuang pandangku, terasa malu saat kulihat Garrick mulai mengembangkan senyumnya padaku...


"Aku paham, El.. Akulah yang terlalu takut akan membuatmu sakit. Tapi jangan khawatir, akan kita lunasi bersama. Aku pun berhutang juga denganmu." Wajah rupawan itu nampak pias setelah menyahut ucapanku.


Kurasa aku pun begitu, bahkan wajahku pasti telah memerah sekarang. Hanya yang pasti, aku dan Garrick mengulum senyum bersama kemudian. Mungkin juga, dia tengah teringat pada kegagalan menembakkan jendralnya di mahkotaku semalam. Duh, maak!


🐝


Tamu kondangan mungkin telah habis, tinggal kerabat dekat saja yang sisa. Sebenarnya, yang meramaikan acara kondangan ini adalah dari pihak kerabatku. Bertumpah ruah datang dari semua penjuru.


Makhlum, ayahku yang dari Solo, Jawa Tengah adalah sulung dari tujuh bersaudara dan tinggal menyebar. Sedang ibuku juga dari lima bersaudara di Malang yang juga tinggal bertebaran antar kota. Tapi yang paling dekat dan akrab adalah dari keluarga pakdheku di Blitar.


Untuk kerabat dari pihaknya Garrick, memang juga cukup banyak. Tapi..Kerabat Garrick hampir bersamaan datang menumpah ke acara resepsi kondangan. Sebagian datang bersamaan kemarin, sebelum akad nikah dan menginap di hotel. Sedang sebagian datang pagi ini dan tidak menginap, tapi langsung pulang. Sebab kesibukan kerjalah yang utama.


Sedang rombongan teman-temanku pun juga telah habis berlalu. Kedatangan mereka berakhir dengan ajakan untuk naik gunung bersama. Tentu saja cerita-cerita mereka sangatlah menggoda diriku.


🐝


Alhamdulillah.... Ah, lega sangat rasanya. Acara resepsi pernikahanku telah usai dan tak ada satu pun tamu kondangan yang nampak datang lagi. Semua telah datang. Dan mungkin ada beberapa yang berhalangan datang dengan disertai pesan salam.


Dua kerabat dekat kini tengah berkumpul santai sehabis adzan ashar. Mungkin sebentar lagi juga datang berkumandang adzan waktu maghrib. Kami tengah berkumpul di rumah rooftoop.


Keluarga dekat yang sisa itu hanyalah keluarga pakdhe, keluarga mas Armand dan juga ibuku. Mbak Salsa dan suaminya, mas Arga serta Kimbo, ponakanku, telah kembali ke Jakarta barusan. Urusan kerja jugalah yang menyeret keluarga kakakku untuk cepat bertolak ke ibu kota.


Kerabat yang belum datang dan tengah ditunggu Garrick kali ini adalah Daehan, Zayn dan Ibu tiri, alias juga ibu mertua tiriku. Ah, tak bisa kubayangkan bagaimana nanti bersikap pada ibu baruku itu.


🐝


"Si...Ibu kok ora nyaman se, Shi... Pengen cepet mbalik. Kaya banget suamimu, iki.. Keluargane dari Batam kok lama datangnya to, Si..?" Ibuku ternyata justru merasa tidak nyaman berlamaan di hotel. Dari tadi ingin pulang, tapi kutahan. Menunggu datangnya mertuaku dari Batam. Ibuku akhirnya akur dan menahan pakdhe bersamanya.


"Lha gimana lagi, buk... Jodohku seperti ini. Apa ibu lebih suka aku jadi perawan tua?" Ibuku menjeling melebarkan mata padaku. Kuhindari uluran jarinya yang mungkin akan menjewerku.

__ADS_1


"Eh..Bocah iki... Ora gitu... Ya, semoga kamu itu bahagia selamanya, nduuk. Disayang terus sama suamimu. Kamu iku ya harus hati-hati.. Manut sama suamimu.. Ojo seneng ngeluyuuur.." Sambil membawa teh yang telah kubuat, ibuku cepat pergi meninggalkanku. Apa ibuku lalu menangis?


"Elsi..." Kutoleh sumber suara. Oh, ada istri mas Armand, mbak Tuti tengah menggendong balitanya dan berdiri di belakangku. Mas Armand sedang ke bandara Juanda,Surabaya, menjemput ibu tiri.


"Iya, mbak..." Kudekati istri mas Armand. Kutowel lengan gembul milik balita lelaki yang gendut itu.


"Ada pesan untukmu. Itu.. mas Nino. Dia semalam nelpon mas Armand. Katanya minta maaf sama kamu, belum bisa datang sekarang. Lagi ada dinas terpadu ke pengungsian di Semeru. Mungkin minggu depan baru kembali..." Mbak Tuti berkata sambil menimang-nimang balita di gendongannya.


"Iya mbak. Terimakasih lho ya mbak.. Udah membantuku mengundang dan menjelaskan pada mas Nino.." Mbak Tuti tersenyum.


"Iya, Elsi... Sama-sama.."


"Mbak...!! Mbaak...!! Ada mas guanteng datang..!! Duh, mbaaak...,nggak kuat gantengnyaaa.." Eh, bocaaah... Datang-datang udah heboh. Heellen datang dengan menepuk-nepuk dadanya.


"Siapa, Hill...?" Sambil kubersihkan meja dapur yang lembab sehabis kubikin teh tadi.


"Mbak-mbak berdua jangan bertanya.. Mana kukenal....Yang kutahu hanya gantengnya doang...! Sana, pada lihatlah..!" Eh, bocah.. Kutinggal meja dapur yang selesai kubersihkan. Aku dan mbak Tuti menuju ruang tamu di depan.


Heellen masih sibuk dengan tepukannya di dada. Bocah cantik dengan mata rusa yang bersinar indah itu masih kura-kura lebay dan terkejut. Ah, itu pasti alasan dia saja. Heellen pasti mencari kesempatan. Menghabiskan lagi sisa es krim buatanku yang kubawa dari rumah Kacuk, pagi-pagi buta tadi.


Ibunya, budhe Sri, tidak suka jika putri cantiknya itu menggendut karena keseringan makan es krim. Makhlum, usia Heellen masih rawan dan di dalam masa puber. Jadi tugas sang ibulah untuk mengawal ketat, makanan apa yang digemari putrinya. Agar tidak menyesal kemudian! Meski sebenarnya, es krim buatanku itu dari bahan kualitas pilihan dan tentu saja sangat aman.


🐝


Degh...! Sedikit terkejut. Zayn , Daehan dan ibu tiri telah duduk manis bersama Garrick dan kerabat di ruang tamu yang sekarang nampak sesak. Mereka menyambut aku dan mbak Tuti dengan tatapan berbeda masing-masing yang kemudian kami pun saling bersalaman. Oh, mungkin Zaynlah yang dimaksud Heellen tadi.


"Terimakasih, bu.. Maaf, waktu itu saya langsung pulang. Tidak sempat berpamitan." Ibu tiri mengangguk.


"Tidak mangapa, El. Kami makhlum." Tangan halus ibu tiri menepuk-nepuk bahuku, lalu menyentuh pipiku. Ibu Tiri menarikku untuk duduk.


Kusapukan pandanganku. Daehan sedang merangkul hangat abangnya, Garrick. Garrick pun juga merangkul Daehan. Oh, mengharukan.. Apakah mereka saling rindu? Sorry, Daehan..Bukan maksudku merampas abangmu itu darimu..


"El..Selamat ya. Kuharap, Bang Garrick bisa membahagiakanmu selamanya. Jika suatu saat dia mengecewakanmu, datang saja padaku..!" Eh, maak..! Duh, Zayn..Dia berbicara sangat santai. Dan kini semua mata memandang heran ke arahnya. Zayn..,bocah itu tetap santai tak peduli pada tatapan semua orang padanya.


"Zayn...! Kalo bicara yang baik. Sudah, kau cucilah mukamu itu di belakang.Sana..Zayn..!" Ibu tiri nampak serba salah di depan para kerabat.


Tapi Zayn, si bocah sableng yang baik itu dengan gontai pergi juga ke belakang. Menyelematkan muka ibunya.


"El..!! Selamat ya... Kau telah berhasil menikah dengan bang Garrick. Abangku yang pintar ini..!" Eh..Kali ini seruan si bocil bungsu. Daehaaan....Emang aku yang nampak sangat mengejar abangmu..?! Bocil..!


"Daehaaaan.... Terimakasih yaaaa..Berkat doa dan dukunganmu, akhirnya abangmu Garrick.., telah berhasil menyusulku lalu menikahiku..." Eh,bocil...Daehan mencebik bibir padaku. Tak tahu, apa bocil itu kura-kura..,atau memang benar-benar sebal denganku. Yang jelas, Garrick tersenyum padaku sambil tangannya mengelus kepala Daehan berulangkali. Seperti sedang menenangkan bocil itu untuk tidak lagi menyerangku.


"Bang, kapan abang ke Batam?" Daehan beralih tanya pada suamiku. Semua mata kerabat kini beralih pada abang adik yang beda jauh usianya.


"Secepatnya, Daehan. Tapi sebelumnya aku akan pergi ke Semarang dulu." Garrick terus juga memandangku dengan tangan memeluk Daehan.


"Daehan, berapa hari kau di sini?" Daehan menjauhkan diri dari abangnya.


"Bang Zayn kata besok pagi pulang." Bocil itu memandang ibu tiri dan mendapat anggukan dari ibunya.

__ADS_1


Prangggg....!!!


Eits..! Apa itu.. Suara pecah kaca terdengar dari dapur. Ada apa..? Heellen..?! Ngapain bocil perempuan itu. Ha..ha.. Hari ini adalah hari bocil bagiku..


Kami berlomba berjalan saling cepat mencapai pintu dapur. Eh...Pemandangan apa ini?


Kami semua nampak dengan jelas. Heellen baru saja diangkat oleh Zayn dan didudukkan di meja dapur yang tinggi. Baju Zayn penuh noda coklat. Eh, kurasa itu noda coklat dari es krim buatanku. Apa yang mereka lakukan?


"Hill,..kenapa kamu itu?!"


"Zayn..! Apa yang kamu lakukan?!"


Budhe Sri dan ibu tiri Mutia, hampir berbarengan saat berseru kepada anak mereka masing-masing.


"Mas jelek ini ingin merebut es krim yang sedang kupegang, buk..!" Eh.. Seketika juga si Heellen menutup mulut dengan jari tangan. Mata rusa jernih itu semakin melebar kala menyadari kesalahan ucapannya.


"Helleeeen.! Sudah berapa kali kamu janji pada ibu...??!!" Budhe Sri melengking sambil melotot pada si Heellen.


"Lalu kamu, Zayn..! Kenapa gadis itu kamu angkat dan letak di sana..?" Kali ini ibu tirilah yang berseru, tapi cukup pelan.


"Lihat sajalah sendiri.. Tuh..! Nampak kan..?" Zayn sangat santai menunjuk. Menunjuk lantai dan menunjuk tumit Heellen.


Oh..Dilantai telah berserak pecahan kaca sangat banyak. Pasti itu mangkok kaca bertutup dari kemasan es krim buatanku. Dan... Kaki Heellen yang tanpa sandal telah berdarah di tumitnya.


"Tapi kenapa es krimnya mau kamu ambil, Zayn..?" Suara ibu tiri telah berubah agak lembut.


"Pas aku lewat, dia masih pegang mangkuknya saja. Saat aku kembali, es krim di mangkuk hampir habis. Dia kebanyakan makan es krim. Tak lama.., badan bocah ini akan jadi over size..." Zayn berkata santai dan acuh sambil mengibas sisa es krim di bajunya.


Bocah itu kembali berjalan ke belakang dan masuk ke kamar mandi yang ada di pojok luar dapur.


Heellen... Eh, bocah itu justru tengah memandangku tersenyum sambil menepuk-nepukkan tangan di dadanya... Duh, maak! Bocil....


🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝


🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


🐞🐞🐞 Readers yang baik.. Harap jangan kendor semangati otor ya... Tinggalkan kenangan manis di sini.. Cerita ini akan selesai ditamatkan dalam 3 bab lagi...


Kakak baik yang mojok di sana dan ingin novel ini segera end.. Sabar... Akan aneh jika cerita berantakan ini tiba-tiba cut ended begitu saja....Ingin kuakhiri dengan manis, meski cerita ini tetap saja sepi pembaca.. Tapi hanya kalianlah penyemangat yang kupunya..!πŸ™βœŒβ€


Cerita Zayn..mungkin suatu saat kulanjut.. Tapi tidak untuk sekarang2..Maafkan.. Masih ada 2 pondasi cerita yang terlanjur kubangun.. Akan kulanjut yang itu dulu jika ada waktuku.. Sebab, nampak sayang jika ada yang mangkrak2 begitu di albumku...


...Terimakasih Singgahmuuu..datangmu...dukunganmuuu.....


...πŸ™πŸ™πŸ™βœŒβœŒβœŒβ€β€β€...

__ADS_1


__ADS_2