Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
45. Juan!


__ADS_3

"Kau kenapa, El? Panggung itu di sana..bukan di bawah." Suara yang terasa hangat di hati itu punya Garrick. Si tuan garang perhatian juga padaku. Memang, habis ku nampak Juan, tak ku pandang ke panggung sekalipun. Terus ku pandang layar ponsel dengan telinga tegak meradar. Kura-kura doyan tahu, pura-pura tidak tau.


"Saya bosan dengan acaranya, bossku. Game zombie ini sangat menarik!" Apa ada alasan bagus yang lain? Padahal, tidak ada game zombie di aplikasiku.


"Jangan bohong..! Kau tidak sopan, El, kau tidak menghargai. Berfikirlah, kau duduk paling depan dan kau duduk dengan siapa? Banyak orang memandang ke sini, tegakkan kepalamu, El." Terkejut, ucapan pelan tuan garang mengena tepat di dada. Memang benar, aku akan terkesan tidak menghargai teman dudukku, dan juga acara di panggung itu.


"Maaf, tuanku." Sebelum kupandang panggung, kulirik sekilas Garrick di samping. Pria itu mengangguk kecil menatapku.


Ya, Tuhan, maaak! Juan...Juan memang sedang memandang terang-terangan ke arahku. Seperti sedang ditangkap basah. Ingin menunduk lagi saja rasanya. Aku harus bagaimana ini?


Harus kulewati saja wajah Juan, tak sengaja mataku tersangkut di Anggun. Wajah dingin dengan mata tajam menatapku, tentu menjerat mataku. Apa Anggun marah? Apa Anggun cemburu padaku? Biar sajalah, duduk bersama Garrick bukan juga pilihanku.


Zayn..mana bocah cool itu, tidak nampak lagi berdiri di panggung. Teman-teman bocah itu juga tak ada satu pun. Mereka memang sibuk dan berguna.

__ADS_1


"El... Nanti kau ikut aku, Zayn sudah dijemput tim senior dari Singapura. Dia buru-buru!" Meski Garrick hanya sekilas menolehku, tapi jelas ku dengar ucapannya.


Oh..Zayn, jadi kau membawaku tapi meninggalkanku? Apa kau sedemikian buru-buru, setidaknya pamit dululah padaku.Kau memang sableng Zayn!


"Selamat malam!" Sebuah sapa lelaki mengejutkan. Garrick cepat menoleh dan sedikit mendongak pada orang bersapa di sampingku. Aku hafal suara penyapa itu, ku gigit bibirku sejenak. Mengusir gugup yang ada di jiwa.


"Hai, mas Juan, selamat malam juga! Mari silahkan gabung di meja kami!" Duh, mereka sudah kenal, bahkan tawaran Garrick pada Juan membuatku tahan nafas.


"Halo, El ! Akhirnya kita bertemu, ternyata aku menemukanmu dengan mudah!" Juan sedang tersenyum menatapku. Bukan senyuman, tapi seringaian.


"Gimana kau bisa di sini, El! Bahkan ibumu pun tak tahu!" Juan yang telah duduk di bekas tempat Zayn mulai menyerangku dengan interogasinya.


"Aku sedang bekerja, mass Juan! Tuan Garricklah majikanku!" Rasanya ingin berbincang di luar berdua saja dengan Juan. Aku segan dengan Garrick dan orang-orang di sekitar.

__ADS_1


"Apa, El..? Majikanmu, bang Garrick?! Apa kerjamu, El?" Mungkin Juan heran, kenapa aku duduk dengan Garrick di sini.


"Mas, kita bicara saja di luar." Ku beranikan mengajak Juan keluar. Banyak pasang mata membidik, Juan seolah tak peduli dengan reputasinya.


Juan mengerti, ku ikuti langkahnya keluar dari dalam gedung aula.


"Tuan Garrick, maaf, saya keluar sebentar." Garrick tidak mengangguk, tapi hanya memandangku dalam bisunya. Tak ada larangan, bergegas mengikuti langkah Juan lagi dengan cepat. Ingin ku putuskan masalahku dengan waktu yang singkat.


Juan terus berjalan dan memasuki sebuah resto di area hotel Garju. Juan memilih sebuah meja di teras dengan semilir angin pantai yang sejuk. Hotel Garju memang tidak jauh dari kawasan pantai Nongsa.


"Mas Juan! Maaf, bukannya aku ikut campur, tapi sebagai pekerjaku, aku harus tahu, apa masalah Elsi. Dan ini masih di dalam jam kerjanya. Jadi, saya akan duduk di sini!" Terperanjat! Garrick telah menarik kursi dan duduk di sebelah meja kami dengan santuy. Lewat jalan mana si tuan garang mengikuti kami?


Juan mengangguk kecil dengan ekspresi bibir agak masam. Juan pasti tak suka dengan adanya tuan garangku. Tapi bukankah ini jauh lebih baik daripada berbincang jadi tontonan banyak orang di dalam aula barusan?

__ADS_1


__ADS_2