
Menjelang siang, akhirnya masalah mobil Ken pun teratasi dengan bantuan para warga.
Sebelum pergi Ken mengeluarkan uang lembaran merah kepada warga yang membantu. Namun dengan tegas mereka menolak.
Dengan ramah para warga melambaikan tangan melepas kepergian Keluarga Kenzo.
Arthur yang masih demam, hanya bisa tidur di pangkuan Karin sedangkan Adit menjadi sopir dan Ken membalas pesan yang masuk begitu banyak ketika sudah mendapatkan sinyal di ponselnya.
beberapa jam kemudian mereka pun sampai ke rumah. setelah perjalanan panjang dan membuat lelah.
"Adit kamu bisa tinggal di kamar itu berdekatan dengan kamar Arthur." jelas Karin sambil berjalan menunjukkan kamar adiknya. Adit pun menyusul Karin sambil membawa koper miliknya.
"Mbak, Adit gak nyangka bisa di butuhkan mas Ken untuk membantunya." Adit duduk di sisi ranjang di samping kakaknya.
"Kakak harap kamu bisa membanggakan kakak dan jangan kecewakan kakak mengerti. Sekarang istirahatlah kamu pasti lelah." Karin mengusap kepala adiknya dan bergegas pergi meninggalkannya.
Setelah mengantar Adit Karin beranjak ke kamar Arthur melihat keadaan putranya.
"Sepertinya, panas Arthur mulai turun. Kasihan kamu nak pasti kelelahan selama beberapa hari ini." Karin mengecup kening Arthur.
Ken datang menghampiri Karin yang masih duduk di samping Arthur.
"Sayang mas harus pergi dulu, ada urusan yang harus mas selesaikan."
"Mas mau pergi, apa gak capek mas baru saja sampai rumah kok sudah mau pergi lagi?"
"Ini lebih penting dari rasa lelah mas. Gak usah kuatirkan mas, jika urusan mas dah selesai mas segera pulang." Ken mengecup kening Karin dan beranjak pergi meninggalkannya.
"Kasihan mas Ken, akhir-akhir ini pikirannya tak tenang. Masalah selalu datang menghampiri."
Malam pun tiba, Karin menunggu ken yang tak kunjung pulang. Karin terus saja mondar-mandir menatap pintu depan dengan perasaan gelisah.
"Mbak, ayo kita makan dulu, mbak Karin dari Siang belum ada makan."
__ADS_1
"Kamu duluan saja dit, mbak nungguin mes Ken."
"Baiklah, tapi jangan lupa makan ya, Adit gak mau mbak Karin sakit."
"Iya adekku yang bawel nanti kakak makan." Karin berkali-kali menghubungi Ken namun tak ada jawabannya.
Jam menunjukan pukul 22.00. Karin masih saja menunggu kedatangan suaminya. Tak lama sebuah mobil datang dengan buru-buru Karin datang menghampiri. Namun betapa terkejutnya saat melihat keadaan suaminya.
"Apa yang terjadi pada mas Ken, kenapa di acak-acakan Seperti ini?" tanya Karin yang merasa tak percaya.
"Maaf Karin, suamimu sedang mabuk berat. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Dia tiba-tiba saja menghubungiku dan memintaku menjemputnya di hotel." jelas Anton sambil membawa Ken ke kamarnya.
"Hotel, mabuk, pakaian acak-acakan. Apa yang sebenarnya terjadi pada mas Ken?" tanda tanya muncul di kepala Karin mengenai apa yang terjadi.
"Aku pikir mas Ken tadi pergi bersamamu, dia bilang ada hal penting yang ingin dia urus."
"Bersamaku, aku saja gak tahu kalau kalian sudah datang. lagian aku juga tahu diri pasti kalian lelah setelah perjalanan panjang gak mungkin aku langsung membebaninya urusan kantor. Ya udah aku pamit, kabari kalau bos sudah pulih."
"Baiklah, terimakasih sudah mengantarkan mas Ken pulang." Anton pun bergegas pulang karena hari makin larut malam.
"Kenapa kamu mulai lagi mas, apa masih kurang apa yang aku berikan. Aku butuh penjelasanmu mas, katakan jika sudah bosan padaku." Karin nampak kesal dengan suaminya dengan sedikit kasar karin menggantikan pakaian suaminya.
Setelah selesai, Karin pun memilih tidur membelakangi suaminya, namun perasaannya yang kesal membuatnya menangis.
"Apa mas Ken sudah mulai bosan denganku, apa kah aku sudah tersisih di hatinya." gumam Karin di sela tangisnya. Ternyata tangis takut membuat Ken tersadar walaupun dalam keadaan masih mabuk.
Ken mendekap tubuh Karin dari belakang dengan erat.
"Yang, kenapa malam-malam begini menangis? apa yang terjadi padamu, apa kau sakit?"
"Iya aku sakit, melihat kelakuan mas. Aku kira mas ada urusan penting ternyata di luar sana mas malah main perempuan." jelas Karin
"Apa maksudmu?" Ken membalikkan tubuh Karin untuk menghadap dirinya.
__ADS_1
"Aku gak ada main perempuan?"
"Bohong, Karin ini bukan anak kecil yang bisa mas bohongi. sudah ada buktinya mas. Apa mas gak ingat sudah main wanita di hotel bahkan cap perah masih melekat di leher mas." Ken meraba lehernya sendiri.
"Sayang aku bisa jelaskan semuanya, aku benar-benar gak ingat, saat aku sadar aku sudah ada di hotel dan itu sendirian tak ada wanita lain di sana."
"Karin sudah tahu sifat mas, Karin sudah paham, jadi jangan bohongi Karin . kalau memang mas sudah gak sayang dan sudah bosan pada Karin, katakan. Karin siap mendengarkan pernyataan itu. Lagian dari awal Karin ini hanyalah seorang budak yang mas Bili dan mas nikahi jika memang mas bosan pasti akan mas buang jauh-jauh."
"Uuuussstttt !!! jangan pernah katakan itu. kamu adalah wanitaku sampai kapanpun aku tak akan pernah bosan padamu. Aku sudah berkata jujur padamu kalau aku gak ingat apa-apa jika aku bersama wanita. Aku mohon padamu percayalah padaku hanya kamu miliki seorang." Ken mendekap tubuh Karin dan tak membiarkannya lepas dari dekapannya walaupun Karin meronta.
"Lepaskan aku mas, aku gak mau dekat-dekat dengan mas." Karin terus meronta namun Ken tetap erat memeluk Karin
Malam itu pertengkaran sepasang suami istri tak kunjung selesai, sampai ke esokkan harinya Karin masih ngambek dengan suaminya dan tak menegur suaminya yang sudah berusaha mencairkan suasana.
"Puaskan dulu amarahmu, jika sudah puas kita lanjutkan pembicaraan kita, mas gak mau masalah ini sampai terdengar di telinga Arthur atau yang lain." ucap Ken yang beranjak pergi meninggalkan Karin yang masih merias diri.
Ken lebih dulu sarapan bersama Adit karena Karin tak kunjung turun dari kamar.
"Adit apa kamu sudah siap mulai bekerja di kantor?" tanya Ken
"Sudah mas, Adit sudah mempersiapkan diri."
"Bagus. Setelah sarapan kita langsung berangkat."
"Iya mas, Oya mbak Karin mana ya kok gak ikut sarapan, dari kemaren dia belum ada makan mas Adit kuatir mbak Karin nanti sakit."
"Mbak mu lagi ngambek, sudah nanti kalau dia lapar juga makan, percuma membujuknya sekarang dia juga gak akan gubris."
"Apa kalian bertengkar?" tanya Adit dan membuat Ken tersedak.
"Tidak, kami tidak ada masalah mungkin Mbak karin mu mau datang bulan makannya cepat marah."
"Syukur lah kalau kalian baik-baik saja."
__ADS_1
Adit dan Ken pun berangkat ke kantor tanpa pamit pada Karin yang tak mau keluar kamar.