
Didalam rumah, semua keluarga sedang berkumpul Mama vika, Sasa, Joy, dan Rafael Adiknya Ken yang baru datang dari Australia setelah menempuh pendidikan Sana.
Kenzo kaget dengan keluarga besarnya yang sedang berkumpul, apalagi saat dia membawa Karin.
Sasa mendekati Ken dan menanyakan tentang wanita disampingnya.
"Dia siapa mas, apa ini bawaan mu selama pergi keluar kota, apa kau selingkuh dengannya."
"Apa-apaan sih kamu Sasa, dia ini bukan selingkuhan ku, ini tamunya mami, mami yang minta aku membawanya kesini, mami yang minta kalau gak percaya tanya saja sama mami." jelas Ken pada sasa
Mami pun datang menghampiri. "Ini Karin?" ucap mami Vika pada Karin.
"Iya nyonya saya Karin." Karin pun mencium punggung tangan mami Vika.
"Iya Sasa, ini mami yang meminta Ken membawa Karin ke sini, Sudah jangan ribut." Mami Vika mencoba menjelaskan pada Sasa.
"Tumben pada kumpul semua, dan kau Rafael kapan pulang."
"Aku,!!¡ ya terserah aku lah mau pulang kapan, mami yang meminta aku pulang." jelas Rafael yang tak pernah akur dengan Ken.
"Sudah-sudah, jangan berdebat, ayo nak Karin, mama antarkan kamu ke kamar dan Rafael tolong bawakan koper Karin
"Kok aku sih ma."
"Sudah jangan membantah. Dan kamu Sasa urus Suamimu dia pasti lelah." Karin pun mengikuti mama Vika begitu juga Rafael.
"Nak, sementara kamu tidur disini ya, ini kamar tamu, dan di sebelah kamar Rafael."
"Terimakasih nyonya."
"Eh, jangan panggil nyonya, panggil mami ya sayang."
"Iya mam, Makasih juga kak Rafael sudah bantuin bawakan koper Karin."
"Iya...kalau butuh apa-apa bisa panggil aku di samping."
"Iya kak."
Mami Vika dan Rafael pun pergi meninggalkan Karin untuk istirahat.
__ADS_1
Karin berjalan menuju balkon yang ada di kamar yang langsung mengarah di halaman belakang.
"Apa aku bisa beradaptasi dengan keluarga ini, apa aku kuat menahan mataku saat tuan Ken sedang bersama istrinya." gumam Karin yang bertemankan angin malam.
Sebuah bola kecil dilempar seseorang dan mengenai lengan Karin dan ternyata itu ulah Rafael yang ada di balkon kamarnya.
"Woi... ngapain malam-malam bengong disitu, nanti bisa masuk angin Lo." ucap Rafael yang memandang Karin.
"Karin hanya menikmati udara malam saja kak. kak Rafael juga ngapain disitu sudah tau dingin bukanya masuk kedalam."
"Aku sama seperti mu sedang menikmati udara malam. Aku penasaran sama kamu, mami, kamu kasih guna-guna apa sampai baik banget sama kamu, setahu aku mama tu pilih-pilih banget dengan orang, atau..... jangan-jangan mami mau jodohkan aku sama kamu. Oh tidak, aku gak mau, aku sudah punya kekasih di Australia. jadi maaf ya, aku gak akan mau menerimamu." mendengar ucapan Rafael Karin hanya mengkerutkan dahi dan sesekali memutar bola matanya mendengar setiap kata-kata Rafael.
"Kak Rafael, Sebelum menuduh orang dan berfikiran yang tidak-tidak, kak Rafael tanya langsung ke mami. biar gak jadi salah faham. lagian siapa juga yang mau dengan kak Rafael yang kaya gitu." Karin pun kembali masuk kamar meninggalkan Rafael.
"Woi...maksudmu kaya gitu gimana, memangnya aku kenapa....Woi....Karin jawab aku." Rafael teriak-teriak namun tak ada jawaban dari Karin.
"Awas lo Karin ,sudah mengabaikan pertanyaan ku, kamu pikir kamu siapa, tunggu pembalasan ku." Rafael pun masuk dan membanting pintu balkon kamarnya.
Karin pun bersiap untuk tidur namun pintu kamarnya di ketuk beberapa kali. Segera Karin membuka pintu dan ternyata itu Rafael lagi.
"Ada apa kak?, ini sudah malam."
"Memangnya apa yang buat kakak penasaran, rasanya Karin tadi gak ngomong apa-apa."
"Kamu ini pelupa atau pura-pura lupa. kamu bilang aku kaya gitu itu maksudnya kaya apa jelaskan padaku."
"Oh....itu to, yang buat kak Rafael penasaran, kaya gitu, maksudnya kak Rafael terlalu tampan, jadi gak cocok kalau mau dijodohin dengan Karin yang kampungan ini, apa sudah puas dengan jawaban Karin ini." Karin pun langsung menutup pintu dihadapan Rafael membuat Rafael langsung memejamkan mata.
"Jadi aku sangat tampan menurut Karin." Rafael pun kembali ke kamar dan mengingat-ingat kata terlalu tampan.
Pagi harinya Karin membantu pelayan dapur menyiapkan sarapan, mata Karin sering kali menatap pintu yang penghuninya tak kunjung keluar.
"Bi, apa Karin boleh masak"
"Non mau masak apa?"
"Bibi kerjakan yang lain saja biar Karin masak menunya. Semoga yang lain suka." Karin pun membuat masak beberapa menu makanan yang berbeda dari biasanya.
Setelah semua siap, semua keluarga satu persatu datang termasuk Ken dan istrinya Sasa. mata Karin terus menatap Ken yang berjalan di anak tangga begitu juga Ken sesekali menatap Karin.
__ADS_1
Semua keluarga sudah berkumpul untuk sarapan dan Karin memilih kembali ke kamar Karena dia bukan anggota keluarga sehingga Karin merasa tidak pantas jika bersama mereka.
"Wah... kelihatannya sarapan pagi ini berbeda dengan biasanya." Mami Vika memperhatikan menu makanan di meja.
"Maaf nyonya, tadi non Karin yang masak, dia Memaksa mau buatkan sarapan pagi. maaf nyonya kalau gak sesuai dengan menu seperti biasanya.
"Gak papa bi, sekali-kali berbeda gak papa. Oya mana Karin?"
"Non Karin, kembali ke kamar katanya sakit perutnya."
Mereka pun menikmati sarapan dengan menu buatan Karin.
"Masakan Karin enak, seperti masakan seorang koki." puji mami Vika.
"Mumpung ngomongin Karin, Rafael mau tanya ma, apa alasan mama membawa Karin kesini dan juga memanggil Rafael kembali, apa mama mau jodohkan Karin dengan Rafael ma." ucap Rafael membuat Ken langsung kesadakan.
"kenapa bang, kaget dengan ucapan Rafael." Ken pun menghabiskan satu gelas air putih di depannya.
"Rafael, kenapa pikiranmu sampai kesitu, siapa juga yang menjodohkan kamu dengan Karin, dia sudah ada yang punya."
"Memangnya siapa yang punya ma, disini kan cuma tinggal Rafael yang masih lajang, gak mungkin mas Ken kan yang punya."
"Kalian ini pagi-pagi pikiran nya negatif semua, Karin mami yang punya, karena Karin sudah mami anggap seperti anak sendiri, lagian mami kan gak punya anak perempuan."
"Tapi kan mam, mam punya menantu perempuan, yaitu aku." ucap Sasa.
"iya kamu, menantu tapi gak seperti anak"
"Mam.. sudahlah."
"Sudahlah, kalian lanjutkan sarapannya, mami mau menemui Karin, siapa tahu dia membutuhkan sesuatu."
"Mami nie kenapa gak pernah menganggap aku seperti putrinya." ucap Sasa yang kesal
"Sudahlah, gak usah dipikirkan, memang seperti itu sifat mam." bujuk Ken.
"Ya sudah aku juga mau pergi, ada syuting paling pulang malam tau pagi. Oya mas jangan lupa cek rumah kita yang sedang di renovasi." Karin pun pergi meninggalkan Ken dan Rafael di meja makan.
"Ngapain Lo, kepikiran kalau mami mau jodohkan kamu dengan Karin."
__ADS_1
"Kenapa Abang yang sewot, apa Abang cemburu sama Rafael, tenang aja Karin bukan levelnya Rafael. Lagian Abang juga sudah punya istri, ngapain mikirin Karin, gak mungkin kan itu selingkuhan Abang, ucap Rafael sambil menyuap nasi tak memperdulikan Ken yang melototi Rafael.