Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
S1-10


__ADS_3

Ken pun membawa Karin pergi, tapi tak pulang ke rumah, Ken membawa Karin ke salah satu hotel untuk bermalam. Karin tak menyadarinya karena Karin terlelap dalam tidur.


Ken merebahkan tubuh Karin di kasur dan Ken mengganti pakaian Karin yang sedikit basah karena percikan air hujan dengan kemeja Ken yang selalu tersedia di mobil.


Ken sudah terbiasa melihat tubuh Karin, polos atau tidak itu sudah biasa. Karena Ken sudah membeli tubuh Karin sejak awal yang sudah mengambil mahkota suci Karin.


Sedangkan Karin sediri tidak bisa lari atau menghindar dari Ken. Karena Karin tak mampu jika harus mengembalikan uang yang sudah di keluarkan Ken untuk membeli dirinya, itulah alasan kenapa Karin tetap mau menjadi budaknya Ken, resiko apapun sudah siap Karin tanggung.


Udara yang dingin yang keluar dari AC dan baju Karin yang tipis membuat Karin kedinginan, walaupun mata Karin terpejam Karin masih bisa merasakan kehangatan yang ada di sampingnya. Karin memeluk tubuh Ken dan mencari kehangatan yang ada ditubuh Ken. wajah karin mendekati wajah Ken, Karin merasa kehangatan di setiap hembusan nafas Ken.


Ken yang awalnya tak tak ingin mengganggu Karin akhirnya tak dapat menahan godaan dari Karin yang terus menginginkan kehangatan.


Ken langsung mendaratkan bibirnya untuk bersatu dengan Karin dan tidak ada penolakan dari Karin balasan Karin menandakan persetujuan.


Ken pun ingin memberikan kehangatan yang Karin cari dalam tubuhnya, tangannya berjalan-jalan di tubuh Karin, memberikan sensasi yang berbeda untuk Karin. permainan bibir pun berpindah menjelajahi yang lain yang memberikan kenikmatan pada Karin, suara-suara kecil keluar dari mulut Karin saat area-area sensitif Karin mendapat jelajahan dari Ken. Tubuh Karin menggeliat seperti cacing saat kenikmatan terus menerus menyerang Karin. Tangan Karin pun mulai aktif tak ingin kalah dengan Ken, berjalan menjelajahi tubuh Ken mencari sesuatu yang ada pada Ken. Ken pun mengeluarkan suara-suara kecil saat miliknya mendapat pijatan-pijatan nikmat. Tak butuh waktu lama untuk menyatukan tubuh mereka mencari kehangatan yang sesungguhnya, udara yang dingin tak terasa lagi, nafas mereka saling memburu, keringat membasahi tubuh yang sedang beraktivitas diranjang hingga akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka cari-cari.


Setelah selesai melakukan aktivitas ranjang, Ken duduk bersandar dan menghisap sepucuk rokok, sedangkan karin berada di samping Ken merebahkan kepalanya di dada ken.

__ADS_1


"Tuan, kenapa tuan tidak membawa saya pulang, dan malah bermalam disini?"


"Jika di rumah, aku gak bisa dekat dengan mu, aku sudah rindu tubuhmu, rindu menikmati mu."


"Apa istri tuan gak marah, apa lagi jika tahu tuan bersama saya."


"Itu urusanku, yang perlu kamu lakukan hanya menemani ku saat aku butuh kamu." Karin pun hanya bisa mengangguk dan melayani tuannya di saat di butuhkan.


Akhirnya mereka pun, menghabiskan malam berdua dan kembali beraktivitas ranjang hingga lelah dan tertidur dalam satu selimut.


Pagi menjelang, dan jam menunjukkan pukul tujuh, Karin dan Ken pun pulang. Fikiran Karin sudah kesana-kemari bingung harus menjawab apa jika di tanya dengan mami Vika. Ken hanya menggenggam tangan Karin yang sedari tadi meremas-remas bajunya.


Saat Karin masuk dengan Ken, sambutan tamparan keras dari Sasa mendarat ke pipi Karin hingga meninggal bekas jari jemari Sasa, pipinya memerah dan air mata mengalir di pipi Karin, Karin hanya bisa memegang pipinya yang sakit.


"Apa-apaan kamu Sasa, kenapa kamu tampar Karin, salah apa dia dengan kamu." bentak Ken pada Sasa.


"Dari mana kalian berdua semalaman tidak pulang kerumah, apa kalian selingkuh di belakangku."

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi peduli begini sejak Karin datang, biasanya kamu tak pernah peduli aku pulang atau tidak."


"Mas...." tegas Sasa.


"Cukup Sasa, aku gak mau berdebat denganmu, jangan sampai aku melakukan sesuatu yang membuat kamu menyesal." ancam Ken.


"Dasar kamu perempuan murahan." teriak Sasa pada Karin. sedangkan Karin tak dapat menjawab hanya tangis nya yang mewakili, hati Karin begitu sakit saat dirinya direndahkan serendah-rendahnya oleh wanita lain.


"Apa-apaan sih kamu Sasa dengan Karin. dan kamu Karin cepat kembali ke kamar jangan hiraukan Sasa." saut mami Vika dan Karin pun langsung kembali ke kamar dan berselisihan dengan Rafael, Namun Karin memalingkan wajahnya dan langsung masuk dalam kamar , sedangkan Rafael ingin mengatakan sesuatu namun tak terucap dari bibir Rafael.


"Sekali lagi kamu menyentuh Karin, aku takkan tinggal diam, jika kamu ingin aku sayang dan peduli padamu, tinggalkan dunia keartisan mu, dan jadi istri yang baik, aku masih bisa memenuhi kebutuhan mu, tak perlu kamu kerja dan mengabaikan suamimu." Ken langsung pergi meninggalkan Sasa yang berdiri didepannya.


Karin mengusap pipinya yang masih merah dan menangis sendirian menumpahkan kesedihan hatinya, Karin menangisi dirinya yang sudah tak berharga, hadir dalam rumah tangga Ken. Lebih sedih lagi bagaimana jika ibunya tahu apa yang ia kerjakan di kota, selama ini ibunya berfikir dirinya bekerja sebagai pembantu dan kenyataannya dirinya hanya seorang budak lebih rendah dari seorang pembantu. Melepaskan kesuciannya kepada pria yang yang bukan suaminya menjadi pemuas pria yang sudah berkeluarga, ingin rasanya Karin bunuh diri tapi dirinya tak ingin ibunya lebih menderita jika dirinya pergi.


Seharian Karin tak keluar kamar, Rafael beberapakali mondar-mandir didepan pintu Karin dan kadang memperhatikan balkon Karin namun belum terlihat Karin muncul.


"Apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku harus minta maaf, apa Karin mau memaafkan aku. Karin pasti masih marah denganku atas apa yang kulakukan padanya. Rafael ayo berfikir bagaimana kamu harus minta maaf pada Karin." Rafael mondar-mandir mencari ide untuk minta maaf pada Karin.

__ADS_1


Sedangkan Ken mengacuhkan Sasa seharian tak ingin bicara dengan Sasa Walaupun Sasa sudah berusaha meminta maaf padanya.


__ADS_2