
Berjalan dan terus berjalan menyusuri keramaian kota, Nabila dan Rara memilih berjalan kaki untuk menikmati suasana kota yang ramai, Anton selalu berjalan di belakang mereka. Memperhatikan dan menjaga kedua nona muda.
Terik matahari semakin menyengat namun tak menyurutkan keduanya untuk tetap berkeliling mencari sesuatu yang unik.
Nabila nampak bahagia yang jelas terlihat di wajahnya, begitu juga dengan Rara namun senyumannya seakan palsu. Entah apa yang dipikirkan Rara sehingga tak menikmati apapun.
"Ra... aku mau coba perawatan di sini. Kamu mau ikut gak?" ajak Nabila yang berhenti di depan rumah kecantikan Merona.
"Kamu aja yang masuk, aku tunggu di cafe dekat sini, sekalian mau melepas dahaga sama om Anton." jawab Rara.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa nanti. Om jangan lupa nanti jemput ya." Nabila pun masuk ke dalam rumah kecantikan untuk perawatan wajah.
"Non Rara kenapa gak ikut perawatan?" tanya Anton.
"Aku gak tertarik dan juga gak terbiasa." jawab Rara santai sambil melangkah menuju cafe yang tak terlalu jauh.
Sesampainya di cafe Rara duduk di salah satu kursi yang masih kosong bersama Anton dan memesan minuman.
"Om sudah lama bekerja dengan papa?" tanya Rara
"Sudah, sejak papamu masih muda, om ini sudah menjadi orang kepercayaan papamu, bahkan untuk hal sangat pribadi pun papamu minta bantuan om
" jelas Anton.
"Kalau begitu om bisa bantu Rara juga Kan?"
"memangnya non ada masalah apa, selagi om bisa bantu, om akan berusaha membantu permasalahan non Rara."
"Om... bisa ngajarin Rara buat bikin orang yang Rara sukai jatuh cinta." ucap Rara dengan polos.
"Ala mak..., aku kira cukup papanya saja yang bodoh soal cinta ternyata anaknya juga sama." gumam Anton.
"Kok om diam, bisa bantu gak?" tanya Rara lagi.
"Kalau masalah meluluhkan hati perempuan om bisa tapi kalau meluluhkan hati laki-laki om belum pernah coba sebelumnya. Coba non minta ajari kakak non, tuan muda Arthur. Kalian kan sama-sama masih muda jadi lebih paham dibandingkan om."
__ADS_1
"Kak Arthur. Gak. Rara gak mau, bukannya bantu nanti malah membuat Rara sakit hati." tolak Rara.
Tiba-tiba seseorang datang mengagetkan keduanya.
"Ada yang membicarakan diriku?" tanya Arthur tiba-tiba.
"Tuan muda?"
"Kak Arthur? kenapa kakak bisa ada di sini?" tanya Rara yang juga kaget.
"Tentu saja aku tahu, kamu lihat gedung yang ada di sebrang itu?" ucap Arthur sambil menunjuk ke arah bangunan yang ada di sebrang dan Rara pun memperhatikannya.
"Jelaskan om, biar Rara tahu." ucap Arthur pada Anton.
"Itu perusahaan tuan muda Arthur." jawab Anton dan membuat Rara ternganga tak percaya.
"Dan kamu lihat bangunan paling atas itu?" tanya Arthur lagi pada Rara sambil menunjuk lantai yang paling atas."Aku bisa melihatmu dari sana, makanya aku langsung kemari menghampiri adikku yang masih polos ini."
"Kalau tahu begini, aku tadi nyari tempat yang lain biar gak ketahuan kak Arthur yang bawel ini."gumam Rara.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Arthur yang duduk di samping Rara dan meminum minuman milik Rara.
"Terus Nabila nya mana?"
"Non Nabila masih perawatan di rumah kecantikan Merona dan kita menunggu di sini." jelas Anton lagi.
"Kenapa kamu gak ikut perawatan tubuh, biar kamu lebih cantik dan nampak segar. Lihatlah kamu sekarang nampak seperti bunga raflesia, wajahmu kusam, kulitmu kurang bersih, dan rambutmu kurang terawat, bagaimana laki-laki bisa jatuh hati padamu, kakak tahu kamu sedang jatuh cinta padanya." goda Arthur.
"Apa kakak bilang aku bunga bangkai, memang tak ada kata-kata yang lebih halus lagi apa dan memangnya aku ini bau." saut Rara yang kesal.
"Oh... rupanya adikku ini bisa marah juga rupanya" Arthur pun tertawa sambil mengacak-acak rambut Rara." kakak cuma bercanda, adik kakak ini cantik dan wangi, tapi lebih cantik lagi kalau perawatan, kalau begitu besok kakak akan luangkan waktu untuk menemani Rara dan bunda memanjakan diri."
"Ayo ikut ke kantor, kita makan siang di sana, tadi kakak sudah pesan makanan."
"Gak ah... malas."
__ADS_1
"Yakin gak mau sarapan bareng sama kak Joy."
"Kak Joy juga ada disana?"
"Ya iyalah dia di sana, kan ngurus perusahaan sama-sama." Arthur lalu menarik tangan Rara dan membawanya pergi meninggalkan Anton seorang diri menunggu Nabila selesai.
Arthur terus menarik tangan Rara membawanya kedalam kantor. Melewati para karyawan yang memperlihatkan kakak beradik tersebut. Pandangan mereka sangat aneh, dan penuh tanda tanya tentang Rara.
Sesampainya di ruangan kerja, Arthur mendudukkan Rara di kursi kerjanya dan Arthur duduk di depannya.
Joy nampak sibuk dengan pekerjaannya, hingga mengacuhkan kedatangan Rara. Mata Rara tak henti menatap Joy yang nampak begitu gagah dan dan mempesona, dengan mengenakan pakaian formal, Joy nampak begitu tampan tak kalah jauh dengan Arthur yang juga tampan dan memiliki postur tubuh yang ideal.
Melihat kedua kakaknya yang tampan membuat hati Rara minder, merasa tak pantas menjadi seorang adik karena penampilan dan juga wajahnya yang kusam.
"Kak... kita makan siang dulu yuk" ajak Arthur.
"Kamu makan saja duluan, aku masih sibuk, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini." jawab Joy dengan matanya yang masih fokus pada layar laptop.
Arthur memberi Kade pada Rara untuk mengajak Joy.
"Kak Joy, bisakah kita makan siang bersama?" tanya Rara. mendengar suara Rara, Joy pun baru menyadari kehadiran adiknya tersebut. ia pun menghentikan aktivitasnya edan mengalihkan pandangannya pada Rara.
"Rara.. sejak kapan kamu ada di sini? aku benar-benar gak tahu kedatanganmu." tanya balik Joy dan bangkit berdiri dari duduknya untuk menghampiri Rara.
"Sudah satu abad dia duduk di sini, nungguin kak Joy menyapanya." saut Arthur.
"Gak kok kak, Rara baru saja datang, tadi di ajak kak Arthur buat makan bersama di sini." Jawab Rara
"Nabila mana? bukannya kalian jalan-jalan bersama?" tanya Joy lagi.
"Nabila..."
"Nabila, masih perawatan. Tenang saja om Anton ada di sana nungguin Nabila selesai dan aku suruh pulang duluan biar Rara pulang bareng sama aku." jawab Arthur dengan santai.
Mereka pun akhirnya makan siang bersama-sama di dalam ruangan dengan menu makanan yang sudah di pesan sebelumnya.
__ADS_1
Rara yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta pun tak dapat berkata apa-apa, setiap berada di dekat Joy. Hatinya selalu bimbang saat Ia sadar telah jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
"Sanggupkah aku, jika harus pergi meninggalkannya dengan membawa perasaan terpendam. Apakah keputusan yang ku ambil ini sudah tepat, meninggalkan hati dan terbang jauh untuk hal yang lebih besar. Mampukah diriku melihat orang yang pertama kali membuatku jatuh cinta bersanding dengan wanita lain." gumam Rara sambil terus menatap Joy yang sedang menyantap makan siangnya.