
Sebuah mobil hitam besar melewatiku di teras lobi. Eh, bukankah yang duduk di kemudi tadi, uda Fahri? Dia melihatku, tapi melewatiku! Gass ku dial kontaknya.
Kata uda Fahri, dia tak nampak aku. Rupanya pria Padang itu tak lagi mengenaliku. Dress berkerudung serba panjang ini memang membuatku terlihat bukan sepertiku! Hu..hu...hu...
"Duh, Elsi. Sorry, tadi uda lihat kamu, tapi uda tak sangka itu kamu! Sangat lain uda lihat!" Uda Fahri terheran mengamatiku. Aku juga heran, Uda Fahri nampak rapi dengan kemeja koko, lengkap berpeci coklat gelap. Mobil yang dipakai uda Fahri pun bukan taksi biru biasanya.
"Ini, Elsi mau diantar uda ke mana?" Uda Fahri kembali mengamatiku.
"Ke Muka Kuning, Uda. Masjid Nurul Iman." Ku perjelas padanya.
"Untuk apa, Elsi pergi sana?" Uda Fahri memperlambat laju mobil. Wajahnya kembali menolehku.
__ADS_1
"Kondangan ke nikahan teman, uda." Dahi uda Fahri nampak berkerut.
"Apa pasangan dari Jawa itu, El?" Uda Fahri nampak sangat penasaran.
"Iya...Uda Fahri tahu?" Sekarang aku yang berkerut.
"Iya, Uda pun datang juga ke sana. Tadi uda pikir antar dulu kamu ke mana.. Ternyata tujuan kita sama, El." Uda Fahri nampak serius membelokkan mobil ke area parkir. Kami telah sampai di pelataran masjid.
Kedatanganku dan uda Fahri yang beruntun masuk masjid,menjadi pemandangan baru untuk yang telah duduk diam di dalam. Ku perhatikan mereka setelah duduk manis di muka. Aku duduk menyamping dekat pintu, bersama beberapa gadis yang juga berkerudung. Bisa jelas melihat siapa pun dari tempatku. Dan semua juga bisa jelas melihatku.
Ku lempar senyum bagi siapa saja yang tengah menatapku. Oh, ada Ratih dan uni Wel .,dua orang itu saja yang datang di antara para kacung. Tapi keduanya mengabaikanku. Yang lain, mungkin teman ike dari blok R, atau juga teman Anang.
__ADS_1
Anang dan Ike yang mungkin baru mengenaliku, senyum-senyum lucu padaku. Sudah ada penghulu di depannya. Uda Fahri yang duduk di samping penghulu, ternyata sebagai asisten pak penghulu!
Eh, alamaak..! Itu yang duduk di belakang Anang... Dua orang lelaki beda usia yang sedang memandangku. Garrick dan Zayn! Ternyata mereka datang, si Garrick telah kembali. Apa nanti aku akan di maki? Dah biarlah aku tak peduli.
Senyuman Zayn semakin lebar saat kukirim balasan, bahkan mengedip sebelah matanya kemudian. Hal yang selalu membuatku ingin tertawa. Senyum tertahanku benar-benar lenyap saat bergeser pandang ke Garrick. Tak ada keramahan di wajahnya. Terus menatapku, tapi sangat horor ku rasakan. Tak rela saja diriku ditatap demikian olehnya!
Setelahnya, aku pilih menunduk mengikuti acara akad nikah yang telah di mulai. Orang tua Ike tak datang, pamannyalah yang mewakili sebagai wali. Begitu juga Anang, orang tua tak datang. Garrick dan Zaynlah pendampingnya.
Acara akad nikah berlangsung khusyuk dan syahdu. Anang melakukannya sangat lancar. Mungkin sudah sering berlatih, mengingat mereka sudah sering berada dalam satu atap bersama.
Acara berakhir dengan doa bersama dan diamini oleh semua saksi yang datang. Termasuk akulah yang mengaminkan. Ku pandang Anang dan Ike dengan sejuta perasaan. Mereka lebih muda dariku, tapi sudah melakukan pernikahan. Lalu..aku tuh kapan? Ya Tuhan..Tunjukkanlah padaku..Di manakah jodohku? Ku aminkan sendiri doaku.
__ADS_1