Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
sedikit konslet


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Ken Sudah di izinkan pulang, dan mama Vika meminta Ken dan Karin tinggal dirumahnya agar bisa memantau perkembangan Ken.


Sebelum pergi Karin menyempatkan diri untuk memeriksakan kandungan yang sudah berinjak tiga bulan dan memastikan kondisi janinnya sehat.


Butuh waktu yang lama untuk sampai ke rumah, Karin yang sudah terlalu lelah tertidur di mobil hingga sampai di rumah mama Vika.


"Ken kamu masuk saja dulu biar Rafael yang gendong adikmu masuk."


"Biar Ken aja ma, Ken dan baik-baik aja, lagian kasian kalau Tiara sampai terbangun." Ken ngotot untuk ngangkat tubuh Karin.


Karin kembali menempati kamar yang pernah ia tinggali sebelumnya, saat dirinya pertama kali menginjakkan kaki di rumah mama Vika.


Ken meletakkan tubuh Karin,di ranjang dan menyelimutinya.


Saat Ken akan keluar kamar, Karin mengigau.


"Mas ken, ini aku Karin. Aku Karin istri mas." ucap Karin dari alam bawah sadarnya.


"Siapa yang Tiara sebut itu, apa dia yang menghamili Tiara." gumam Ken sebelum meninggal Karin.


Ken kembali ke kamarnya. Rafael datang menghampiri Ken.


"Abang tunggu dulu."


"Ada apa?"


"Ini obat Abang dari dokter jangan lupa diminum, kalau Abang ngerasa sakit atau apa panggil Rafael ya" ucap Rafael dan Ken mengangguk.


"Rafael... tunggu!"


"iya ada apa bang?"


"Yang Tiara panggil mas Ken itu siapa, saat dia mengigau tadi."


"Mana aku tahu, Abang tanya aja langsung Sama kesayangan Abang, lagian Abang sendiri namanya juga Kenzo. Udah gak usah di pikirin." Rafael pun pergi kekamar nya.


________


Ke esokkan harinya Karin bangun lebih awal dan membantu menyiapkan menu sarapan pagi. Sebelum mengerjakan kesibukan masing-masing.


Rafael sudah bersiap untuk ke kantor, mama Vika ada kegiatan bersama ibu-ibu sosialita, sedangkan Ken masih menjalani proses pemulihan.


"Karin, panggil Ken turun untuk sarapan," perintah mama Vika.

__ADS_1


"Iya ma," Karin segera melepas celemek yang masih di pakainya dan segera membangunkan Ken.


"Kak, bangun... mama sudah nungguin kita sarapan." Karin menggoyang tubuh Ken agar bangun.


"Nanti aja, aku malas bangun, masih ngantuk."


"Jangan gitu kak, biasanya kakak gak pernah bangun siang, malah bangun pagi-pagi sebelum aku bangun. Ayolah kak bangun."


"Iya-iya, kakak bangun. Duluan sana turun, Kakak masih mau mandi, kalau kalian mau sarapan duluan aja, aku belakangan gak papa." Ken mengecup kening Karin dan beranjak turun dari kamar dan mandi.


Karin bergegas turun, takut mama Vika menunggu.


"Ma, kata mas Ken suruh sarapan duluan aja, mas Ken mau mandi dulu soalnya baru bangun."


"Ya udah ayo sarapan, kelamaan nungguin Ken."


"Mama sama Rafael duluan saja sarapannya, Karin nungguin mas Ken dulu."


Setelah selesai mama Vika dan Rafael pergi, sedangkan Ken hampir satu jam belum juga turun dari kamar.


Karin yang dari tadi menunggu di meja makan dengan mata selalu menuju pintu kamar Ken.


Tak lama ken muncul dengan penampilan sangat berbeda membuat mata Karin melotot memandangi penampilan Ken.


"Kakak mau kemana, kenapa pakaiannya kaya gitu, biasanya kakak selalu berpenampilan rapi." Ken memakai kaos hitam celana jins robek sepatu sport dan membawa Hoodie dan tak lupa jam tangan selalu di pakai.


"Ayolah dek, hidup tu harus happy, lagian kakak kan masih jomblo."


"Ya ampun, selain amnesia, otak suamiku ini sepertinya sedikit konslet, masa otaknya merespon kalau dirinya 10 tahun lebih muda, padahal usianya sudah kepala tiga lebih." gumam Karin sambil terus memperhatikan suaminya.


"Terserah kakak lah. yang penting sekarang makan dan minum obat, kalau mau jalan-jalan aku ikut, kakak gak boleh pergi sendiri," ucap karin sambil mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Ngapain juga ikut, kakak kan mau lihat-lihat cewek."


"Gak boleh, kakak gak boleh lirik-lirik cewek." bentak Karin dan Ken langsung terdiam.


"Baiklah, kakak ini hanya untuk Tiara tersayang."


Karin, mencoba menahan air matanya, mencoba tegar dengan semua cobaan yang di hadapi dalam keluarganya , di depannya adalah suaminya, namun tak mengenal dirinya sebagai istrinya sendiri.


"Selesaikan sarapannya aku ganti baju dulu, jangan kemana-mana." Karin bersikap tegas terhadap suaminya sendiri yang otaknya sedikit konslet.


Karin tak membutuhkan waktu lama untuk bersiap diri, dan tak lupa minum vitamin untuk menjaga kandungannya juga agar tak cepat lelah.

__ADS_1


Setelah turun Karin tak mendapati Ken ada di meja makan. Karin buru-buru mencari Ken keluar namun mobilnya masih terparkir, tanya dengan pelayan rumah gak tahu juga keberadaan Ken. Karin mulai bingung berkeliling rumah namun tak mendapatkan Ken juga.


"Kak Ken, kakak dimana, jangan main petak umpet, aku sudah capek mencari kakak. Ayolah kak keluar." panggil-panggil Lia namun tak ada respon juga dari Ken.


Karin yang lelah, mengambil air minum. Namun ada yang aneh kakinya seperti ada yang meraba-raba hingga Karin tersedak.


Di lihatnya di kolong meja, berapa kagetnya dirinya dengan apa yang di lihat.


"Kak, ngapain kakak di kolong meja. Ayo keluar." Karin pun membimbing suaminya keluar. Karin langsung saja menangis dan memeluk suaminya dengan erat.


"Napa dek menangis, kakak cuma main-main aja."


"Jangan di ulangi lagi kak, aku benar-benar takut kehilangan kakak, aku ingin kakak cepat pulih dan ingat semuanya, aku gak tega melihat kakak seperti ini, ini semua salahku kak." Karin menangis tersedu-sedu.


"Sudah jangan nangis, kita jadi jalan-jalan gak."


"Iya jadi, tapi diantar supir ya." Karin merapikan pakaian suaminya yang sedikit berantakan."


Ken memegang kalung yang Karin pakai, dan dirinya merasa tak asing dengan kalung itu.


"Kalung ini?"


"Apa kakak ingat, kalung ini adalah hadiah kakak saat aku mau pulang yang pernah kakak selipkan di dalam koperku." Jelas Karin dan membuat kelapa Ken sedikit pusing.


Ken memegang kepalanya langsung duduk di kursi.


"Kakak kenapa, kepala kakak sakit?" Karin nampak cemas


"Kepala kakak pusing, seperti terlintas sesuai di ingatan kakak. Tapi gak papa, kakak masih kuat. Ayo pergi sekarang."


"Kakak beneran gak papa, kalau sakit kita tunda dulu ya, kakak istirahat aja dulu."


"Beneran dek kakak gak papa, cuma pusing sedikit. Gak usah kuatirkan kakak."


Ken pun tetap memaksa untuk pergi, dan Karin hanya bisa menuruti dan mengawasi suaminya.


Ken pergi ke mall tempat tujuan dari awal dengan di antar supir dan di awasi Karin.


"Sebenarnya kakak, mau cari apa sih pergi ke mall, kok gak bisa di tunda besok-besok."


"Lihat aja nanti apa yang mau kakak cari, kamu diam aja ikuti kakak dan jangan melarang kakak."


Karin hanya bisa menurut dan mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2