
Malam ini Ken pergi bersama istrinya hanya berdua meninggalkan anak-anak di rumah.
Ken sengaja tak memberitahu Karin Kemana mereka akan pergi. Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat di mana tempat itu menjadi kenangan bersejarah antara mereka berdua.
"Mas. . . Kita kemari?" tanya Karin.
"Iya sayang, kamu masih ingat kan ini tempat pertama kali kita tinggal satu atap. Mas sempat ingin menjual tempat ini Waktu itu, namun mas urungkan." Karin dan Ken pen segera masuk. Tempat itu masih sama seperti yang dulu tak ada sedikitpun yang berubah, hanya bi Wiwik yang biasa menyambut setiap mereka datang sudah tak ada lagi dan para penjaga semua orang baru.
"Selamat datang tuan dan nyonya, semua sudah saya siapkan, mau makan malam dulu atau langsung Istirahat." ucap pembantu yang baru.
"Aku ingin istirahat dulu, nanti saja makan malamnya." jawab Ken
"Baik tuan, sudah saya rapikan kamarnya." Ken pun mengangguk dan mengajak Karin untuk istirahat dulu.
Mereka pun pergi ke kamar, dan Ken langsung mengunci pintu kamar itu. Ken melepaskan jas yang sedari tadi melekat di badannya dan melemparkannya ke sofa, dan segera mengendorkan dasinya yang mencekik lehernya. Tak perlu basa basi lagi Ken segera mencecar pertanyan yang selama ini sudah ia pendam dan ingin segera mendengar jawaban Karin.
"Sayang, apakah kau mau jujur padaku?"
"Apa maksudmu mas, selama ini tak pernah ada yang aku sembunyikan darimu. Apa yang terjadi mas, tiba-tiba saja mas seolah-olah menaruh curiga padaku?" saut Karin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Ken menarik nafas kasar dan melemparkan kartu nama yang ia temukan pada Karin.
"Katakan padaku, Darimana kamu dapat kartu nama itu? apa kalian saling kenal?" Karin membaca kartu nama itu dan tertera cukup jelas nama Reval terpampang di kartu nama itu.
__ADS_1
"Dari mana mas dapat ini? iya Karin memang kenal dengan pria ini, tapi baru beberapa kali saja kita bertemu dan itu pun secara tak sengaja." jelas karin yang mencoba jujur namun membuat Ken menjadi marah.
"Beberapa kali katamu, apa kau sadar, jika kamu itu sudah bersuami dan tak sepantasnya bertemu pria lain yang tanpa sepengetahuan suamimu. Apa kamu ada niat untuk berselingkuh?" tuduhan Ken saat ia emosi terasa menusuk hati Karin dan ia pun langsung menangis di hadapan suaminya.
"Tidak mas, aku sama sekali tidak ada niatan untuk selingkuh, aku bertemu dengannya hanya secara kebetulan, jangan tuduh aku selingkuh mas, aku sama sekali tidak ada niatan untuk itu." Karin pun terisak-isak dan terduduk bersimpuh di hadapan suaminya.
"Karin bersumpah sampai kapanpun tak pernah ada niatan untuk menghianati mas. Seumur hidup Karin sudah Karin serahkan untuk selalu setia dengan mas. Karin janji tak akan pernah lagi bertemu dengannya lagi. Tapi maafkan Karin yang sudah membuat mas cemburu dan curiga sama Karin."
Ken terdiam mendengar jawaban Karin yang sungguh-sungguh hingga dia berani bersumpah. Namun hatinya masih sedikit sakit saat dia jujur telah mengenal pria yang ingin menghancurkan keluarganya.
Ken membalikkan tubuhnya membelakangi Karin yang terduduk dengan terisak-isak. " Berdirilah, aku gak mau melihatmu seperti itu, aku terima penjelasanmu. Berjanjilah padaku untuk tidak menemuinya lagi." Karin pun segera berdiri dan berjalan kearah suaminya dan berdiri di hadapannya.
"Aku janji mas, aku tak akan membuat kesalahan lagi yang membuat mas marah."
"Istirahatlah, mas mau membersihkan diri dulu ingat jangan ulangi lagi."
Ken pun segera mandi mengguyur tubuhnya di bawah shower mendinginkan otaknya agar kembali tenang agar tak terjadi pertengkaran.
"Kenapa istriku harus mengenal dirinya, aku takut kehilangan dirinya. Jangan sampai si brengsek itu memanfaatkan istriku yang lugu ini untuk menghancurkan diriku. Awas kamu Reval sampai kamu masih berani menyentuh istriku akan ku buat dirimu benar-benar menderita lebih dari yang sebelumnya." gumam Ken yang terus mengguyur tubuhnya.
Saat Ken keluar dari kamar mandi rupanya Karin sudah tertidur mungkin terlalu telah dan juga terlalu lama menunggu suaminya yang mandi hampir satu setengah jam.
Sebuah pesan masuk di ponsel Karin dan ternyata itu dari Reval. Emosi Ken kembali naik, melihat isi pesan dari Reval dan sebuah foto mereka yang sedang bersama dengan begitu bahagia dan tangan Karin sedang di pegang Reval dan langsung saja melempar ponsel Karin ke lantai hingga pecah. Hingga mengagetkan Karin dan terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Ada apa mas?" Tanya Karin sambil mengucek mata. Ken sudah naik pitam tangannya mengepal seolah ingin meninju sesuai yang ada di depannya. Ken menatap Karin dengan mata melotot seolah bola matanya ingin keluar.
"Baru saja kamu bersumpah, sampai bersujud di hadapanku, ternyata itu bohong, ternyata istriku yang lugu sudah berubah sekarang, sudah tak seperti yang dulu lagi. Sekarang sudah berani berbohong bahkan berani selingkuh di belakangku."
"Apa lagi sekarang ini mas, Karin sudah jujur dan tak ada lagi yang Karin sembunyikan dari mas."
Ken mendekati Karin yang duduk di sisi ranjang sedangkan Ken sendiri yang masih mengenakan handuk dan rambut yang masih basah hingga membasahi wajah Karin.
"Benarkan yang keluar dari mulutmu adalah kejujuran. Tapi kenapa mas mulai ragu dengan bibir manismu yang mulai berani tak jujur." Ken mengusap bibir hingga pipi karin dan berujung menjambak rambut belakang Karin.
"Aaauuuhhhh, sakit mas. Karin benar-benar sudah jujur hal apa lagi yang mas tak percayai. Karin harus katakan apa lagi." Tak ada jawaban lagi dari Ken namun sekarang Ken malah menyusuri leher dan wajah Karin dengan kasar tak ada kelembutan dan belaian.
Di kamar itu kembali terulang pertempuran dengan kasar seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu saat mereka sedang bertengkar, Ken kembali seperti orang asing bukan seorang suami. perlakukan Ken malam itu dengan Sekarang sama, Karin berkali-kali minta maaf dan meminta suaminya menyudahinya tak di gubrisnya begitu kasar permainan Ken seolah-olah memberikan pelajaran kepada istrinya agar sadar bahwa Karin adalah miliknya tak seorang pun boleh menyentuhnya bahkan mengambil darinya.
"Mas sudah, Karin lelah. aku sudah gak sanggup lagi." ucap Karin di sela tenaga yang ia miliki.
"Sudah ku katakan padamu dari dulu, tak ada yang boleh memiliki dirimu selain aku, apa kamu masih ingat perkataan yang pernah terucap di kamar ini waktu itu." Ken tak memberi Karin kesempatan untuk istirahat dirinya terus mengerjai Karin hingga kelelahan.
Malam itu pertempuran selesai dengan keduanya yang sama-sama kelelahan. Karin meletakkan kepalanya di lengan suaminya dan memeluknya walaupun terselip air mata yang menetes.
"Jangan pernah menemuinya dan jangan sampai tubuh milikku ini di jamah laki-laki lain yang bukan haknya, apa kamu paham. Sampai kapanpun tak akan ku biarkan orang lain berani menyentuh istriku walaupun seujung kuku pun tak akan ku biarkan. Aku ingin kamu tinggal di sini selama sebulan sebagai hukuman atas perbuatan mu. Jangan membantah atau pun melawan. Masalah anak-anak biar di awasi pengasuh masing-masing. agar aku sendiri bisa lebih fokus untuk menyelesaikan masalah yang sedang membebaniku."
Karin tak dapat berbicara maupun ingin melawan hanya dapat mengangguk. Menuruti perintah suaminya yang mungkin sedang marah padanya. Karin pun sadar akan kesalahan yang ia perbuat tak jujur pada suaminya yang telah mengenal pria lain selain suaminya walaupun hanya sebatas kenal, tapi itu tak sepantasnya di lakukan wanita bersuami. Walaupun jujur Karin tak begitu yakin jika masalahnya hanya itu tapi tak berani ia menanyakannya.
__ADS_1