
Sesuai dengan permintaan Karin, Ken pun mengantarkan Karin ke klinik terdekat. Saat sedang menunggu antrian Karin terus memegang erat tangan Ken seolah-olah ini baru pertama kalinya buat Kari"Tenang sayang, jangan tegang. Semuanya akan baik-baik saja."
"Mas, Karin masih takut." Karin menyandarkan kepalanya di dada Ken dengan tangan yang berkeringat.
Tak lama nama Karin pun di panggil dan Ken menemaninya masuk ke dalam. Karin pun menjalani beberapa pemeriksaan dan pelepasan alat kontrasepsi yang ia pakai.
Mereka pun melakukan konsultasi agar bisa segera hamil dan dokter itu pun menjelaskan secara detail untuk program kehamilan yang akan mereka jalani.
"Kamu dengar kan apa yang di katakan dokter" ucap Ken dalam mobil setelah keluar dari klinik.
"Ya Karin dengar, tapi mas juga dengarkan kalau mas pengen Karin cepat hamil mas harus buat Karin selalu bahagia." Saut Karin
"Baiklah sayang, mas akan buat istri mas bahagia lebih dari sebelumnya, kita akan menikmati honeymoon kedua sempai sayang di nyatakan positif. Dan karena kita belum pernah pacaran kita akan melakukan selayaknya sepasang kekasih yang sedang dilanda kasmaran." Pun menggoda Karin seperti pria yang sedang merayu pacarnya.
Mereka pun pergi ke pantai menikmati sunset di padu obat yang bergulung, nyiur yang melambai dan hamparan pasir putih yang menjadi alas mereka duduk berdua.
Wajah berseri-seri, Karin nampak jelas. Karin menyandarkan kepalanya di pundak Ken dan sama-sama menikmati sunset yang begit indah.
"Makasih mas, sudah membawa Karin kemari, Alangkah beruntungnya Karin bisa memiliki suami seperti mas Ken. Karin rela melakukan apapun asal kita bisa selalu bahagia seperti ini." Ken melingkarkan tangannya di pinggang Karin dan sesekali mengecup keningnya.
"Mas juga begitu bahagia bisa memilikimu, mas gak rela jika istri satu satunya mas, di sukai bahkan di Sentuh pria lain. Jangan kecewakan mas sayang, mas gak bisa hidup tanpamu." Karin pun mengaguk.
Sambil menunggu gelapnya hari mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri tepian pantai dan bermain pasir bahkan mencari kerang-kerang kecil. mereka begitu bahagia bagai dunia milik berdua.
Mereka pun memutuskan untuk bermalam di salah satu hotel yang tak jauh dari pantai.
__ADS_1
"Mas, bisakah kita menghubungi anak-anak aku sangat merindukannya. Sejak kita di sini belum sempat untuk menanyakan kabar mereka." Ken pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor rumah. Karin yang merebahkan kepalanya di lengan Ken menunggu sampai panggilannya terhubung.
📱
"Halo pa, kapan papa dan bunda pulang Arthur sudah rindu?" tanya Arthur yang menjawab panggilan telpon.
"Mungkin, sedikit lebih lama sayang. Bagaimana dengan sekolahnya?" tanya Ken
"Arthur rajin sekolah dan ibu guru semuanya baik. pa bunda mana Arthur mau bicara." Ken pun memberikan ponselnya pada karin.
"Halo sayang, bunda kangen banget sama Arthur. Tapi maaf bunda belum bisa pulang." ucap Karin.
"Iya Bun, Arthur juga rindu. Tapi Arthur akan sabar menunggu sampai bunda bawa adik buat Arthur. Oya Bun kemarin ada yang nyariin bunda." Ucapan Arthur membuat Ken dan Karin saling bertatapan. Karin menebak itu pasti Reval begitu juga Ken namun Karin berusaha mengalihkan pembicaraan, namun Ken malah mendesak Arthur untuk berbicara.
"Katakan sayang, siapa yang mencari bunda, apa Arthur masih ingat orangnya atau namanya." tanya Ken.
Ken pun memutuskan panggilannya. Menatap tajam ke arah istrinya.
"Apa ini semua?, sedalam apapun kamu menyimpan kebohongan, pasti akan terbongkar juga. Kali ini mas tak akan marah, asalkan mulai malam ini dan detik ini kamu harus bersumpah tidak akan pernah menemui dia lagi dan mas akan membuatmu sepat hamil, agar dia sadar kalau kamu adalah istriku." tegas Ken dan membuat Karin hanya bisa tertunduk.
"Apa kamu bisa bersumpah?" bentak Ken
"Iya mas, Karin bersumpah mulai detik ini, tak akan pernah bertemu dengan mas Reval lagi, Karin akan patuh dengan semua larangan mas, tapi tolong jangan sakiti Karin." Karin terisak -isak di atas sumpahnya.
Ken langsung memeluknya dan, menenangkan istrinya."Aku pegang sumpahmu. Sudahlah jangan menangis lagi, aku tidak ingin ruang tangga yang sudah kita bisa hancur hanya gara-gara pria brengsek itu."
__ADS_1
Ken pun, pergi ke balkon kamar yang langsung di sajikan luasnya kolam renang sejenak untuk menghubungi Anton.
📱
"Ada apa pak, malam-malam menghubungi saya?" tanya Anton.
"Carikan orang untuk mengawasi, anak-anak sepetinya si brengsek itu sudah mulai bertindak makin jauh, aku gak mau sampai anak-anak kenapa-kenapa."
"Baiklah pak, akan saya laksanakan. Oya, Saya juga mendapatkan info, kalau Reval beraksi tidak sendiri dia di bantu adiknya. Dan lebih parahnya dia bekerja di perusahaan kita. mungkin dialah yang ada di belakang dari pencurian data-data perusahaan. Dan ada tiga orang yang masih saya selidiki dan pastinya salah satu itu adalah adiknya Reval."
"Terus, selidiki dan bergerak lebih cepat, aku gak mau sampai dia berhasil mempermainkan ku, keluarga dan juga perusahaanku." kabari terus jika ada perkembangan terbaru." Ken geram dengan pergerakan Reval yang mulai jauh masuk kedalam. Ken mencengkeram ponselnya dengan kuat. Amarahnya buyar saat Karin memanggil dirinya.
"Mas ... " panggil karin dan Ken segera kembali menghampiri Karin yang memanggil dirinya.
"Mas tolong, rambut Karin tersangkut di resleting baju, sakit mas tolong lepaskan." Karin berusaha melepas sendiri namun tak bisa.
"Bagaimana ini bisa terjadi? makanya kalau mau melepas resleting baju, rambutnya di sisihkan dulu." Ken berusaha melepaskan rambut-rambut Karin yang tersangkut, namun sayang terlalu banyak yang melilit.
"Ini harus di potong rambutnya biar bisa lepas, mas sudah berusaha melepaskannya tapi susah."
"Enggak, Rambut Karin gak boleh di potong, mas harus bisa melepaskannya, pokoknya Karin gak mau tahu, harus bisa lepas rambut Karin." Karin meringis kesakitan seperti orang kena Jambak.
"Sayang sendiri yang buat, ulah kenapa marahnya sama mas, kalau menurut mas ini harus di potong. Bentar biar mas ambilkan gunting." goda Ken
"Gak mau, pokoknya mas harus lepasin rambut Karin tanpa harus dipotong." Karin begitu sayang dengan rambut panjangnya sampai tak rela Ken memotongnya.
__ADS_1
Tanpa Karin sadari Ken hanya bercanda dan sebenarnya rambutnya bisa di lepas dengan mudah.
Ken mengambil gunting dan berpura-pura menggunting rambut Karin hingga membuat Karin menangis seu