Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
Kabar baik


__ADS_3

Seharian Ken dan Karin menghabiskan waktu untuk belanja dan makan-makan. Saat sedang bergurau dengan Ken tiba-tiba Bara menghubungi.


"Kak bentar ya, aku angkat panggilan dokter Bara dulu." izin Karin dan Ken mengaguk.


Karin pun mengangkat panggilan Bara.


"Halo dok?"


"Karin, ada hal penting yang harus aku bicarakan."


"Iya, ada apa katakan saja, Karin siap mendengarkan."


"Di rumah sakit tempat aku bekerja akan kedatangan dokter spesialis neurologi yaitu dokter khusus yang mendiagnoksis dan mengobati sistem saraf termasuk saraf otak yang datang langsung dari Amerika. Jadi kalau kamu ingin Ken cepat sembuh kamu bisa membawanya kemari untuk konsultasi untuk penyembuhan terbaik Ken, aku kan mendaftarkannya."


"Iya dokter, jika yang dokter sarankan itu yang terbaik, aku kan membawa mas Ken kesana, Karin minta tolong uruskan pendaftarannya. kira-kira kapan itu dok?"


"Lusa sudah di mulai, kemungkinan Ken akan menjadi pasien pertama yang akan di periksa."


"Baik dokter saya dan mas Ken besok akan berangkat, mudah-mudahan ini jalannya agar mas Ken bisa cepat sembuh."


"Aku harap juga begitu, baiklah Karin aku hanya mengabari itu, jika kamu sudah kembali hubungi aku lagi."


"Baik dok, terimakasih banyak."


Mendapatkan kabar dari dokter Bara membuat hati Karin sangat senang, dan berharap suaminya lekas sembuh.


"Ada apa Tiara, kamu kok kelihatannya sangat bahagia?" tanya Ken penasaran.


"Kak, sebentar lagi kakak akan sembuh dan bisa mengingat semuanya. Kita akan kembali ke rumah sakit CITRA HUSADA untuk konsultasi dan penanganan amnesia kakak."


"Gak. aku gak mau, aku kan sehat-sehat saja. Lagian ngapain lagi balik kesana."


"Kak, please. demi aku dan demi adikmu ini." Karin mengiba.


"Baiklah, kita akan pergi tapi untuk kali ini aja tidak untuk kedua kalinya.."


"Iya aku janji. kalau begitu kita sekarang pulang dan beritahu mama juga kita siap-siap besok kita akan berangkat."


Karin dan Ken pun langsung pulang, karena hari juga sudah malam.

__ADS_1


Setelah sampai rumah, Karin buru-buru memberitahu mama Vika tentang kabar baik ini. Sedangkan Ken menyusul di belakang bawa banyak belanjaan.


"Mama...." panggil Karin


Mama Vika dan Rafael pun langsung keluar dari kamar mendengar Karin teriak-teriak, takut terjadi apa-apa. Sedangkan Ken langsung masuk kamar meninggalan Karin.


"Ada apa Karin... kamu gak papa kan." tanya mama Vika sambil buru-buru turun.


Karin langsung memeluk mama Vika dengan perasaan bahagia.


"Ada apa Karin." mama Vika yang masih penasaran.


"Mama, Karin bawa kabar baik. Tadi dokter Bara sahabat mas Ken, mengabari bahwa di rumah sakit citra Husada akan kedatangan dokter spesialis saraf dari Amerika. Mas Ken bisa konsultasi dan penanganan amnesianya di sana. Ini kesempatan langka ma."


"Ini kabar bahagia sayang, terus kapan kalian kembali."


"Besok , Karin dan mas Ken harus berangkat soalnya mas Ken akan menjadi pasien pertama yang akan di tangani."


"Rafael ikut bahagia kak, mudah-mudahan usaha dan kerja keras kakak, buat kesembuhan Abang gak sia-sia dan Abang bisa kembali ingat dengan kakak."


"Amin... kalau begitu karin siap-siap ya ma, mumpung belum terlalu malam."


Karin pun kembali ke kamar dan menyiapkan barangnya untuk di kemas kedalam koper setelah selesai Karin kekamar Ken.


Karin melihat Ken sedikit gak suka dengan keputusan Karin dan memalingkan wajahnya dari pandangan Karin.


Air mata yang selalu Karin tahan kembali tumpah, saat suaminya memalingkan wajahnya dari dirinya.


"Kak. kakak marah ya dengan ku, apa kakak gak mau hidup normal lagi, apa kakak gak sayang sama aku." ucap Karin di belakang Ken. Namun tak ada jawaban dari Ken.


"Baiklah kalau kakak gak mau berobat, aku gak akan maksa. tapi aku juga gak akan mau ngomong dengan kakak." Ancam karin namun masih tak di gubris Ken.


"Aaauuuhhhh... sakit sekali perutku, kak tolong sakit." teriak Karin. dan Ken langsung menoleh dan buru-buru menghampiri Karin.


"Ada apa dek, perut kamu kenapa?" tanya Ken yang kuatir.


"Istirahat dulu, jangan banyak bergerak." Ken merebahkan tubuh Karin di ranjangnya.


"Aku gak papa kak, sepertinya anakku sedikit bermain di dalam. Mungkin dia marah pamannya gak mau menuruti kata mamanya.

__ADS_1


"Iya kakak mengalah, kakak akan menuruti semua keinginan adik tersayang."


"Makasih kak. Aku boleh ikut tidur samping kakak gak, aku ingin bersama kakak malam ini."


"Tentu saja." Ken pun menyelimuti tubuh Karin dan tidur di samping Karin.


Sepanjang malam karin tak bisa tidur, pikirannya kemana-mana. Karin memandang lekat suaminya yang tengah tertidur pulas di sampingnya.


"Mas, aku ingin kamu sembuh dan kita bisa menikmati pernikahan yang masih seumur jagung ini dengan kebahagian yang tiada Tara, aku gak ingin hidup terus-menerus dengan air mata, aku akan menjadi istri terbaikmu dan menghabiskan hari-hari dengan penuh kebahagian bersama anak kita." Karin berkali-kali mengecup kening Ken sebelum ikut tertidur.


Pagi harinya dengan posisi masih berpelukan. Terdengar suara ketukan mama Vika.


"Ken, bangun sudah siang katanya hari ini mau pulang." panggilan mama Vika mengagetkan dua insan yang sedang menikmati tidurnya.


"Iya ma, Ken sudah bangun." ucap Ken


Ken memperhatikan Karin yang masih tertidur dengan bantalan lengannya.


"Dek bangun, katanya kita mau pulang." Ken membangun Karin.


"Iya aku sudah bangun." ucap Karin dengan suara khas bangun tidur.


Karin pun seperti biasa selalu menggeliat saat bangun tidur, merenggangkan otot -otot tubuhnya.


Setelah selesai membersihkan badan dan bersiap Karin dan Ken menyampaikan untuk sarapan sebelum pamit pergi.


"Mama, aku pamit dulu, doain mas Ken bisa sembuh ma."


"Iya sayang, jangan lupa jaga cucu mama juga. Kamu juga jangan terlalu capek, kalau ada apa jangan lupa kabari mama. Jagakan Ken buat mama ya, mama percayakan semuanya padamu." mama Vika memeluk dan mencium Karin.


"Ma Ken pamit, mama jaga kesehatan, jangan pikirin Karin dan Tiara kami pasti baik-baik saja."


"Iya sayang, jaga diri baik-baik, jaga cucu mama dan juga ibunya, Jangan buat dia menangis."


"Iya ma, Ken pasti jagain Tiara, kan anak Tiara juga ponakan Ken." Ken dan mama Vika pun berpelukan begitu juga dengan Rafael.


"Kami berangkat ma." Ken dan Karin mencium punggung tangan mama Vika dan bersiap untuk berangkat.


Selama di perjalanan Karin memegang erat tangan Ken, begitu banyak doa dan harapan di hati Karin untuk kesembuhan suaminya.

__ADS_1


"Tenang Tiara, kakak mu ini baik-baik saja gak perlu ada yang di kuatirkan. Justru kamu yang harus jaga diri buat kesehatan janin mu jangan stres mikirin kakak yang sehat ini." Ken menghibur Karin yang cemas.


__ADS_2